Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Sayyidah Fathimah as, Teladan Lintas Masa dan Multi Dimensi(1)

1 Pendapat 05.0 / 5

Al-Quran telah mensinyalir kehidupan beberapa wanita teladan dan berbagai aktifitas positif mereka dalam aspek-aspek tertentu. Istri Fir’aun, Asyiah binti Muzahim merupakan figur perlawanan dalam mempertahankan keimanan hingga titik darah penghabisan. Istri Fir’aun hidup dengan kondisi suami yang mengaku dirinya sebagai “tuhan yang paling tinggi” (QS. An-Naziat:24). Dia mengatakan, “Aku tidak mengenal tuhan bagimu selain aku.” (QS. Al-Qashah:38)  Padahal, hanya Allah SWT yang pantas mengucapkan kalimat ini, “Sucikanlah nama Tuhanmu yang paling Tinggi.” (QS. Al-A’la:1)

Ada hal menarik dari doa yang dipanjatkan istri Fir’aun dalam surat at-Tahrim ayat 11. Kecintaan pada Allah adalah tujuan hidupnya yang lebih utama dari segalanya, “Wahai Tuhanku, bangunkanlah untukku di sisi-Mu sebuah rumah di dalam surga.”

Yang dimohonkan istri Fir’aun pertama adalah perjumpaan dengan Allah (liqa’ Allah) karena pertama ia berkata, “Wahai Tuhanku, bangunkan untukku di sisi-Mu (‘indaka)” baru setelah itu ia minta dibangunkan rumah di surga dan berkata, “…sebuah rumah (baitan) di dalam surga.”

Inilah salah satu sisi teladan istri Fir’aun, kecintaan kepada Allah SWT dan mendapatkan keridhaan-Nya, melebihi keinginannya untuk  mendapatkan pahala surga.

Dua putri Nabi Syuaib as, yang salah satunya kemudian menjadi istri Nabi Musa as dengan tetap menjaga batasan-batasan syariah telah melakukan aktifitas ekonomi. Mata pencaharian mayoritas masyarakat kala itu adalah mengembala. Mereka memberikan minum ternaknya setelah antrian pengembala lelaki selesai sehingga tidak terjadi ikhtilath atau bercampur baur dengan laki-laki non muhrim. Mereka juga menjaga iffah dan rasa malu ketika berhadapan dengan laki-laki non muhrim, meskipun harus menjadi tulang punggung ekonomi keluarga karena kondisi ayahnya telah lanjut usia.[1]

Ayahnya seorang nabi tidak melarang aktifitas mereka, itu artinya perbuatan mereka dibenarkan syariat. Karena itu, aktifitas ekonomi kedua putri Nabi Syuaib as akan menjadi inspirasi dan teladan bagai para wanita yang hendak melakukan berbagai aktifitas ekonomi dengan tetap dengan menjaga batasan syariat.

Dalam surat an-Naml ayat 29-35 telah menjelaskan tentang sikap demokratis, argumen-argumen logis, dan kebijakan-kebijakan politik Ratu Balqis yang jauh dari sikap otoriter dan arogansi. Sikapnya itu akan menjadi teladan bagi semua pemimpin, baik pada radius kecil maupun besar, baik pada instansi pemerintahan maupun swasta.

Al-Quran tidak membantah langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Ratu Balqis. Padahal, salah satu metode dalam Al-Quran ialah jika sesuatu itu salah, maka akan langsung dibantah. Sebagai contoh yang telah terjadi pada Fir’aun. Ia bertaubat tatkala maut menjemput, Allah langsung menolak taubatnya dengan tegas,  “Ketika Fir’aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israel, dan aku termasuk orang-orang yang berserah. Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus:90-91)

Bersambung...