Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Kepeloporan Syiah dalam Ilmu Hadis

0 Pendapat 00.0 / 5

Oleh: Ayatullah Sayyid Hasan Ash-Shadr

Tentang Orang Pertama Penghimpun Hadis di Pertengahan Abad Kedua

Dari kaum Syiah yang menyusun kitab-kitab, pokok-pokok akidah dan perincian hukum-hukum yang diriwayatkan dari jalur Ahlulbait adalah mereka yang hidup di masa-masa orang yang disebutkan berkenaan dengan orang pertama yang mengumpulkan riwayat dari kalangan Ahli Sunnah. Mereka meriwayatkan hadis-hadis dari Imam Ali Zainal Abidin a.s. dan dari putranya; Imam Muhammad Baqir a.s. Di antara mereka adalah Aban bin Taglab. Ia telah meriwayatkan tiga puluh ribu hadis dari Imam Ja'far Ash-Shadiq a.s.

Ada pula Jabir ibn Yazid Al-Ja'fi yang meriwayatkan tujuh puluh ribu hadis dari Imam Muhammad Al-Baqir a.s., dari ayah-ayah beliau hingga Rasulullah saw. Jabir mengatakan: "Aku memiliki lima puluh ribu hadis yang belum aku sampaikan. Semuanya dari Rasulullah saw. dari jalur Ahlulbait a.s.
Terdapat nama-mana lain yang melakukan penghimpunan dan periwayatan hadis sebanyak di atas tadi, seperti Abu Hamzah, Zurarah ibn A'yan, Muhammad ibn Muslim Ath-Thaifi, Abu Bashir Yahya ibn Al-Qosim Al-Asadi, Abdul Mu'min ibn Al-Qosim ibn Qois ibn Muhammad Al-Anshari, Bassam ibn Bdullah Ash-Shairafi, Abu Ubaidah Al-Hidzaie Ziyad ibn Isa Abu Raja' Al-Kufi, Zakaria ibn Abdullah Al-Fayyad Abu Yahya, Jahdar ibn Al-Mughirah Ath-Thaie, Hajar ibn Zaidah Al-Hadhrami Abu Abdillah, Muawiyah ibn Ammar ibn Abi Muawiyah, Khabbab ibn Abdillah, Al-Mutthalib Az-Zuhri Al-Qurasyi Al-Madani, dan Abdullah ibn Maimun ibn Al-Aswad Al-Qoddah. Saya telah sebutkan kitab dan riwayat hidup mereka masing-masing di dalam Ta'sisusy Sy'ah li Fununil Islam.
Sementara itu, Tsaur ibn Abu Fakhitah Abu Jaham telah meriwayatkan hadis-hadis dari sekelompok sahabat Nabi saw. Dan ia memiliki sebuah kitab utuh dari Imam Muhammad Baqir a.s.


Tentang Orang Pertama Dari Kaum Syiah Yang Menyusun Kitab Hadis Setelah Pertengahan Abad Kedua

Terdapat sekelompok sahabat Imam Ja'far Ash-Shadiq a.s. yang meriwayatkan hadis dari beliau dan menghimpunnya ke dalam empat ratus kitab dengan judul Al-Usul. Syeikh Imam Abu Ali Al-Fadhl ibn Al-Hasan Ath-Thabarsi di dalam kitabnya, A'lamul Wara', mengatakan: "Dinukil secara hampir mutawatir oleh banyak kalangan bahwa orang-orang yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja'far Ash-Shadiq a.s. adalah mereka yang tergolong dari tokoh-tokoh ilmu yang jumlah mereka mencapai empat ribu. Lalu, mereka menyusun hadis-hadis tersebut ke dalam empat ratus kitab yang dikenal di tengah kaum Syiah dengan nama Al-Usul. Kemudiadan, kitab ini diriwayatkan oleh sabahat-sahabat Imam Ash-Shadiq a.s. dan oleh sahabat-sahatbat putra beliau; Imam Musa Al-kadzim a.s.".

