Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Mengenang Kepergian Imam yang Terasing di Samarra

1 Pendapat 05.0 / 5

Imam Hassan Askari as selalu memberi salam kepada siapa pun yang beliau temui, dan memperlakukan semua orang dengan penuh penghormatan dan rendah hati.
Hari ini tanggal 8 Rabiul Awal bertepatan dengan hari gugurnya Imam yang tertindas dan terasing, pada tahun 260 Hijriah di kota Samarra. Imam kesebelas umat Islam, Imam Hassan Askari as yang terkenal memiliki perangai indah, ibadah seorang arif, dan akhlak nabi telah membuat hati masyarakat tertambat, dan beliau membimbing mereka ke jalan kebenaran.
 
Imamah merupakan salah satu prinsip dasar dari Ushuludin yang diyakini oleh para pengikut Ahlul Bait as. Dari sudut pandang ajaran ini, Imamah atau kepemimpinan para Imam setelah Nabi Muhammad Saw, merupakan kelanjutan risalah Kenabian yang diberikan kepada Rasulullah Saw, dan mereka adalah lentera hidayah, serta perahu keselamatan bagi umat Islam, dan muka bumi tidak akan pernah kosong dari Imam dan pemimpin.
 
Imam Ridha as, Imam kesembilan dari keturunan Rasulullah Saw berkata, “Sesungguhnya kedudukan Imamah lebih unggul dan lebih tinggi dari apa yang bisa dipahami oleh akal dan pemikiran biasa, atau yang diperoleh dari pendapat serta pendangan masyarakat, atau dari apa yag ditentukan dan dipilih masyarakat.”
 
Dengan demikian pengganti Rasulullah Saw yang sebenar-benarnya ini memiliki sifat-sifat unggul, dan kedudukan Ilahi. Imam terus tersambung dan mendapat sokongan bantuan ghaib, dan ilham dari langit, oleh karena itu di setiap masa, Imam memiliki derajat keilmuan dan pengetahuan yang tertinggi. Ia mengetahui semua kebaikan dan rahasia yang diperlukan bagi kebahagiaan dunia serta akhirat manusia.
 
Imam memiliki sifat maksum atau terjaga dari dosa dan kesalahan, oleh karenanya Imam di setiap zaman adalah orang paling bertakwa dan paling adil, memiliki derajat kemuliaan akhlak dan perilaku paling tinggi. Di banyak hadis dijelaskan tentang kedudukan Imam, dan kedudukan ini merupakan sebuah tanggung jawab berat yang diberikan Allah Swt, dan Imam memiliki sebuah potensi serta kelayakan khusus yang bersumber dari Allah Swt.
 
Ketaatan dan kepatuhan pada Imam dalam lahir dan batin di semua urusan dunia dan akhirat akan menyampaikan manusia pada keselamatan dan kebahagiaan, dan hal itu adalah kewajiban bagi Muslim. Generasi para Imam merupakan keturunan Rasulullah Saw. Jumlah mereka 12 orang dan yang terakhir adalah Imam Mahdi af yang sekarang berada di masa keghaiban, dan merupakan juru selamat umat manusia.

Nama beliau Hassan, memiliki kuniyah Abu Muhammad, dan julukan terkenalnya Zaki dan Askari. Julukan lain yang disematkan kepada beliau adalah Khalis, Hadi, Khas, Shamit, Siraj, dan Taqi. Selain itu beliau juga dikenal dengan Ibnu Al Ridha. Ibu beliau adalah perempuan yang paling banyak memiliki keutamaan di masanya. Imam Hadi as memuji beliau dan mengatakan, “Salil adalah namanya, karena keluar dari semua cela, cacat, kehinaan dan ketidaksucian.”
 
Imam Hassan Askari as tumbuh dalam asuhan ayah mulianya Imam Hadi as, dan ibunya yang suci, Salil. Karena kehidupan setiap Imam dalam bentuk tertentu harus berhadapan dengan banyak kesulitan, kehidupan Imam Hassan Askari juga diwarnai dengan kesempitan dan keterasingan. Dua tahun setelah terlahir ke dunia, Imam Askari diasingkan bersama keluarganya ke kota Samarra, atas perintah Khalifah lalim Mutawakil Abbasi.
 
Di kota yang lebih mirip barak dan pangkalan militer itu, Imam Hadi as, disusul Imam Askari as berada di bawah pengawasan superketat, dan setiap kontak sekecil apa pun yang dilakukan oleh para pengikut Syiah, dengan Imam, diawasi ketat. Para pengikut Syiah dan pecinta Ahlul Bait as tidak bisa dengan mudah bertemu Imam, dan Imam hanya bisa menjalin hubungan dengan para pengikutnya melalui perantara. Lewat perantara inilah Imam menjawab pertanyaan dan memenuhi kebutuhan para pengikut Syiah.
 
Imam Askari as lebih banyak berada di penjara Mutawakil, dan menanggung penderitaan yang luar biasa di dalamnya. Akan tetapi ketakwaan, ketawadhuan, rendah hati, perkataan yang baik, dan kepribadian agung serta arif yang dimiliki Imam Askari as, telah menarik hati para tahanan sehingga mendorong mereka mendekat kepada kebenaran dan menyambungkannya dengan Allah Swt.
 
