Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Hakikat Kematian Menurut Al-Quran(2)

1 Pendapat 05.0 / 5

1. QS. al-Nisa: 97 – Ayat ini bercerita tentang orang-orang yang meninggal dalam keadaan teraniaya karena memilih tinggal di lingkungan yang buruk dan tidak mendukung. Ketika mereka mati, malaikat bertanya mengapa mereka tidak meninggalkan tempat itu jika merasa tertekan. Para malaikat menegaskan bahwa alasan mereka tidak dapat diterima karena mereka seharusnya mencoba berhijrah ke lingkungan yang lebih baik. Dialog ini menunjukkan bahwa mereka yang telah meninggal masih dapat berinteraksi dan berbicara dengan malaikat, yang menandakan bahwa kesadaran dan identitas mereka tidak berakhir dengan kematian. Dengan kata lain, kematian hanya menandai perpindahan manusia dari dunia fisik ke alam yang lebih tinggi, di mana ia tetap hidup dalam penjagaan malaikat.

2. QS. al-Sajdah: 10 – Di sini, orang-orang yang meragukan kebangkitan bertanya bagaimana mungkin mereka akan dihidupkan kembali padahal tubuh mereka sudah hancur di dalam tanah. Al-Quran menjawab bahwa keraguan ini hanyalah dalih untuk menutupi sikap keras kepala mereka terhadap akhirat. Sebenarnya, “diri” atau “personalitas” sejati manusia bukanlah partikel-partikel tubuh fisiknya, melainkan sesuatu yang lebih dalam. Malaikat Maut telah mengumpulkan seluruh “diri” manusia saat kematian, bukan sekadar jasadnya. Ini menunjukkan bahwa meski tubuh fisik mereka hancur, esensi diri manusia atau identitas sejatinya tetap hidup. Al-Quran mengajarkan bahwa kekuatan Allah yang Mahakuasa dapat menghidupkan kembali manusia dalam wujudnya yang baru, karena bagi Allah, mengumpulkan kembali personalitas seseorang bukanlah sesuatu yang mustahil.

3. QS. al-Zumar: 42 – Ayat ini menjelaskan bahwa Allah menahan jiwa manusia saat kematian dan saat tidur. Jiwa seseorang yang ditetapkan mati tidak dikembalikan, sementara jiwa yang hanya tertidur dikembalikan ke tubuhnya hingga waktu yang ditentukan. Ayat ini menggarisbawahi kesamaan spiritual antara tidur dan mati; tidur dianggap sebagai bentuk “kematian sementara” di mana jiwa sejenak berpindah ke alam yang lain sebelum akhirnya kembali. Sementara dalam kematian sejati, jiwa berpindah secara permanen ke alam lain dan berada di luar jangkauan fisik manusia. Ini menunjukkan bahwa, dari perspektif spiritual, tidur dan mati hanyalah bentuk transisi ke dimensi lain, meskipun manusia tidak sepenuhnya menyadari perpindahan tersebut saat tidur.

Dari ketiga ayat ini, Al-Quran menegaskan bahwa kematian bukanlah akhir atau kehancuran mutlak, melainkan suatu proses peralihan dari satu keadaan hidup ke keadaan lain. Realitas manusia tidak musnah ketika tubuhnya hancur, karena personalitas sejatinya berada di dalam jiwanya, bukan pada jasadnya. Al-Quran juga menekankan bahwa manusia, dalam keadaan ini, tetap dapat berinteraksi dengan makhluk-makhluk yang tidak kasat mata seperti malaikat, yang menegaskan keberlanjutan eksistensinya.

Dengan demikian, Al-Quran menunjukkan bahwa karakter hakiki kematian mirip dengan tidur, yaitu peralihan menuju dimensi yang berbeda, di mana jiwa manusia tetap berada dalam penjagaan Allah. Meskipun secara fisik kematian terlihat sebagai akhir, dari perspektif spiritual, kematian merupakan langkah menuju kehidupan yang berbeda, dan esensi spiritual manusia tetap ada dan tidak musnah.