Sementara itu Abul Abbas Ahmad ibn 'Uqdah telah menulis sebuah buku terpisah dengan judul Kitabu Rijali Man Rowa 'an Abi Abdillah Ash-Shadiq. Kitab ini secara khusus menghimpun nama-nama mereka yang meriwayatkan hadis dari Imam Ja'far Ash-Shadiq a.s. Syeikh Abu Ja'far Ath-Thusi bahkan menyebutkan dan menghitung karangan-karangan mereka masing-masing di dalam bab Ashabu Abi Abdillah Ash-Shadiq dari kitabnya; Ar-Rijal, yaitu kitab yang disusun menurut nama-nama sahabat setiap dua belas imam Ahlulbait a.s.


Tentang Jumlah Kitab yang dikarang olrh orang Syiah tentang Hadis dari Jlur Ahlulbait, sejak masa Imam Ali bin Abi Thalib sampai masa Imam Hasan Al-Askari a.s

Ketahuilah bahwa jumlah kitab-kitab itu melebihi angka 6600, sebagaimana yang dicatat oleh Syeikh Al-Jahidz Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr, penulis Al-Wasail. Bahkan, ia menyatakan jumlah tersebut secara tegas di dalam bab keempat dari kitabnya yang besar tentang hadis, yaitu Wasailusy Syiah ila Ahkamisy Syari'ah. Semua ini juga telah saya sebutkan data-data yang menguatkan jumlah di atas tadi di dalam kitab saya yang berjudul Nuhayatud Dirayah fi Usuli Ilmul Hadis.


Tentang Generasi Berikut yang Menjadi Tokoh Ilmu Hadis dan Penyusun Kitab-kitab Induk yang Hingga Kini Merupakan Rujukan Hukum-hukum Syar'i Kaum Syiah

Ketahuilah bahwasanya tiga Muhammad pertama adalah tokoh terdepan dalam penyusunan empat kitab induk hadis. Yang pertama ialah Muhammad ibn Ya'qub Al-Kulaini, penyusun kitab Al-Kafi. Ia wafat pada tahun 328 H. Di dalam kitab tersebut, Al-Kulaini telah mencatat 16099 hadis, lengkap dengan sanad-sanadnya.

Kedua ialah Muhammad ibn Ali ibn Al-Husein ibn Musa ibn Babaweih Al-Qummi yang wafat pada tahun 381 H. Ia dikenal juga dengan panggilan Abi Ja'far Ash-Shaduq. Ia telah menyusun 1400 kitab tentang ilmu hadis. Yang terbesar di antara kitab-kitab Ash-Shaduq adalah kitab Man La Yahdhuruhul Faqih yang memuat 9044 hadis mengenai hukum-hukum syariat dan sunah-sunah.

Ketiga adalah Muhammad ibn Al-hasan Ath-Thusi yang terkenal dengan gelar Syeikh Ath-Thoifah. Ia telah menulis kitab Tahdzibul Ahkam, dan menyusunnya ke dalam 393 bab, dan mencatat hadis sebanyak 13590. Kitab Ath-Thusi lainnya adalah Al-Istibshor yang memuat 920 bab sehingga mencakup 5511 hadis. Inilah empat kitab induk yang menjadi rujukan utama kaum Syiah.

Kemudian tibalah peran tiga Muhammad terakhir yang juga tergolong sebagai tokoh kitab induk hadis. Pertama ialah Imam Muhammad Al-Baqir ibn Muhammad At-Taqie. Ia terkenal dengan nama Al-Majlisi. Kitab besar yang ditulis Al-Majlisi adalah kitab Biharul Anwar; fil Ahaditsil Marwiyyah 'anin Nabi wal Aimmah min Alihil Ath-har. Kitab ini disusun sebanyak 26 jilid tebal. Dapat dikatakan bahwa kitab ini telah menjadi pegangan kaum Syiah. Sebab, tidak ada kitab induk hadis yang paling lengkap selain kitab Biharul Anwar. Sehingga Tsiqotul Islam Allamah An-Nurie menulis sebuah kitab yang berjudul "Al-Faidhul Qudsi fi Ahwalil Al-Majlisi" dan dicetak di Iran, yakni sebuah kitab yang secara khusus mengulas ihwal kehidupan Al-Majlisi.