Dari Muhammad bin Ismail Alawi diriwayatkan, Imam Askasi ditahan di ruang penjara dekat Ali bin Utash yang merupakan musuh paling bengis dari Ahlul Bait as, ia melakukan banyak kejahatan terhadap putra, dan keluarga Rasulullah Saw. Ali bin Utash mendapat perintah dari Khalifah Mutawakil, berlakulah keras terhadap Imam Askari semampunya, dan ganggulah ia.
 
Muhammad bin Ismail berkata, “Belum lewat sehari, orang itu berperilaku sangat sopan di hadapan Imam Askari. Ia sangat menghormati dan mengagungkan Imam Askari bahkan tidak berani menatap mata Imam, dan selalu tertunduk di hadapannya. Ketika Imam Askari mendatanginya, ia menjadi Syiah dengan akidah terbaik, dan menjadi pecinta Ahlul Bait as, dan Imam Hassan Askari as.”

Imam Askari sangat menganjurkan untuk mengedepankan toleransi dan rekonsiliasi dengan masyarakat yang tidak tahu, dan para penentang. Beliau berkata, bertoleransi dengan masyarakat yang tidak tahu lebih baik dari setiap sedekah, karena dengan perilaku baik kalian ini, mungkin saja musuh berubah jadi kawan, dan menemukan jalan yang benar.
 
Imam Hassan Askari as menganggap sikap rendah hati sebagai nikmat besar yang tidak membangkitkan kedengkian orang-orang hasud, dan beliau menganjurkan semua orang untuk bersikap rendah hati dalam perilaku, dan menjauhi sifat angkuh serta senang pujian.
 
Imam Hassan Askari as sebagaimana ayah-ayahnya sangat memperhatikan ibadah. Beliau ketika tiba waktu salat akan meninggalkan pekerjaan apa pun, dan tidak mendahulukan apa pun dari salat. Abu Hashim Jafari mengatakan, “Suatu hari saat mengunjungi Imam Askari, Imam saat itu tengah sibuk menulis sesuatu, ketika waktu salat tiba, Imam meninggalkan pekerjaannya, dan bangkit mendirikan salat.”
 
Khalifah Mutawakil menugaskan dua sipir penjara paling bengis dan paling buruk perangai untuk menjaga Imam Askari, akan tetapi dikarenakan interaksi keduanya dengan Imam, mereka berubah dan mencapai kedudukan tinggi dalam ibadah dan munajat kepada Allah Swt.
 
Oleh karena itu, keduanya dipanggil oleh Mutawakil, dan ditanya, bagaimana Ibnu Al Ridha bisa mengubah kalian hingga seperti ini ? Keduanya menjawab, “Apa yang harus kami katakan tentang seorang yang berpuasa di setiap siang, dan beribadah di setiap malam, dia tidak berbicara apa pun selain zikir dan kata-kata tentang Allah Swt, ketika dia memandang kami, tubuh kami bergetar, dan kami kehilangan kendali atas diri kami sendiri.”
 
Imam Hassan Askari as memberikan nasihat kepada Syiah-nya, “Aku menasihati kalian agar takut kepada Allah Swt, dan menjaga kesalehan dalam beragama, bekerja keras di jalan Allah Swt dan berkata jujur, seperti inilah Nabi Muhammad Saw berperilaku. Salatlah di antara kabilah-kabilah mereka (Ahlu Sunnah), dan hadirilah salat jenazah mereka, jenguklah dari mereka yang sakit, dan penuhilah hak-hak mereka, karena jika setiap orang dari kalian saleh dalam beragama, berkata jujur, memegang amanah dan berperilaku baik dengan masyarakat, lalu mereka mengatakan, ‘Orang ini seorang Syiah’, maka aku akan gembira. Takutlah kepada Allah Swt dan jadilah penghias bagi Kami, bukan jadi sumber keburukan dan kehinaan. Datangkanlah segala bentuk kecintaan kepada Kami, dan jauhkan keburukan dari Kami, karena setiap kebaikan tentang Kami, sesungguhnya Kami layak mendapatkannya, dan setiap keburukan tentang Kami, sesungguhnya Kami tidak seperti itu. Kami di dalam Kitab Allah Swt adalah kebenaran yang tetap, dan kedekatan Kami dengan Rasulullah Saw dan Allah Swt membuat Kami suci, tidak ada seorang pun yang mengaku memiliki kemuliaan semacam ini selain Kami, kecuali ia berbohong. Ingatlah selalu Allah Swt dan kematian, bacalah Al Quran, sampaikan selawat sebanyak-banyakya kepada Rasulullah Saw, karena selawat Nabi Muhammad Saw memiliki 10 kebaikan. Ingat-ingatlah dengan baik apa yang aku nasihatkan kepada kalian. Aku titipkan kalian kepada Allah Swt, dan aku mengirim salam untuk kalian.”