Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Sayidah Khadijah, Istri Tercinta dan Cinta Sejati Rasulullah saw Bag 2

0 Pendapat 00.0 / 5

Artikel ini lanjutan dari bagian pertama mengenai “Sayidah Khadijah, Istri Tercinta dan Cinta Sejati Rasulullah saw” oleh Euis Daryati, Lc. MA. dengan subtema; Nasab dan Kemuliaan Sayidah Khadijah as, Pembela Kaum Lemah, Kekayaan Sayidah Khadijah as, Status Sayidah Khadijah Sebelum Menikah dengan Nabi Muhammad saw dan Perkenalan Sayidah Khadijah dengan Nabi Muhammad saw sebagai berikut;

Pernikahan Sayidah Khadijah as dan Nabi Muhamad saw

Setelah mengetahui keajaiban dan keistimewaan yang terjadi pada Nabi Muhamad saw, juga keberhasilan luar biasa yang telah dicapainya, dan keluhuran-keluhuran perilakunya selama perjalanan niaganya, tumbuhlah rasa cinta Sayidah Khadijah as terhadap Nabi Muhamad saw. Sayidah Khadijah as tertarik kepada Nabi Muhamad saw, menurutnya beliau bukanlah orang biasa, namun orang yang sangat mulia dan memiliki derajat yang agung. Terbesit pada diri Sayidah Khadijah ingin menikah dengan Nabi Muhamad saw.[1]

Karena itu, berdasarkan pendapat masyhur, sebab pernikahan Nabi Muhamad saw dengan Sayidah Khadijah as ialah karena keajaiban dan keistimewaan yang terjadi selama perjalanan niaganya serta keberhasilannya, juga semua keluhuran sifatnya yang menunjukkan keagungan pribadinya dan kemuliaan sifatnya.

Adapun terhubungnya Sayidah Khadijah kepada Nabi Muhamad saw untuk pernikahannya, terdapat beberapa pendapat dalam hal ini;

Sebagian sejarawan mengatakan melalui perantara Nafisah, teman dekat Sayidah Khadijah as. Suatu hari, Sayidah Khadijah as tengah termenung memikirkan tentang keajaiban dan keistimewaan yang terjadi pada Nabi Muhamad saw dan semua keagungannya. Ia tidak dapat menyembunyikan semua perasaan ketertarikan hatinya kepada Nabi Muhamad saw. Tiba-tiba masuklah Nafisah, teman dekatnya melihat kondisi Sayidah Khadijah as seperti itu. Sayidah Khadijah as berusaha menyembunyikan semua perasaannya, dan berusaha tampil wajar.  Namun Nafisah tidak dapat dibohongi, ia sangat kenal betul Sayidah Khadijah as. Karena kedekatannya ia dapat memahami dan mengetahui semua perasaan sahabatnya itu.  Nafisah terus berusaha mengorek rahasia sahabatnya yang senantiasa berusaha untuk menutupinya, sampai akhirnya dapat mengetahuinya.

“Wahai Khadijah, jangan engkau siksa dirimu karena kesedihanmu. Ini hal yang mudah, aku berjanji padamu akan berbicara dengannya tentang cinta tulusmu ini. Yakinlah, aku akan berusaha membantumu semampuku.”[2]

Nabi Muhamad saw dalam kesendiriannya senantiasa bertafakur merenungkan tetang Allah Swt, manusia dan alam semesta. Paman tercintanya, Abu Thalib yang senantiasa menemaninya dengan penuh kasih sayang, baik dalam keadaan sedih maupun senang.

Suatu hari, Nafisah menemui beliau dalam kondisi beliau sedang bertafakur. Nafisah mengucapkan salam kepada Nabi Muhamad saw, dan memulai pembicaraannya.

“Wahai Muhamad, usiamu sudah melampaui dua puluh tahun dan engkau masih sendiri, kenapa engkau tidak berniat untuk menikah?”

Nabi Muhamad saw terdiam tidak menjawab. Beliau menundukkan kepalanya dan kembali merenung. Nafisah tidak diam begitu saja saat melihatnya seperti itu. Ia terus melanjutkan pembicaraannya hingga akhirnya Nabi Muhamad saw menjawab dengan tersenyum malu.

“Aku tidak memiliki harta yang cukup untuk melakukan ini…”

Kesempatan ini diambil Nafisah untuk menyampaikan tujuan kedatangannya dan mengenalkan Sayidah Khadijah untuk dinikahinya.

“Apa yang dapat aku sampaikan, bagaimana jika aku kenalkan seorang perempuan baik dan terhormat kepadamu untuk menjadi istrimu? Dia adalah Khadijah, perempuan Quraisy, tidak ada seorang perempuan Quraisy dan Mekah pun yang menyamainya.”