Kedua ialah Muhammad ibn Murtadha ibn Mahmud, seorang tokoh besar ilmu hadis dan guru utama di dua bidang ilmu aqli dan naqli. Ia lebih dikenal dengan nama Muhsin Al-Kasyani dan julukan Al-Faidh. Kitab hadis yang ditulis olehnya berjudul Al-Wafi fi Ilmil Hadis, yang ketebalannya mencapai 14 jilid, dan setiap jilidnya merupakan kitab tersendiri. Kitab Al-Wafi menghimpun hadis-hadis yang termaktub di dalam empat kitab induk terdahulu berkenaan dengan akidah, hukum syariat, akhlak dan sunah-sunah. Usia Muhsin Al-Kasyani mencapai 84 tahun dan wafat pada tahun 1091 H. Dalam rentang usainya yang panjang itu, ia telah mengarang kurang lebih dua ratus kitab dari berbagai bidang ilmu.

Ketiga ialah Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr Asy-Syami Al-'Amili Al-Masyghari, seorang ulama hadis yang mayshur di kalangan ahli hadis dengan gelar Syeikhusy Syuyukh (guru ulama). Ia menulis kitab Tafshil Wasailsy Syi'ah ila Tahshil Ahaditsusy Syariah, dan penyusunannya mengacu pada kitab-kitab Fiqih. Di antara kitab-kitab induk hadis, kitab hadis Al-'Amili ini tergolong sebagai kitab yang paling banyak diakses oleh ulama. Di dalamnya telah tercatat hadis-hadis yang dinukil dari 80 kitab induk hadis, 70 dari jumlah itu dinukil dengan perantara, dan dicetak berkali-kali di Iran. Bisa dikatakan bahwa kaum Syiah sekarang lebih berkutat pada kitab ini. Muhammad Al-'Amili dilahirkan pada bulan Rajab 1033 dan wafat pada tahun 1204 H di Thus-Khurasan (salah satu propinsi di bagian barat Iran, pent.)

Dan Syeikh Allamah Tsiqotul Islam Al-Husein ibn Allamah An-Nuri telah menghimpun hadis-hadis yang tidak dicatat oleh penulis Wasailusy Syi'ah, dan menyusunnya di dalam sebuah kitab berjilid berdasarkan susunan bab-bab kitab Wasailusy Syi'ah, dan meletakkan judul Mustadrokul Wasail wa Mustanbatul Masail padanya. Secara umum, kitab ini bentuk lain dari kitab Wasailusy Syi'ah. Dan dapat dikatakan bahwa kitab Syeikh An-Nuri ini merupakan kitab hadis Syiah yang paling besar, dimana Syeikh telah menyelesaikannya pada tahun 1319 H. Ia wafat pada 28 Jumadil Akhir 1320 H.
Dan masih banyak kitab-kitab induk hadis yang disusun oleh ulam-ulama besar hadis Syiah. Di antaranya ialah kitab Al-'Awalim sebanyak 100 jilid, karya seorang ahli hadis yang tersohor bernama Syeikh Abdullah ibn Nurullah Al-Bahrani. Ia hidup semasa dengan Allamah Al-Majlisi, pengarang kitab Biharul Anwar yang telah kami singgung di atas tadi.

Selain Al-'Awalim adalah kitab Syarhul Istabshor fi Ahaditsul Aimmatil Ath-har yang disusun oleh Syeikh Qosim ibn Muhamad ibn Jawad ke dalam beberapa jilid besar, mirip dengan kitab Biharul Anwar. Syeikh Qosim dikenal dengan panggilan Ibnu Al-Wandi dan panggilan Faqih Al-Kadzimi. Ia hidup semasa dengan Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr; pengarang kitab Wasailusy Syi'ah sebagaimana telah disinggung. Syeikh Qosim adalah salah seorang murid utama datuk saya, Allamah Sayyid Nuruddin; saudara Sayyid Muhammad pengarang kitab Al-Madarik.

