Sayyidah Fathimah as, Teladan Lintas Masa dan Multi Dimensi(2)
Al-Quran telah menjadikan Maryam as sebagai teladan Iffah dan kesucian diri.[2] Ketika seorang malaikat datang yang menjelma menjadi seorang lelaki asing, beliau memohon perlindungan kepada Allah Swt, “Lalu Kami mengutus ruh Kami kepadanya, lalu ia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna. Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa. Dia (malaikat) berkata, “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu.” (QS. Maryam:17-19)
Dalam Injil Matius 1:18-25 dan Lukas 1:26-45 sosok Maryam as baru disinggung saat hendak ditiupkan ruh Nabi Isa as kepadanya. Pra kelahiran Nabi Isa as kepribadian Maryam as sama sekali tidak pernah diceritakan.[3] Berbeda dengan Al-Quran yang telah menjelaskan sosok agung Maryam as, jauh-jauh hari sebelum kelahirannya. Artinya, sosok luhur beliau sebagai dirinya sendiri pun telah dijelaskan dalam Al-Quran, bukan hanya karena ada hubungan kekeluargaan dengan Nabi Isa as.
Jika wanita teladan lainnya yang telah disebutkan dalam Al-Quran sebagai teladan dalam aspek tertentu, atau untuk masa tertentu, maka Fathimah az-Zahra as merupakan teladan dalam segala aspek kehidupan, dan untuk semua masa. Karena itu, beliau merupakan teladan ‘lintas masa’ dan ‘multi dimensi’. Allah SWT dalam Al-Quran menyebutkan Maryam as sebagai penghulu para wanita pada masanya, “Wahai Maryam, sesungguhnya Alloh telah memilihmu dan mensucikanmu, dan telah memilihmu atas para wanita di alam.” (QS. Ali Imran:42)
Sedangkan Rasulullah saw yang ucapannya merupakan wahyu Allah [QS an-Najm:3-4] telah mengumumkan bahwa Fathimah az-Zahra as merupakan penghulu para wanita di seluruh masa. “Wahai Fathimah, apakah engkau tidak senang menjadi penghulu para wanita seluruh alam, penghulu wanita umat ini, dan penghulu para wanita mukminah?“[4]
Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya Fathimah as adalah penghulu para wanita. Seseorang bertanya kepada beliau, “Apakah dia hanya penghulu para wanita di masanya?” Rasulullah menjawab, “Itu adalah Maryam putri Imran, adapun putriku, Fathimah dia adalah penguhulu para wanita seluruh alam dari awal hingga akhir.”[5]
Alusi dan Ruhul Ma’ani menyatakan bahwa Fathimah paling utama dari seluruh perempuan masa dulu maupun yang akan datang. Dengan hadis ini dapat ditetapka bahwa Fathimah merupakan perempuan termulia, karena merupakan jiwa dan diri Rasulullah Saw. Karena itu ia pun lebih utama dai Aisyah.[6]
Mungkin ada yang bertanya, jika Maryam as penghulu wanita pada masanya saja, kenapa Al-Quran menggunakan kata ‘’aalamiin’, yang secara bahasa artinya ialah seluruh alam?
Penggunaan seperti ini dalam Al-Quran merupakan hal biasa, sebagaimana halnya tentang Bani Israil Allah SWT telah mengutamakan mereka di alam semesta, “Wahai Bani Israil! Ingatlah nikmat-Ku yang telah Aku berikan kepada kalian, dan Aku telah mengutamakan kalian dari semua umat yang lain di alam ini.” (QS.Al-Baqarah:47)
Tentu, maksud Al-Quran bukan mengutamakan Bani Israil di seluruh alam dari awal hingga akhir, akan tetapi mereka diutamakan atas umat yang lainnya pada masanya saja, dan saat mereka beriman.
[1] QS. Al-Qashash:23-25
[2] QS at-Tahrim:12
[3] Alkitab, Perjanjian Baru
[4] Naisaburi, Mustadrak ash-Shahihain, jil 3, hal 156
[5] Majlisi,Biharul Anwar, jil 43, hal 24
[6] Alusi, Ruhul Ma’ani, jil 3, hal 138