Kesempurnaan Jasmani dan Rohani
Manusia terdiri dari dua unsur utama, yaitu jasmani dan rohani. Di satu sisi, unsur jasmani telah sempurna sejak penciptaannya dan hanya perlu dirawat agar tetap optimal. Sebaliknya, unsur rohani harus terus diperbaiki melalui upaya spiritual. Kesempurnaan jiwa sangat bergantung pada pembangunan unsur rohani, yaitu dengan mengenali dan mendekatkan diri kepada Allah.
Selain itu, alam semesta sendiri diciptakan dalam keadaan bertasbih kepada Allah. Guruh, tumbuhan, dan seluruh ciptaan memuji-Nya secara konstan. Doa, adzan, syahadat, dan gerakan shalat merupakan manifestasi pengakuan terhadap keesaan Allah. Demikian pula, manusia memiliki kapasitas tertinggi dalam mengenal Allah, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Adam, yang mampu menyebutkan nama-nama yang tidak diketahui oleh para malaikat dalam proses penciptaannya sebagai khalifah di bumi.
Langkah-Langkah Mencapai Kesempurnaan Rohani
Untuk mencapai kesempurnaan rohani, terdapat dua hal fundamental yang harus dilakukan:
1. Melakukan segala sesuatu yang baik
2. Meninggalkan segala sesuatu yang buruk
Dalam konteks ini, ilmu irfan, tasawuf, dan akhlak menyebut proses ini sebagai تَزْكِيَةُ النَّفْسِ (tazkiyatun nafs, penyucian jiwa). Selanjutnya, proses تَحَلِّيْ (taḥallī, menghiasi diri) dengan sifat-sifat baik mencakup kewajiban (wājibāt) serta amal yang dicintai Allah (sunnah). Meskipun seluruh perbuatan manusia diatur dalam lima hukum Islam, pada intinya, setiap individu harus memilih antara melakukan kebaikan dan meninggalkan keburukan.
Adapun, terdapat dua jenis kebaikan yang perlu diinternalisasi:
1. Kebaikan universal (esensial): tercatat dalam Al-Qur’an dan diakui secara universal, seperti kejujuran dan keadilan.
2. Kebaikan relatif: bergantung pada norma sosial, contohnya menghormati orang tua melalui tradisi mencium tangan sebagai bentuk penghargaan.
Oleh karena itu, seorang Muslim harus berupaya mewujudkan kedua jenis kebaikan tersebut tidak hanya sebagai hiasan lahiriah, tetapi hingga meresap menjadi bagian dari dirinya. Di sisi lain, manusia juga harus menjalankan prinsip takhallī (تَخَلِّيْ, mengosongkan diri) dengan meninggalkan segala bentuk keburukan, baik yang bersifat esensial maupun relatif.