Nabi Muhamad saw menyetujui usulan Nafisah, kemudian beliau menyampaikan hal tersebut ke Abu Thalib, pamannya.[3]

Abu Thalib senantiasa memikirkan kebahagiaan keponakannya. Beliau juga meyakini akan masa depan keponakannya yang akan menjadikan manusia agung. Karena itu, beliau menyetujui pernikahannya dengan Sayidah Khadijah as. Di kesempatan lain, Abu Thalib bersama Hamzah dan Nabi Muhamad saw pergi menuju rumah Sayidah Khadijah as untuk membicarakan tentang persiapan pernikahan Nabi Muhamad saw dengan Sayidah Khadijah as.

Setelah semua persiapan selesai, Sayidah Khadijah as pun dilamar Nabi Muhamad saw, dan dinikahinya. Abu Thalib membacakan khutbah nikah mereka. Nabi Muhamad saw dan Sayidah Khadijah pun resmi menjadi suami-istri. Allah swt berkehendak mereka hidup berdampingan. Disebutkan dalam riwayat bahwa setelah selesai acara Nabi Muhamad hendak pergi bersama Abu Thalib. Saat itu Sayidah Khadijah as dengan penuh sopan santun mengatakan, “Selamat datang di rumahmu. Ini adalah rumahmu, dan sekarang aku juga adalah pelayanmu.”[4]

Sebagian ada yang berpendapat bahwa sebab pernikahan Nabi Muhamad saw dengan Sayidah Khadijah as bukanlah perjalanan perniagaan Nabi Muhamad saw, juga bukan karena perantara Nafisah. Tapi yang menjadi perantara ialah Halal, bibinya Sayidah Khadijah as, atas permintaan Sayidah Khadijah as sendiri. Telah dinukil dari Amar bin Yasir yang mengatakan, “Aku yang lebih tahu dari yang lainnya tentang pernikahan Nabi Muhamad saw dan Sayidah Khadijah, karena aku sangat dekat dengan beliau. Suatu hati aku bersama Nabi Muhamad saw mengitari ke Shafa dan Marwa. Tiba-tiba kami bertemu Khadijah bersama Halah, saudarinya. Saat melihat kami, Halah pun datang mendekatiku. Ia menanyakan kepadaku pendapat Nabi Muhamad saw tentang  pernikahannya Khadijah. Kemudian aku pun menyampaikan hal tersebut kepada Nabi Muhamad saw. Beliau meminta waktu khusus untuk membicarakan masalah tersebut.

Karena waktu yang ditentukan tiba, Sayidah Khadijah as pun mengirim orang untuk menjemput pamannya, Amru bin Asad. Saat tiba di rumahnya, ia pun disambutnya dengan hormat dan dikenakan gaun yang istimewa. Tak lama kemudian, Nabi Muhamad saw pun datang bersama beberapa pamannya termasuk Abu Thalib. Acara pernikahan pun dimulai, Abu Thalib membacakan khutbah nikah untuk mereka dan akad nikah pun dilaksanakan.”

Amar bin Yasir melanjutkan, “Sebelum pernikahan ini, Khadijah tidak pernah mempekerjakan Nabi Muhamad saw, juga Nabi Muhamad saw tidak pernah disewa orang untuk dipekerjakan.[5]

Sebagian lagi berpendapat bahwa sekembalinya Nabi Muhamad saw dari perniagaan ke Syam, dan cerita-cerita Maisaroh tentang semua peristiwa menakjubkan yang terjadi pada Nabi Muhamad saw perjalanan tersebut, Sayidah Khadijah as pun langsung menyampaikan keinginannya untuk dinikahinya. Di antara faktor tersebut adalah; kabar tentang kemunculan Nabi terakhir di kalangan orang-orang Quraiys melalui pembesar-pembesar Yahudi dan Nasrani, mimpi Sayidah Khadijah as dan takbirnya melaui anak pamannya, mukjizat-mukjizat Nabi Muhamad selama perjalanan niaga ke Syam. Ternyata Nabi Muhamad saw pun menyetujuinya, dan tidak lama setelah itu beliau berdua pun menikah[6]

 Sayidah Khadijah as dan Kenabian Nabi Muhamad saw

Setelah pernikahan Sayidah Khadijah as dan Nabi Muhamad saw memulai kehidupan rumah tangga yang sakinah. Sayidah Khadijah as sangat memahami kedudukan seorang istri bagi seorang suami. Beliau tidak pernah menghalangi aktifitas Nabi Muhamad saw, bahkan mendukungnya dengan sepenuh hati. Dengan berlalunya waktu, kebesaran Nabi Muhamad saw pun bergaung di seluruh penjuru Mekah. Beliau terkenal karena kedermawanannya, keluhuran prilakunya, kepeduliannya kepada sesama, kejujurannya yang membuat khalayak banyak yang simpati padanya.

