Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Konsep Hikmah (Kebijaksanaan) dalam Perspektif al-Qur’an dan Falsafah Islam(1)

1 Pendapat 05.0 / 5

Istilah-Istilah

            Kebijaksanaan adalah istilah yang sering didengungkan ketika membahas tentang filsafat. Philo dan Sophia berasal dari bahasa Yunani, dua kata yang membangun kata filsafat memiliki arti Cinta Kebijaksanaan. Orang yang mencintai kebijaksanaan disebut filosof. Sebuah sebutan yang diberikan Pythagoras kepada Socrates untuk membedakannya dari kaum sofis pada masa itu.

Nanang Tahqiq dalam buku Asas-Asas Falsafah Islam menjelaskan secara panjang lebar secara bahasa terkait istilah filsafat. Tahqiq berargumen bahwa penulisan yang benar adalah falsafah atau falsafat bukan filsafat karena tidak memiliki akar bahasa yang jelas. Namun, apapun istilah filsafat yang digunakan, istilah tersebut tidak berasal dari bahasa Arab itu sendiri. Kata philosophia berasal dari Yunani, philosophy berasal dari bahasa Inggris, sementara bahasa Arab menggunakan istilah Hikmah/Hikmat[1] yang berarti kebijaksanaan.

Al-Qur’an sebagai sumber inspirasi falsafah Islam tentu memiliki pengaruh besar terhadap para failasuf dalam membangun konsep dan teori di dalam falsafah Islam itu sendiri. Oleh karena itu melihat dan membaca kembali ayat-ayat Hikmah di dalam al-Qur’an untuk memperoleh maknanya secara komprehensif adalah hal yang penting dan memiliki urgensitasnya sendiri.

Ayat-Ayat Hikmah dan Kontekstualisasinya

            Berdasarkan Kitab Mu’jam al-Qur’an, kata Hikmah muncul di dalam al-Qur’an sebanyak 20 kali di dalam surat yang berbeda-beda dan konteks ayat yang berbeda pula.

1. Hikmah adalah Kebaikan yang Berlimpah

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya: Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).

 2. Hikmah adalah sesuatu yang dapat diajarkan

    كَمَآ اَرْسَلْنَا فِيْكُمْ رَسُوْلًا مِّنْكُمْ يَتْلُوْا عَلَيْكُمْ اٰيٰتِنَا وَيُزَكِّيْكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ ۗ ﴿البقرة : ۱۵۱﴾

Artinya: Sebagaimana Kami telah mengutus kepadamu seorang Rasul (Muhammad) dari (kalangan) kamu yang membacakan ayat-ayat Kami, menyucikan kamu, dan mengajarkan kepadamu Kitab (Al-Qur’an) dan Hikmah, serta mengajarkan apa yang belum kamu ketahui. (QS. Al-Baqarah: 151)

 

Konsep Hikmah: Pengetahuan atau Pemahaman

Jika kita mengingat kembali doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad “Rabbi zidni ‘ilman, warzuqni fahman” yang artinya ‘Ya Allah tambahkan ilmuku dan berikanlah aku pemahaman”. Ada dua hal yang diminta oleh hambaNya yaitu, yang pertama adalah ilmu dan yang kedua adalah pemahaman. Ilmu ini bersifat perolehan atau dalam filsafat kita kenal dengan istilah hushuli yaitu, ilmu yang diperoleh melalui segenap usaha/ikhtiyari. Kedua, hal yang diminta oleh hambaNya ialah, pemahaman. Pemahaman ini menggunakan kata kerja “Warzuqni” di mana sifatnya sudah tidak lagi sebuah perolehan, melainkan sebuah pemberian dari Allah SWT yang sifatnya hudhuri. Tampaknya hal ini relevan dengan isyarat ayat-ayat sebelumnya tentang Hikmah.

Kita bisa melihat bahwa mayoritas ayat-ayat tentang hikmah menekankan dimensi pengetahuannya. Hikmah sebagai satu jenis pengetahuan manusia yang bisa didapat secara hushuli yaitu, melalui proses pembelajaran, ada yang diajari dan mempelajari dan begitu juga berkaitan dengan penyucian jiwa atau purifikasi yang menjadi syarat awal terbukanya pintu pemahaman yang sifatnya hudhuri. Dengan demikian, hikmah yang diartikan sebagai salah satu jenis pengetahuan baik itu bersifat perolehan maupun pemberian. Dengan kata lain, hikmah bersifat epistemik karena berhubungan dengan pengetahuan manusia.