Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Sumbangsih Imam Ali Zainal Abidin di Balik Kepedihan Demi Kepedihan

0 Pendapat 00.0 / 5

Kehidupan Imam Husain a.s. penuh dengan ajaran dan keteladanan. Salah satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah peran putranya, yang kelak menjadi penerus risalah para leluhurnya, yaitu Imam Ali Zainal Abidin a.s. Sebagai salah satu Imam Maksum, beliau membuka mata umat manusia tentang bagaimana memantaskan diri di hadapan Tuhan dalam beribadah serta menempuh perjalanan spiritual menuju hakikat sejati.

Salah satu warisan besar beliau adalah Shahifah Sajjadiyah, sebuah kumpulan doa yang, meskipun tidak terlalu tebal, mengandung makna yang begitu mendalam. Jika kandungannya diuraikan secara rinci, maka diperlukan banyak jilid buku untuk menjelaskannya. Doa-doa dalam Shahifah Sajjadiyah tidak hanya selaras dengan Al-Qur’an, tetapi juga menjadi tafsir khusus bagi banyak ayat di dalamnya. Bahkan, manusia biasa yang bukan sekelas Imam Maksum pun dapat merasakan dan mencicipi kenikmatan dalam penyembahan dan penghambaan kepada-Nya melalui doa-doa tersebut.

Salah satu poin penting yang diajarkan oleh Imam Ali Zainal Abidin a.s. adalah bagaimana cara yang benar dalam mensifati dan memuji Allah SWT. Sebagai Zat Yang Maha Nyata bagi seluruh manusia, Allah SWT tidak dapat disifati dengan keterbatasan akal manusia. Jika manusia mencoba mensifati-Nya secara bebas, bukan hal yang aneh jika mereka akan terjatuh dalam kesalahan—baik dengan mensifati-Nya secara kurang atau justru berlebihan hingga menyerupai makhluk-Nya.

Oleh karena itu, para Imam Maksum a.s. berulang kali menasihatkan agar manusia mensifati Allah SWT sebagaimana Allah SWT mensifati diri-Nya sendiri dalam Al-Qur’an. Dengan mengikuti petunjuk ini, manusia dapat menghindari kesalahan dalam memahami dan mengenal-Nya, serta tetap berada di jalan yang benar dalam perjalanan spiritual mereka.

Ulasan

Peran Imam Ali Zainal Abidin a.s. dalam sejarah Islam tidak hanya sebatas sebagai penerus garis keturunan Rasulullah, tetapi juga sebagai tokoh yang membawa pencerahan dalam aspek spiritual dan intelektual umat. Beliau hidup dalam masa yang penuh tekanan politik dan penindasan, namun tetap mampu mewariskan ajaran yang abadi, terutama melalui doa-doanya yang sarat makna.

Karya beliau, seperti Shahifah Sajjadiyah, tidak hanya menjadi panduan dalam berdoa, tetapi juga menawarkan refleksi mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, keadilan, serta nilai-nilai etika dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah tantangan dunia modern yang sering kali mengabaikan aspek spiritual, warisan Imam Ali Zainal Abidin a.s. bukan saja relevan, tetapi sebuah keharusan sebagai sumber inspirasi bagi mereka yang mencari makna dalam ibadah dan perjalanan spiritual. []