Sayidah Khadijah as senantiasa mendapatkan suaminya sibuk beribadah. Bahkan, terkadang saat tiap ada kesempatan Sayidah Khadijah as melihat suaminya pergi ke goa Hira untuk berkhalwat dan beribadah. Juga, Nabi Muhamad saw pun mencela kaumya yang memiliki pemikiran menyeleweng dan tradisi-tradisi khurafat dan jahiliyah yang telah menyembah berhala dan memberikan kurban untuk berhala. Nabi Muhamad saw merasakan bahwa pesan-pesan Ilahi semakin dekat kepadanya, karena itu beliau sering meninggalkan istrinya untuk berkhalwat di goa Hira.

Sayidah Khadijah as, sangat memahami semua tindakan suaminya. Beliau bukan saja tidak melarangnya, namun juga senantiasa mendukungnya. Beliau juga tidak protes karena sering ditinggalkan. Beliau tetap menjalankan fungsinya sebagai istri untuk senantiasa memberikan ketenangan dan kenyamanan kepada suaminya. Saat di rumah beliau akan menjadi tempat nyaman bagi suaminya. Dan, saat suaminya hendak ke goa Hira, beliau pun akan mengirim orang untuk menjaganya dan memantaunya dari kejauhan agar suaminya terjaga dari gangguan orang-orang jahat, juga mendoakannya.

Janji Allah Swt telah tiba, Allah telah mengutus Jibril as untuk menyampaikan risalah kepadanya. Tepat pada usia empat puluh tahun, Nabi Muhamad saw diangkat menjadi seorang nabi. Saat pertama kali Nabi Muhamad saw mendapatkan wahyu, beliau merasakan badannya berat karena dampak dari beban yang beliau dapatkan setelah mendapatkan wahyu. Tubuhnya tampak gemetar terlihat khawatir dan cemas. Dalam kondisi seperti itu beliau langsung pergi menuju rumahnya untuk menemui istri tercintanya, Sayidah Khadijah as. Beliau tahu bahwa istrinya senantiasa membuatnya nyaman dalam semua kondisi. Karena itu beliau masuk ke kamar istrinya, setelah duduk di sampingnya beliau menceritakan semua kejadian yang telah dialaminya di goa Hira, juga beban berat yang terasa pada jiwa dan raganya karena peristiwa tersebut. Dengan seksama dan penuh perhatian Sayidah Khadijah as pun mendengarkan cerita Nabi Muhamad saw seraya berkata, “Wahai putra pamanku, berbahagialah. Yakinlah bahwa Tuhan tidak akan pernah menghinakanmu dan membiarkanmu. Engkau orang yang sangat agung yang senantiasa menyambung tali silaturahmi, senantiasa berkata jujur, sabar dalam menghadapi kesulitan, suka menghormati tamu, engkau juga penolong masyarakat dalam kesulitan dan masalah. Ketahuilah, aku juga telah mengimani kenabianmu sejak sebelum-sebelumnya.”[7]

Ayatullah Jakfar Subhani telah memberikan penjelasan tentang kondisi Nabi Muhamad saw pasca menerima wahyu pertama. Beliau mengatakan bahwa kondisi khawatir, cemas dan gemetar seperti itu selama masih pada batasnya, itu  wajar dan tidak bertentangan dengan tingkat keyakinan Nabi Muhamad saw atas kebenaran yang telah disampaikan kepadanya. Karena meski kapasitas ruhani sangat tinggi dan kuat pun, di awal-awal tugasnya pasti akan mengalami kekhawatiran dan kecemasan seperti itu, karena itu setelahnya semua kecemasan dan kekhawatiran itu pun hilang.[8]

Setelah Nabi Muhamad saw tertidur, Sayidah Khadijah as keluar rumah pergi menuju rumah anak pamannya, Waraqah bin Naufal. Kemudian beliau menceritakan semua peristiwa yang telah terjadi kepada Nabi Muhamad saw di goa Hira. Setelah mendengarnya, sambil berteriak Waraqah bin Naufal pun berkata, “Sumpah demi Tuhan yang jiwaku berada dalam kekuasaanNya, Khadijah, andaikan semua yang engkau katakan itu benar, sosok yang mendatanginya adalah sosok yang telah mendatangi Nabi Musa dan Nabi Isa. Dia itu seorang nabi. Sampaikan padanya, kokohkanlah langkahnya, dan yakinlah pada kenabian dirinya.”

