Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

FATIMAH ZAHRA DAN PEWAHYUAN (4)

0 Pendapat 00.0 / 5

3. Wahyu Allah untuk Fathimah puteri Nabi

Bagaimana halnya wahyu dalam konteks Ahlul Bait as, seperti Sayidah Fathimah as, putri Rasulullah Saw yang telah Allah sucikan di dalam Al-Qur’an? Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kalian, wahai Ahlul Bait dan membersihkan kalian sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab [33]: 33)

Demikian halnya riwayat muktabar yang menegaskan kesucian para Ahlul Bait Nabi Saw. Suci adalah konsekuensi penerimaan wahyu. Karena menerima sesuatu yang suci dari Yang Mahasuci, maka Ahlul Bait as yang menerima wahyu haruslah suci. Ahlul Bait Nabi disucikan bukan berarti pernah kotor. Kesucian mereka adalah akibat niscaya pancaran cahaya kesucian dari Allah Swt Yang Mahasuci sebagai Sebab Sejati.

Az-Zahra sebagai manusia suci, secara duniawi suci, lahir dari Nabi yang suci, tidak pernah menyembah berhala, tidak pernah syirik, dan tidak pernah bermaksiat. Karena itu, Az-Zahra menerima wahyu (dalam pengertian yang luas) adalah keniscayaan.

Jangankan manusia selain Nabi, seperti Sayidah Maryam as, Sayidah Sarah as, Ibunda Nabi Musa as dan Sayidah Fathimah as, makhluk Allah Swt yang lain pun disebutkan dalam Al-Qur’an menerima wahyu:

1. Hawariyun para sahabat setia Nabi Isa AS:

Dan (ingatlah), ketika Aku wahyukan kepada pengikut-pengikut Isa yang setia, “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku.” Mereka menjawab, “Kami telah beriman, dan saksikanlah (wahai Rasul) bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (Muslim).” (QS. Al-Maidah [5]: 111)

2. Lebah, sebagaimana telah disebutkan pada poin 2 di atas. (QS. An-Nahl [16]: 68)

3. Langit:

Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. (QS. Fusshilat [41]: 12)

4. Bumi:

karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan (yang sedemikian itu) padanya. (QS. Az-Zalzalah [99]: 5).

Dalam ranah ilmu tasawuf wali menerima kasyaf, syuhud (penyingkapan), ilmu ladunni, mawhibah dan sebagainya adalah lumrah. Itu semua adalah wahyu yang dalam pemahaman orang umum disebut ilham, padahal sebenarnya dalam makna primer ia adalah wahyu.

Bagi sebagian besar pengikut Ahlulbait, hal itu merupakan keniscayaan dari kesucian Fatimah Zahra. Tapi sebagian awam memahami kata wahyu secara kaku akibat pembatasan makna, apalagi para aktivis teologi pengkafiran selalu berupaya menciptakan aneka fitnah termasuk memelintir ucapan dan tulisan.