Selain itu adalah kitab Jami'ul Akhbar fi Idhohil Istibshor. Kitab ini tergolong kitab hadis yang besar yang disusun ke dalam banyak jilid oleh Syeikh Allamah Abdullatif ibn Ali ibn Amhmad ibn Abu Jami' Al-Haritsi Al-Hamadani Asy-Syami Al-'Amili. Ia menimba ilmu dari Syeikh Al-Hasan ibn Abu Mansur ibn Asy-Syahid Syeikh Zainuddin Al-'Amili, pengarang kitab Al-Ma'alim dan Al-Muntaqo, dan salah seorang ulama abad kesepuluh Hijriyah.
Selain itu adalah kitab induk besar yang berjudul Asy-Syifa fi Hadis Alil Mushtafa. Kitab ini mencakup beberapa jilid tebal, disusun oleh seorang ulama peneliti hadis yang ulung, yaitu Syeikh Muhammad Ar-Ridha, putra seorang ahli Fiqih; Syeikh Abdullatif At-Tabrizi. Syeikh Ar-Ridha telah merampungkan penulisan kitab tersebut pada tahun 1158 H.

Selain itu adalah kitab Jami'ul Ahkam yang tercetak hingga mencapai 25 jilid besar, disusun oleh Allamah Abdullah ibn Sayyid Muhammad Ar-Ridha Asy-Syubbari Al-Kadzimi. Pada masa itu, ia dikenal sebagai guru besar kaum Syiah dan penulis unggul. Dapat dikatakan bahwa setelah era Allamah Al-Majlisi, tidak ada ulama yang mengarang kitab lebih banyak daripada karya-karyanya. Sayyid Muhammad Ar-Ridha wafat di Al-Kadzimain pada tahun 1242 H.
Tentang Kepeloporan Kaum Syiah dalam Menggagas Ilmu Dirayah dan Membaginya ke Beberapa Cabang Utama

Orang pertama yang memulai perintisan dan pengagasan ilmu ini ialah Abu Abdillah Al-Hakim yang lahir di Naysyabur (sebuah kota di Propinsi Khurasan-Iran, pent.). Nama lengkapnya adalah Muhammad ibn Abdullah. Ia wafat pada 405 H. Semasa hidupnya, Al-Hakim telah mengarang sebuah kitab yang berjudul Ma'rifatu Ulumil Hadis setebal lima jilid, lalu membagi ilmu-ilmu hadis ke lima puluh cabang. Kitab Kasyful Dzunun telah menyatakan kesaksiannya atas kepeloporannya dalam penggagasan ilmu tersebut, dan mengatakan: "Orang pertama yang memulai penggagasan dan pembagian ilmu Hadis ialah Muhammad ibn Abdullah dari Naysyabur, kemudian diikuti oleh Ibnu Ash-Shalah".

Sementara itu, Al-jahidz As-Suyuthi menyebutkan di dalam kitab Al-Wasail fil Awail, bahwa orang pertama yang menyusun macam-macam ilmu Hadis dan membaginya menjadi beberapa cabang yang masih dikenal sampai sekarang ialah Ibnu Ash-Shalah. Ia wafat pada tahun 643 H. Data ini tidaklah bertentangan dengan apa yang telah kami bawakan di atas itu. Sebab, Al-Jahidz hendak menyebutkan orang pertama yang mengerjakan hal itu dari kaum Ahli Sunnah, sedangkan Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang Syiah berdasarkan kesepakatan para ulama Ahli Sunnah dan Syiah. Syeikh As-Sam'ani di dalam Al-Ansab, Syeikh Ahmad ibn Taimiyah dan Al-Jahidz Adz-Dzahabi di dalam Tadzkirotul Huffadz telah menyatakan secara tegas ihwal kesyiahan Al-Hakim.

Bahkan di dalam Tadzkirotul Huffadz, misalnya, Adz-Dzahabi menuturkan kesaksian Ibnu Thahir yang mengatakan: "Aku bertanya kepada Abu Ismail Al-Anshari perihal Al-Hakim. Ia berkata: 'Ia adalah perawi yang terpercaya di bidang hadis dan seorang syiah yang penyimpang'". Lalu Adz-Dzahabi mengatakan: "Lalu Ibnu Thahir berkata: 'Abu Abdillah Al-Hakim adalah seorang syiah yang fanatik dalam kerahasiaannya, namun ia menampakkan kesunniannya dalam permasalahan khilafah dan khalifah pertama setelah Nabi saw. Ia berseberangan dengan Muawiyah dan keluarganya seraya menampakkan pengakuannya pada mereka; suatu hal yang tidak bisa diterima sikapnya ini'".

