Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Imam Ridha as

Berdebatlah dengan orang yang berakal 2

Berdebatlah dengan orang yang berakal 2

Ketika ia tiba dan mendapati Imam sedang melakukan ṭawaf di Ka‘bah, ia mendekat lalu memberi salam.  Imam bertanya kepadanya: “Siapa namamu?”  Ia menjawab: “Abdul Malik.” 

Baca Yang lain

Memerdekakan Seribu Budak

Memerdekakan Seribu Budak Sepanjang hidupnya, Imam ar-Ridha dikenal banyak memerdekakan budak, yang disebutkan jumlahnya mencapai seribu. Beliau punya kebiasaan unik: setiap kali bersumpah dengan kalimat “demi pemerdekaan” (kalimat sumpah yang bermakna pembebasan), beliau langsung membebaskan seorang budaknya—hingga semua budaknya merdeka.   

Baca Yang lain

Turun dari Kuda untuk Jenazah Seorang Pengikut

Turun dari Kuda untuk Jenazah Seorang Pengikut Nabi Saw dan Keluarganya as Yang Tak Dikenal  Musa bin Sayyar bercerita: aku menemani Imam ar-Ridha dalam perjalanannya ke Khurasan. Ketika kami mendekati Thus dan tembok kota mulai terlihat, terdengar suara tangisan. Aku mengikuti suara itu—ternyata sebuah pengantaran jenazah.   

Baca Yang lain

Hari ‘Arafah: Memberikan Seluruh Harta

Hari ‘Arafah: Memberikan Seluruh Harta Pada hari ‘Arafah, ketika beliau berada di Khurasan, Imam ar-Ridha memerintahkan agar seluruh harta yang ada padanya dibagikan kepada para fakir miskin. Al-Fadhl bin Sahl, perdana menteri Ma’mun, menyaksikannya dan memberikan komentar tajam: “Ini kerugian!”    

Baca Yang lain

Memperbaiki Sendiri Lampu untuk Tamu

Memperbaiki Sendiri Lampu untuk Tamu Seorang tamu datang dan menginap hingga malam di rumah Imam ar-Ridha. Tiba-tiba terjadi gangguan pada lampu kamar. Tamu itu berdiri hendak memperbaikinya.

Baca Yang lain

Sedekah dari Balik Tirai: Menjaga Wajah Peziarah Khurasan

Sedekah dari Balik Tirai: Menjaga Wajah Peziarah Khurasan Seorang lelaki yang menemui Imam ar-Ridha di Khurasan. Ia berkata, “Aku adalah salah seorang pencintamu dan keluarga Nabi. Aku baru pulang dari haji, tetapi sekarang tidak memiliki bekal untuk pulang. Berilah aku secukupnya, dan ketika aku tiba di kampung halaman, aku akan menyedekahkan jumlah yang sama atas namamu. Aku bukan orang miskin di rumah, hanya kehabisan biaya dalam perjalanan.”    

Baca Yang lain

Di Pemandian Umum: Sang Imam Melayani Seorang Prajurit

Di Pemandian Umum: Sang Imam Melayani Seorang Prajurit Suatu hari di pemandian umum (hammam), seorang prajurit yang tidak mengenal Imam ar-Ridha meminta beliau untuk menyiramkan air ke kepalanya. Imam ar-Ridha pun menuruti permintaan itu dengan tenang.    

Baca Yang lain

Sumpah Kesetaraan dengan Budak Berkulit Hitam

Sumpah Kesetaraan dengan Budak Berkulit Hitam Ibrahim bin al-‘Abbas ash-Shuli juga meriwayatkan sumpah istimewa Imam ar-Ridha. Setiap kali Imam mengucapkan sumpah tertentu, beliau memerdekakan seorang budak, hingga akhirnya semua budaknya menjadi merdeka.    

Baca Yang lain

Satu Meja Tanpa Diskriminasi: Riwayat Penduduk Balkh

Satu Meja Tanpa Diskriminasi: Riwayat Penduduk Balkh Seorang lelaki dari Balkh berkata:  Aku menemani Imam ar-Ridha dalam perjalanan ke Khurasan. Suatu hari Imam membentangkan alas makan dan memanggil semua pelayan—apa pun kedudukannya, termasuk yang berkulit hitam—untuk duduk makan bersama.    

Baca Yang lain

Keseharian Yang Teramat Indah dan Mulia

Keseharian Yang Teramat Indah dan Mulia Ibrahim bin al-‘Abbas ash-Shuli, seorang sahabat dekat dan saksi mata, menceritakan keseharian Imam ar-Ridha seperti ini:  Aku tidak pernah melihat beliau berbicara kasar kepada siapa pun. Beliau juga tidak pernah memotong pembicaraan orang lain, dan tidak pernah menolak permintaan yang mampu beliau penuhi.    

