Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Ketika Alhamdulillahirobbil alamin Menemukan Misdaqnya

1 Pendapat 05.0 / 5


اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

Alhamdulillahirobbil alamin

Segala pujian bagi Allah Tuhan Semesta Alam

Pada dasarnya secara umum disebutkan bahwa segala pujian milik Allah yakni segala bentuk pujian yang ditujukan baik kepada Allah atau kepada makhluk maka sesungguhnya itu adalah pujian kepada Allah SWT. Pernyataan ini tidak penulis tolak, namun menurut hemat penulis ada hal lain yang diisyaratkan oleh pujian ini. Isyarat kepada sesuatu yang jauh lebih penting dari sekedar mengetahui bahwa semua pujian itu sebenarnya kembali kepada pencipta utama dan pertama, sumber dari segala sebab.

Kita tahu bahwa Rasulallah saw juga mengetahui bahwa sebagian orang yang mengaku sebagai sahabat dari Muhajirin atau Anshar adalah orang-orang munafik. Dalam sejarah kita tidak pernah menemukan bukti bahwa Rasulallah telah menghukumi seorang pun dengan ilmu basyirah yang beliau miliki, tidak serta merta menghukum seseorang kecuali secara lahiriah sudah terbukti melakukan pelanggaran. Beliau berinteraski dengan masyarakat dengan konsep lahiriah yang bisa ditakar dengan hukum syariah, , beliau menghukumi secara lahiriah saja, orang munafik tidak akan dihukum dengan syariat kecuali mereka telah melanggar syariat yang ada.

Ayat dari surat alfatihah ini sebenarnya memberikan isyarat kepada kita kepada hal besar dalam kehidupan ini, hal itu diantaranya adalah sebagai berikut:

Sekarang ini kita tahu bahwa banyak orang mencari pujian. Mereka berbuat dari hal yang paling unik, nyentrik, menakutkan, ekstrim, bahkan hal-hal gila serta diluar nalar. Perbuatan yang dilakukan didepan kamera di era digital dilakukan dalam bentuk dua dimensi maupun tiga dimensi. Semua itu kebanyakan adalah untuk satu tujuan yaitu untuk mendapatkan perhatian orang lain, untuk mendapatkan pujian dari orang.

Disini kita tidak sedang membahas sifat pamer atau ria, tapi membahas pujian yang dikumpulkan manusia, diberikan dari manusia kepada sesama manusia, dari manusia untuk dirinya sendiri. Seperti contoh yang kita sebutkan sebelumnya dari orang-orang yang ingin viral menggunakan kamera dan media masa. Perlu ditekankan disini bahwa pujian yang ditujukan dan diperuntukkan serta diberikan kepada teman kita berarti bukan milik orang selainnya. Mereka hanyalah Orang-orang yang berbuat riya[1]. Logis jika disebut bahwa pujian yang tidak ditujukan kepada Allah maka tidak bisa kita anggap bahwa pujian itu untuk Allah, milik Allah SWT.

Alhamdulillahir robbil alamin

Mengisyaratkan sebuah kemenangan dan akan tersebarnya Islam secara menyeluruh, secara robbul alamin, yakni menyeluruh meliputi seluruh bumi. Ketika kita telisik dalam sejarah peradaban manusia hingga sekarang ini. Islam yang awalnya hanya di Mekah dan Madinah sekarang sudah menyebar ke berbagai penjuru dunia. Alhamdulillahi robbil alamin, sampai sekarang islam memang sudah tersebar keberbagai penjuru dunia, namun itu hanya sebagian saja, orang islam sendiri banyak yang masih abangan, hanya beragama islam secara lisan saja, keberagamaan islam diketahui hanya dari kartu penduduk mereka saja, sedang mereka tidak pernah memuji dan mengagungkan Allah SWT. Ajaran Islam juga belum secara menyeluruh diamalkan di berbagai ranah kehidupan. Ada negara-negara yang mengaku berlandaskan agama Islam tapi secara riil belum bisa mendapatkan dukungan dari masyarakat secara utuh, akibatnya masih banyak ketimpangan yang mudah ditemukan ditengah-tengah masyarakat. Jadi masyarakat belum secara menyeluruh sadar. Jadi belum pernah terjadi semua manusia memuji Allah, merealisasikan bahwa segala pujian ditujukan kepada Allah, segala pujian hanya milik-Nya.

Kenyataan adalah bahwa semua yang disebutkan Allah dalam Quran itu tidak ada unsur keragu-raguan apalagi kebohongan semua adalah hal yang pasti, tidak ada keraguan didalamnya.[2] Mari kita telaah ayat-ayat lain yang mendukung bahwa suatu ketika alam ini akan penuh dengan tasbih kepada Allah SWT.
للهِ مَا فِي السَّمَاواتِ وَمَا فِي الأَرْضِ…….

Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi……[3]

Ayat ini juga mendukung argumentasi kita bahwa ada sebagian hal yang belum menjadi milik-Nya, dalam pembahasan diatas adalah pujian yang tidak ditujukan untuk Allah SWT maka disebut bukan milik-Nya.

Ayat berikut ini juga menjadi pendukung apa yang ingin kami sampaikan di kesimpulan nanti.

Bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi; hanya Allah lah yang mempunyai semua kerajaan dan semua pujian, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu[4]

Yusabbihulillahi ma fis samawati wal ardhi, bertasbih mensucikan Allah segala yang ada dilangit maupun dibumi. Ayat ini juga mendukung bahwa hal ini belum pernah terjadi secara universal. Adanya sebagian besar manusia yang bahkan tidak mengenal Allah SWT. Ada dari mereka yang bahkan membenci Tuhan, membenci agama-agama, membenci agama Islam hingga kematian menjemput mereka.[5] Jelas mereka adalah contoh orang-orang yang tidak bertasbih mensucikan Allah SWT. Di jaman ini juga sama, kita bisa menemukan orang-orang yang sama seperti mereka, yang jelas hingga sekarang belum pernah bertasbih mensucikan Allah SWT.

Kesimpulan:

Ayat Alhamdulillah…, ayat segala sesuatu milik Allah SWT. Adalah ayat-ayat yang membuktikan bahwa suatu saat nanti akan ada suatu pemerintahan yang sesuai kehendak Allah SWT, pemerintahan yang diridhai-Nya. Masyarakat dan alam semesta dipemerintahan itulah misdaq asli dari ayat alhamdulillah, yusabihulillah maupun lillahi ma fissamawati wal ardh.

Pemerintahan yang dijanjikan Allah SWT:
وَ نُرِيْدُ أَنْ نَمُنَّ عَلَى الَّذِيْنَ اسْتُضْعِفُوْا فِي الْأَرْضِ وَ نَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةً وَ نَجْعَلَهُمُ الْوَارِثِيْنَ

“Dan Kami ingin memberikan anugrah kepada orang-orang yang tertindas di muka bumi ini, menjadikan mereka para pemimpin, dan menjadikan mereka sebagai para pewaris.”[6]

Pemerintahan itu adalah pemerintahan Imam Mahdi ajf. Imam Zaman yang akan Zuhur ketika waktunya sudah tiba.

CATATAN:

[1] QS Al-maun ayat 6. Riya ialah: Melakukan sesuatu amal tidak untuk keridhaan Allah tetapi untuk mencari pujian atau popularitas di masyarakat.

[2] QS Al-Baqarah ayat 2.

[3] QS Al-Baqarah ayat 284.

[4] At Taghabun ayat 1.

[5] Seperti Kan’an, Firaun, Qarun, Haman dll.

[6] Surah al-Qashash ayat: 5.