Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Perjalanan Terakhir Imam Ali Menuju Masjid

0 Pendapat 00.0 / 5

Sejarah Islam mencatat syahidnya Imam Ali bin Abi Thalib a.s. sebagai peristiwa besar yang penuh makna dan menjadi bahan perenungan mendalam. Sebagai seorang Imam yang diberi pengetahuan tentang hal-hal ghaib, beliau mengetahui bahwa Ibnu Muljam (laknatullah alaihi) akan menjadi penyebab kesyahidannya. Namun, pertanyaan besar yang muncul adalah mengapa Imam Ali tetap pergi ke masjid pada malam itu, padahal beliau bisa saja menghindarinya?

Ilmu Ghaib dan Takdir Ilahi

Dalam riwayat yang disampaikan oleh Imam Ali bin Musa Ar-Ridha a.s.,(1) disebutkan bahwa Imam Ali mengetahui kapan dan bagaimana beliau akan syahid. Bahkan, ketika mendengar suara gaduh bebek dari dalam rumahnya, beliau mengatakan bahwa suara tersebut adalah pertanda tangisan yang akan diikuti oleh ratapan duka. Saat putrinya, Ummu Kultsum, meminta beliau untuk shalat di rumah saja, Imam Ali menolak dan tetap pergi ke masjid.

Pengetahuan tentang takdir bukanlah sesuatu yang dapat dihindari oleh para Imam. Namun, hal itu tidak mengubah tugas dan tanggung jawab mereka terhadap umat. Imam Ali adalah sosok pemimpin yang mengemban amanah dengan penuh kesetiaan. Pengetahuannya tentang masa depan tidak menjadi alasan untuk lari dari kewajibannya.

Kebebasan dalam Menerima Takdir

Jawaban Imam Ar-Ridha a.s. atas pertanyaan tentang pilihan Imam Ali mengandung makna yang mendalam. Beliau menjelaskan bahwa Imam Ali memang memiliki kebebasan untuk memilih, namun beliau memilih untuk menjalankan ketetapan Allah. Keputusan beliau bukanlah bentuk kepasrahan tanpa makna, melainkan wujud ketaatan penuh dan mutlak terhadap kehendak Ilahi.

Dalam Islam, konsep takdir tidak berarti seseorang harus pasif dalam menghadapi kehidupan. Justru, manusia diberikan kebebasan untuk memilih bagaimana ia menghadapi takdir tersebut. Imam Ali menunjukkan bahwa menghadapi takdir dengan penuh kesadaran dan keberanian adalah bagian dari kepatuhan dan ketundukan mutlak kepada Allah SWT.

Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:
“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. At-Takwir: 29)

Ayat ini menegaskan bahwa meskipun manusia memiliki kehendak, segala sesuatu tetap dalam genggaman Allah. Imam Ali memilih untuk menjalankan takdirnya dengan penuh kesadaran, bukan dengan ketakutan atau usaha menghindari kematian.

Kesamaan dengan Imam Husain

Teladan ini juga terlihat dalam perjalanan Imam Husain menuju Karbala. Ketika beliau ditanya tentang keputusannya untuk melawan kezaliman, padahal beliau mengetahui bahwa itu akan berujung pada syahidnya, Imam Husain a.s. merujuk pada pesan Rasulullah SAW yang mengatakan:
“Wahai Husain, keluarlah, karena Allah ingin melihatmu terbunuh.” (Ya Husain, ukhruj fa inna Allaha qad sha’a an yaraka qatilan)

Seperti Imam Ali, Imam Husain juga memilih untuk menghadapi takdirnya dengan keberanian. Peristiwa Karbala menunjukkan bahwa dalam Islam, pengorbanan di jalan Allah bukanlah kelemahan, melainkan puncak dari keteguhan iman.

Tanggung Jawab Manusia di Dunia

Dengan tetap pergi ke masjid meski mengetahui bahaya yang mengintainya, Imam Ali menunjukkan bahwa pemimpin sejati tidak akan lari dari tanggung jawabnya. Beliau memahami bahwa peran seorang Imam adalah membimbing umat dalam setiap keadaan, bahkan jika itu berarti menghadapi kematian.