Mendengar hal itu, Sayidah Khadijah as pun langsung berpamitan pergi meninggalkan rumah Waraqah bin Naufal. Beliau pergi menuju rumahnya dengan tergesa-gesa ingin segera menyampaikan pesan Waraqah kepada suaminya. Ingin menyampaikan kabar gembira bahwa suaminya telah menjadi seorang nabi. Beliau telah membawa bendera risalah, risalah yang tengah ditunggu-tunggu oleh orang-orang seperti Waraqah bin Naufal, para pembesar agama Yahudi dan Nasrani jazirah Arab dan para pengikut tauhid.[9]

Saat tiba di rumah, Sayidah Khadijah as mendapati suaminya tertidur. Beliau terus menatap wajah suaminya yang bercahaya dan penuh kewibawaan. Beliau juga tengah memikirkan masa depan suaminya. Tiba-tiba beliau mendapati tubuh Nabi Muhamad saw demam, tubuhnya gemetar, nafasnya tersengal-sengal, keringat bening bercucuran dari dahinya. Untuk beberapa saat Nabi Muhamad saw dalam kondisi seperti itu seperti tengah mendengarkan suara. Kemudian Nabi Muhamad saw tenang dan mulai membacakan surat al-Mudatstsir ayat 1-7.

Setelah itu, kemudian Nabi Muhamad saw melihat sekitar ruangan dan melihat istri tercintanya duduk dekat di sampingnya. Beliau menatapnya dengan penuh rasa kasih dan cinta.

Sementara itu Sayidah Khadijah as mengkhawatirkan keadaan suaminya, bersikeras memohon kepadanya agar tetap istirahat. Namun Nabi Muhamad saw bersabda, “Istriku, waktu tidur dan tenang sudah berakhir. Jibril pembawa wahyu telah memerintahkanku untuk mengingatkan orang-orang akan akibat perbuatan buruk, dan menyeru mereka untuk menyembah Allah Swt. Maka siapakah orang yang harus aku seru dan siapakah juga yang akan menerima seruanku.”

Keesokan harinya, Waraqah bin Naufal melihat Nabi Muhamad saw di dalam Masjidil Haram. Saat melihatnya langsung ia berteriak, “Sumpah demi Tuhan yang jiwaku berada di bawah kekuasaanNya, engkau adalah seorang nabi umat ini. Kaum jahiliyah ini akan mendustakanmu, akan mengganggumu, akan mengusirmu dari kota ini, dan akan memerangimu. Jika saat itu aku masih ada, aku akan membela agama Tuhan dengan membelamu. Kemudian ia mendekati Nabi Muhamad saw seraya mencium tubuh mulianya.

Nabi Muhamad saw berkata, “Apakah mereka akan mengusirku dari tanah kelahiranku?”

“Iya, andaikan aku masih muda…, andaikan aku sampai saat itu masih hidup…,”[10]

(Bersambung ke bagian ketiga dengan subtema; Keislaman dan Keagungan Sayidah Khadijah as, Pengorbanan Sayidah Khadijah as dalam Syi`b Abu Thalib, Hubungan Sayidah Khadijah as dengan Sayidah Fathimah as, Tahun Duka dan Kesedihan Nabi Muhamad saw, Kedudukan Sayidah Khadijah as di Mata Nabi Muhamad saw dan Permohonan Terakhir Sayidah Khadijah dari Rasulullah saw)

CATATAN:

[1] Riyahan asy-Syariah, jil 2, hal 219-230; Biharul-Anwar, jil 16, hal 30-52

[2] Shiratul Aimatul Itsna Asyar, jil 1, hal 49; Siroh Ibnu Hisyam, jil 1, hal 201

[3] Nisaun Nabi, hal 35; ‘Alamun Nisail Mukminat, hal 318 dinukil dari Jam’i az Muallifan Pazuheshkade Baqirululum, Banwane Nemune, hal 337-338

[4] Biharul Anwar, jil 16, hal 4

[5] Tarikh Ya’kubi, jil 2, hal 16

[6] Riyahan asy-Syariah, jil 2, hal 207-211

[7] Riyahan asy-Syariah, jil 2, hal 250-251

[8] Furug Abadiyat, jil 1, hal 185-186 dinukil dari Jam’i az Muallifan Pazuheshkade Baqirululum, Banwane Nemune, hal 342

[9] Biharul Anwar, jil 16, hal 20-23

[10] Sirah Ibnu Hisyam, jil 1, hal 253-254; Riyahan asy-Syariah, jil 2, hal 252