Saya katakan bahwa ulama-ulama kami, Syiah, juga telah menyatakan kesaksian mereka atas kesyiahan Abu Abdillah Al-Hakim, seperti Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan Al-Hurr di akhir-akhir kitab Wasailusy Syi'ah. Di dalam MA'alimul Ulama di bab Al-Kuna, ia menukil dari Ibnu Syar-Asyub yang menilai Al-Hakim sebagai salah seorang pengarang Syiah, dan ia memiliki kitab tentang keutamaan-keutamaan Ahlulbait serta sebuah kita tentang keutamaan-keutamaan Imam Ali Ar-Ridha a.s. mereka juga menyebutkan sebuah kitabnya berkenaan dengan keutamaan-keutamaan Fatimah Az-Zahra a.s.

Bahkan, Abdullah Afandi telah menerangkan riwayat hidup Al-Hakim secara rinci di dalam kitabnya; Riyadul 'Ulama, di bagian pertama yang secara khusus membahas Syiah Imamiyah. Begitu juga Afandi menyebutkan namanya dan memberikan kesyaksian atas kesyiahannya di bab Al-Alqob dan di bab Al-Kuna. Di dalam kitab itu, Afandi menyebutkan dua kitab Al-Hakim yang berjudul Usul Ilmil Hadis dan Al-Makhal ila Ilmish Shohih. Afandi mengatakan: "Dan Al-Hakim telah mencatat hadis-hadis tentang Ahlulbait yang tidak termaktub di dalam Sohih Al-Bukhari, seperti hadis Ath-Thoirul masywi dan hadis Man kuntu maulahu".
Setelah Abu Abillah Al-Hakim, terdapat sekelompok tokoh ilmu Hadis dari kaum Syiah yang mengarang di bidang ilmu Dirayah. Di antara mereka ialah Sayyid Jamaluddin Ahmad ibn Thawus Abul fadhail. Ialah peletak istilah-istilah hadis Syiah Imamiyah berkenaan dengan pembagian hadis kepada empat macam; sohih, hasan, muwatssaq dan dzaif. Ibn Tawus wafat pada tahun 673 H.

Dan di antara mereka ialah Sayyid Allamah Ali ibn Abdul Hamid Al-Hasani. Ia mengarang kitab Syarh Usul Dirayatul Hadis.Ia juga melaporkan dari Syeikh Allamah Al-Hilli ibn Al-Muthahhar dan Syeikh Zainuddin yang masyhur dengan gelar Syahid Tsani (sang syahid kedua), sebuah kitab bernama Ad-Dirayah fi Ilmid Dirayah dan syarahnya yang berjudul Ad-Dirayah.

Dan di antyara mereka ialah Syeikh Al-Husein ibn Abdush Shomad Al-Haritsi Al-hamadani yang mengarang kitab Wushulul Akhyar ila Usulil Akhbar, Syeikh Abu Mansur Al-Hasan ibn Zainudin Al-'Amili yang menulis kitab Muqoddimatul Muntaqo dan Usul Ilmil Hadis, dan Syiekh Bahauddin Al-'Amili pengarang kitab Al-Wajizah fi Ilmi Diroyahtul Hadis. kitab terakhir ini telah saya syarahi dalam sebuah kitab yang saya namai dengan judul Syarah Nihayatud Dirayah, dicetak di India dan menjadi kurikulum di sekolah-sekolah pendidikan agama.