Baca Yang lain

Imam Ridha as: Syahid di Jalan Kebenaran, Hidup dalam Cinta Abadi (1)

Imam Ridha as: Syahid di Jalan Kebenaran, Hidup dalam Cinta Abadi (1) Hari kesyahidan Imam Ali bin Musa al-Ridha as (148–203 H) merupakan salah satu lembaran paling getir dalam sejarah Ahlulbait Nabi saw. Imam kedelapan yang dikenal dengan gelar Ridha—yang diridhai Allah dan Rasul-Nya—menjadi korban kezhaliman penguasa Abbasiyah, Khalifah al-Ma’mun. Di balik racun yang merenggut nyawanya, tersimpan kisah panjang perjuangan seorang imam suci dalam mempertahankan risalah Islam yang murni. [Al-Mufid, al-Irsyad, jilid 2]  

Baca Yang lain

Imam Ridha as: Syahid di Jalan Kebenaran, Hidup dalam Cinta Abadi (2)

Imam Ridha as: Syahid di Jalan Kebenaran, Hidup dalam Cinta Abadi (2) Meski digiring ke istana dan dijadikan “simbol politik,” Imam Ridha as tidak pernah tunduk kepada ambisi duniawi. Beliau tetap hidup sederhana, dekat dengan rakyat jelata, bahkan dikenal sering duduk dan makan bersama para budak. Ketika seorang lelaki di pemandian umum meminta beliau untuk memijat tubuhnya—tanpa tahu siapa beliau—Imam Ridha as menuruti permintaan itu. Setelah orang-orang mengabarkan bahwa yang memijat adalah putra Rasulullah, Imam justru menenangkan lelaki itu agar tidak malu. [Ibnu Syahr Asyub, Manaqib Al Abi Talib, jilid 4]  

Baca Yang lain

Zuhud dan Kesederhanaan Hidup Imam Ali Ridha a.s.

Zuhud dan Kesederhanaan Hidup Imam Ali Ridha a.s. Zuhud adalah suatu kondisi perilaku dan akhlak yang dibangun di atas fondasi akidah yang kokoh, pandangan rabbani yang luhur, serta penilaian imani yang benar terhadap nilai kehidupan, kenikmatan, dan kesenangannya. Zuhud bukan sekadar meninggalkan dunia, melainkan sebuah metode hidup yang mencerminkan kedalaman spiritual dan kesadaran akan tujuan hidup yang hakiki.

Baca Yang lain

Warisan Intelektual Imam Ali Ridha as (2)

Warisan Intelektual Imam Ali Ridha as (2) Tauhid atau keesaan Tuhan adalah tema sentral dalam ajaran Imam Ridha as. Beliau menjelaskan hakikat tauhid dengan pendekatan logis dan menyentuh hati. Dalam satu riwayat, seorang bertanya kepada beliau, “Apa bukti bahwa alam ini bersifat baru?” Imam menjawab: “Sebelumnya kamu tidak ada, sekarang kamu ada. Maka ketahuilah, Allah-lah yang menciptakan ‘di mana’ tanpa tempat, dan menetapkan ‘bagaimana’ tanpa bentuk.”

Baca Yang lain

Warisan Intelektual Imam Ali Ridha as (1)

Warisan Intelektual Imam Ali Ridha as (1) Dari Marw hingga Masyhad, dari diskusi ilmiah hingga karya tulisnya, Imam Ridha as telah menunjukkan bahwa ilmu adalah senjata para wali Allah. Warisan intelektual beliau tetap hidup, membimbing hati yang jujur dan akal yang jernih menuju cahaya kebenaran Ahlulbait.

Baca Yang lain

Taqiah Imam Ridha a.s,: Akal dan Hati Menjadi Pilar Jalan Ilahi

Taqiah Imam Ridha a.s,: Akal dan Hati Menjadi Pilar Jalan Ilahi Dia (Musa) menjawab, “Ini adalah tongkatku; aku bersandar padanya, dan aku pukul daun-daun dengannya untuk kambingku, dan bagiku ada lagi manfaat-manfaat lain padanya.” Karena begitu nikmatnya berdialog dengan Sang Kekasih, beliau tak ingin segera menyudahi.[]

Baca Yang lain

Hadis Silsilah Emas: Puncak Otoritas Spiritual dan Intelektual

Hadis Silsilah Emas: Puncak Otoritas Spiritual dan Intelektual Salah satu warisan paling monumental dari Imam ar-Ridha as adalah riwayat yang dikenal sebagai silsilah dzahabiyyah (mata rantai emas). Riwayat ini disampaikan Imam ketika melakukan perjalanan paksa dari Madinah ke Khurasan. Saat tiba di Naisabur, kota para pelajar agama, Imam disambut oleh para ulama, ahli hadis, dan para penuntut ilmu.

Baca Yang lain

Kelahiran Imam dalam Kehidupan Umat

Kelahiran Imam dalam Kehidupan Umat Imam Ali ar-Ridha a.s, lahir pada 11 Dzulqa’dah, sebuah hari yang menjadi bagian penting dalam kalender Islam. Momen-momen seperti ini merupakan kekayaan sejarah dan spiritual yang dapat dimanfaatkan untuk menguatkan relasi dan hubungan batin kita dengan para Imam Maksumin as.  

Baca Yang lain

Kelahiran Imam Ali Ar-Ridho as dalam Konteks Sejarah

Kelahiran Imam Ali Ar-Ridho as dalam Konteks Sejarah Imam Ali bin Musa bin Ja‘far a.s., yang lebih dikenal sebagai Imam Ali ar-Ridha a.s. (148–203 H), merupakan Imam kedelapan dalam mazhab Syiah Itsna Asyariyah. Beliau memegang tampuk kepemimpinan selama 20 tahun: 10 tahun pada masa kekuasaan Harun al-Rasyid, 5 tahun pada masa Muhammad Amin, dan 5 tahun pada masa kekhalifahan Ma’mun.

Baca Yang lain

Imam Ali Ridha a.s.: Simbol Cinta dan Kepedulian

Imam Ali Ridha a.s.: Simbol Cinta dan Kepedulian Imam Ali Ridha a.s. adalah sosok dengan akhlak yang luhur, kelembutan hati, dan kasih sayang yang meliputi semua orang, baik rakyat biasa, ulama, maupun para pembantunya. Sikapnya yang penuh kelembutan dan kebijaksanaan membuatnya dihormati oleh semua kalangan.

Baca Yang lain