Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

27 Rajab: Bi’tsah Rasulullah Saw, Seruan Ilahi untuk Keadilan dan Kemanusiaan(1)

0 Pendapat 00.0 / 5

Bi’tsah dalam Islam mengacu pada pengutusan seorang nabi pilihan Allah Swt kepada umat manusia untuk membawa mereka pada jalan kebenaran, keadilan, dan kedamaian sejati. Istilah ini memiliki makna mendalam yang mencakup kebangkitan spiritual dan sosial umat manusia. Dalam sejarah Islam, Bi’tsah merujuk pada momen bersejarah ketika Nabi Muhammad Saw menerima wahyu pertama dari Allah Swt melalui Malaikat Jibril di Gua Hira, Gunung Nur, di sekitar Mekah.

Peristiwa ini menandai titik awal turunnya Islam sebagai sistem kehidupan yang sempurna dan rahmat bagi seluruh alam. Menurut pendapat mayoritas ulama Ahlul Bait, Bi’tsah Rasulullah saw terjadi pada tanggal 27 Rajab, 13 tahun sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Selain itu, peristiwa ini kerap dirangkaikan dengan Isra Mikraj, perjalanan spiritual Rasulullah Saw yang membawa pesan kebangkitan umat manusia kepada tingkat kesadaran tertinggi akan keberadaan Allah Swt.

Bi’tsah bukan sekadar peristiwa historis, melainkan sebuah tonggak monumental yang mengubah arah peradaban manusia. Dengan dimulainya Bi’tsah, risalah Islam membawa misi universal yang menembus batas ruang dan waktu. Nabi Muhammad Saw diutus tidak hanya untuk satu kaum, tetapi untuk seluruh umat manusia sebagai rahmat bagi alam semesta.

Bi’tsah sebagai Cahaya di Tengah Kegelapan

Menurut Imam Khamenei, Bi’tsah membawa cahaya yang menerangi jalan bagi umat manusia untuk keluar dari kegelapan kebodohan dan penghambaan kepada selain Allah. Beliau menjelaskan bahwa inti dari Bi’tsah adalah membangkitkan manusia dari belenggu tirani dan arogansi. Pesan ini tercermin dalam firman Allah Swt yang menyebut Nabi Muhammad saw sebagai rahmat bagi seluruh alam (QS. Al-Anbiya: 107).

Rahbar juga menyoroti bahwa kebodohan (jahl) adalah musuh abadi dari nilai-nilai Bi’tsah. Namun, kebodohan yang dimaksud bukan hanya ketidaktahuan, melainkan kebodohan yang terorganisasi, yang sering kali dimanfaatkan oleh kekuatan arogan untuk menindas dan mengeksploitasi umat manusia. Dalam dunia modern, bentuk kebodohan ini terwujud dalam sistem global yang mendominasi melalui politik imperialisme, ketidakadilan ekonomi, dan penyalahgunaan teknologi.

Kembali kepada Fitrah Ilahi

Rahbar menegaskan bahwa tujuan utama Bi’tsah adalah mengembalikan manusia kepada fitrah ilahi, yaitu kecenderungan alami manusia untuk mencintai kebenaran, keadilan, dan keimanan kepada Allah Swt. Dalam Nahjul Balaghah, Imam Ali bin Abi Thalib as menjelaskan:

“Allah Swt mengutus rasul-Nya di antara manusia agar mereka mengingat janji fitrah mereka kepada Tuhan, mensyukuri karunia-Nya, serta membangkitkan akal dan hati mereka.”

Imam Khamenei menguraikan bahwa Rasulullah Saw hadir untuk menyampaikan pesan kepada umat manusia agar mengingat perjanjian mereka dengan Allah Swt. Secara fitriah, setiap manusia telah berjanji untuk mengabdi hanya kepada Allah dan menjalani kehidupan berdasarkan nilai-nilai keadilan, kebebasan, dan kemuliaan. Rasulullah Saw diutus untuk mengingatkan manusia akan janji ini dan membimbing mereka menuju kehidupan yang penuh berkah.