Tentang Orang Pertama Yang Menyusun Ilmu Rijal Dan Riwayat Hidup Para Perawi

Ketahuilah bahwasanya Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi Al-Qummi adalah salah seorang sahabat Imam Musa ibn Ja'far Al-Kadzim a.s., sebagaimana Syeikh Abu Ja'far Ath-Thusi mencatat hal ini di dalam kitab Ar-Rijal. Dan Abul Faraj Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest, di awal bagian kelima pasal keenam mengenai riwayat tokoh-tokoh Fiqih Syiah menyebutkan karya Al-Barqi di bidang ilmu Rijal. Di sana ia mengatakan: "Dan di antara karya-karya Al-Barqi adalah Al-'Awidh, At-Tabshiroh dan Ar-Rijal. Di dalam kitab terakhir ini, ia menyebutkan nama-nama yang meriwayatkan hadis-hadis dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib".

Setelah Al-Barqi ialah Abu Muhammad Abdullah ibn Jablah ibn Hayyan ibn Abhar Al-Kinani. Ia mengarang kitab Ar-Rijal. Abdullah Al-Kinani berusia panjang dan wafat pada tahun 219 H.
As-Suyuthi di dalam Al-Awail mengatakan: "Orang pertama yang membahas ilmu Rijal ialah Syu'bah". Jelas bahwa Syu'bah datang setelah Abdullah ibn Jablah, karena yang pertama wafat pada tahun 260 H. Bahkan setelah Abdullah ibn Jablah dan sebelum Syu'bah, terdapat salah seorang sahabat Imam Muhammad Jawad a.s. yang bernama Abu Ja'far Al-Yaqthini. Ia mengarang Kitabur Rijal, sebagaimana yang dicatat di dalam Al-Fehrest An-Najasyi dan Al-Fehrest Ibnu Nadim.

Perlu saya katakan bahwa Abu Abdillah Muhammad ibn Khalid Al-Barqi juga seorang sahabat imam Ahlulbait, yaitu Imam Musa Al-Kadzim a.s. dan Imam Ali Ar-Ridha a.s. Malah ia juga sempat menjumpai Imam Muhammad Jawad a.s. Kitab Al-Barqi masih terjaga utuh dan tersedia sampai sekarang. Di dalamnya disebutkan nama perawi-perawi yang meriwayatkan hadis dari Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib a.s. dan perawi-perawi setelah mereka. Di dalamnya juga terdapat tema penting Rijal mengenai Al-Jarah wat Ta'dil (penilaian kritis atas ihwal kehidupan para perawi) sebagaimana yang juga dibahas oleh semua kitab Rijal.

Kemudian Abu Ja'far Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid Al-Barqi mengarang kitab Ar-Rijal dan kitab Ath-Thabaqot, dan wafat pada tahun 274 H.
Lalu, Syeikh Abul Hasan Muhammad ibn Ahmad ibn Dawud ibn Ali Al-Qummi yang dikenal juga dengan Ibnu Dawud; seorang ulama terkemuka Syiah. Ia mengranag kitab Al-Mamduhin wal Madzmumin minar Ruwat, dan wafat pada tahun 368 H.
Lalu, Syeikh Abu Ja'far Muhammad ibn Babaweih Ash-Shoduq yang mengarang kitab Ma'rifatur Rijal dan Kitabur Rijalil Mukhtarin min Ashabin Nabi saw. Ia wafat pada tahun 381.

Lalu, Syeikh Abu Bakar Al-Ji'ani yang dinyatakan oleh Ibnu Nadim bahwa ia merupakan salah seorang ulama besar Syiah. Al-Ji'ani mengarang kitab Asy-Syi'ah min Ashabil Hadits wa Thabaqotuhum. Tentang kitab ini, An-Najasyi mengatakan bahwa kitab itu disusun dalam ukuran besar.
Lalu, Syeikh Muhammad ibn Baththah yang mengarang kitab Asma' Mushannifisy Syi'ah, dan wafat pada tahun 274 H.
Lalu, Syeikh Nashr ibn Ash-Shabah Abul Qosim Al-Balkhi; guru Syeikh Abu Amr Al-Kasyi. Ia mengarang kitab Ma'rifatun Naqilin min Ahlil Miah Tsalitsah. Ia wafat pada tahun pada abad ketiga hijriyah.

Lalu, Ali ibn Al-Hasan ibn Fidhal yang mengarang kitab Ar-Rijal. Ia berada di generasi sebelum Syeikh Nashr Al-Balkhi.
Lalu, Sayyid Abu Ya'la Hamzah ibn Al-Qosim ibn Ali ibn Hamzah ibn Al-asan ibn Ubaidilah ibn Al-Abbas ibn Ali ibn Abu Thalib a.s., yang mengarang kitab Man Rowa 'an Ja'far ibn Muhammad minar Rijal. An-Najasyi mengatakan: "Kitab ini cukup baik, dan At-Tal'akbari meriwayatkan sertifikat pengakuan dan validitas darinya". Hamzah ibn Qosim adalah ulama Syiah abad ketiga.

Lalu, Syeikh Muhammad ibn Al-Hasan ibn Ali Abu Abdillah Al-Maharibi yang menyusun kitab Ar-Rijal min Ulama Tsalitsah.
Lalu, Al-Musta'thof Isa ibn Mehran yang mengarang Kitabul Muhadditsin. Isa termasuk ulama terdahulu Syiah, sebagaimana yang dicatat oleh Syeikh Ath-Thusi dio dalam Al-Fehrest.

Berikutnya, di dalam kitab Ta'sisusy Syi'ah li Fununil Islam, saya telah mengulas karangan-karangan Syeikh Ath-Thusi, An-Najasyi, Al-Kasyi, Allamah ibn Al-Muthahhar Al-Hilli, Ibnu Dawud dan generasi-generasi yang mengarang kitab tentang ilmu Rijal. Dan hingga kini, semua karya-karya mereka masih menjadi rujukan dalam upaya menilai kualitas pribadi para perawi (Al-jarah wa Ta'dil). Perlu dibubuhkan di sini, bahwa Abul Faraj Al-Qannani Al-Kufi; guru An-Najasyi, mempunyai karangan di bidang ini, berjudul Kitab Mu'jam Rijalil Mufadhal, dan menyusunnya sesuai dengan urutan huruf Hijaiyyah.


Tentang Orang Pertama Yang Mengarang Kitab Mengenai Ilmu Tabaqot

Ketahuilah bahwasanya orang pertama yang mengarang kitab di b idang Tabaqot (Ilmu tentang generasi para perawi hadis) ialah Abu Abdullah Muhammad ibn Umar Al-Waqidi yang lahir pada tahun 103. usianya mencapai 78 tahun. Ibnu Nadim di dalam Al-Fehrest memberikan kesaksian tegas atas kerangan Al-Waqidi di bidang ini, tepatnya di pasal keempat dari bab kedelapan sebagaimana akan datang uraian rincinya.

Ada pula Ibnu Al-Ju'abi Al-Qodhi Abu Bakar Amr ibn Muhammad ibn Salam ibn Al-Barra' yang masyhur dengan panggilan Ibnul Ju'abi. Ia menulis Kitabusy Syi'ah min Ashabil Hadis wa Thabaqotihim dengan ukurannya yang besar dan tebal. Ia juga menulis kitab Al-Mawali wal Asyraf wa Thabaqotuhum, kitab Man Rowal Hadits min Bani Hasyim wa Mawalihim, kitab Akhbaru Ali Abi Thalib, kitab Akhbaru Baghdad wa Thabaqotuhum wa Ashabul Hadits. Ibnu Nadim mengatakan di dalam Al-Fehrest: "Ibnul Ju'abi adalah serorang ulama terhormat Syiah. Ia telah menjumpai penguasa masa itu, yaitu Saifuddaulah, dan mendekatinya hingga menjadi orang khususnya". Saya katakan bahwa sejumlah ulama besar Syiah telah meriwayatkan hadis dari Ibnul Ju'abi, seperti Syeikh Mufid. Ibul Ju'abi wafat pada abad keempat, tepatnya pada tahun 355 H.

Berikutnya ialah Syeikh Abu Ja'far Ahmad ibn Muhammad ibn Khalid Al-Barqi, penulis Al-Mahasin. Ia mengarang Kitabut Thabaqot, Kitabut Tarikh, Kitabur Rijal. Abu JA'far Al-Barqi wafat pada tahun 274 H, dikatakan pula pada tahun 280 H.