Kesadaran penuh Imam Ali akan tugasnya sebagai Imam dan pemimpin umat dapat dihubungkan dengan tanggung jawab setiap manusia dalam mengemban amanah di dunia ini. Sebagai seorang Muslim, setiap individu memiliki tugas untuk menjalankan perintah Allah, menegakkan keadilan, tidak tunduk pada ancaman, dan berusaha sebaik mungkin dalam menjalani setiap aspek kehidupan. Seperti Imam Ali yang tetap menjalankan kewajibannya meskipun mengetahui konsekuensinya, seorang Muslim juga harus tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam, meskipun menghadapi berbagai rintangan dan ujian.

Allah berfirman dalam Al-Quran:
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, tetapi semuanya enggan untuk memikulnya dan merasa khawatir terhadapnya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS. Al-Ahzab: 72)

Ayat ini menegaskan bahwa manusia diberikan amanah yang besar oleh Allah, dan mereka harus mempertanggungjawabkannya. Seperti halnya Imam Ali yang dengan penuh kesadaran menghadapi takdirnya, seorang Muslim juga harus menjalankan amanah kehidupannya dengan keteguhan, kesabaran, dan keberanian.

Sebuah Refleksi

Imam Ali pergi ke masjid pada malam itu bukan karena ketidaktahuan, melainkan karena kesadaran penuh akan tugasnya sebagai Imam dan pemimpin umat. Beliau memahami bahwa hidup dan mati seseorang berada di tangan Allah, dan seorang pemimpin sejati tidak akan lari dari tanggung jawabnya, bahkan ketika nyawanya terancam. Dengan menerima takdirnya, Imam Ali memberikan teladan keberanian, keteguhan, dan kepasrahan kepada Allah yang menjadi pelajaran bagi seluruh umat Islam hingga hari ini.

Hal ini juga menjadi refleksi bagi setiap Muslim dalam menjalankan amanahnya di dunia. Seperti Imam Ali, manusia harus tetap teguh dalam menjalankan tugas-tugasnya sebagai hamba Allah dan khalifah di bumi, menghadapi tantangan dengan keberanian, dan selalu bersandar pada kehendak Ilahi.

Dengan demikian, hidup seorang Muslim akan selalu bermakna, penuh dengan perjuangan untuk menegakkan kebenaran, serta berusaha menjalankan perintah Allah dengan kesungguhan hati dan ketertundukan mutlak, sekalipun risikonya adalah kematian.[]

(1). عَنِ الْحَسَنِ‌بْنِ الْجَهْمِ قَالَ: قُلْتُ لِلرِّضَا(ع) إِنَّ أَمِیرَالْمُؤْمِنِینَ(ع) قَدْ عَرَفَ قَاتِلَهُ وَ اللَّیْلَةَ الَّتِی یُقْتَلُ فِیهَا وَ الْمَوْضِعَ الَّذِی یُقْتَلُ فِیهِ وَ قَوْلُهُ لَمَّا سَمِعَ صِیَاحَ الْإِوَزِّ فِی الدَّارِ صَوَائِحُ تَتْبَعُهَا نَوَائِحُ وَ قَوْلُ أُمِّ‌کُلْثُومٍ ـ لَوْ صَلَّیْتَ اللَّیْلَةَ دَاخِلَ الدَّارِ وَ أَمَرْتَ غَیْرَکَ یُصَلِّی بِالنَّاسِ فَأَبَى عَلَیْهَا وَ کَثُرَ دُخُولُهُ وَ خُرُوجُهُ تِلْکَ اللَّیْلَةَ بِلَا سِلَاحٍ وَ قَدْ عَرَفَ(ع) أَنَّ ابْنَ‌مُلْجَمٍ لَعَنَهُ اللَّهُ قَاتِلُهُ بِالسَّیْفِ کَانَ هَذَا مِمَّا لَمْ‌یَجُزْ تَعَرُّضُهُ، فَقَالَ ذَلِکَ کَانَ وَ لَکِنَّهُ خُیِّرَ فِی تِلْکَ اللَّیْلَةِ لِتَمْضِیَ مَقَادِیرُ اللَّهِ عَزَّ وَ جَلَّ؛

Dari Al-Hasan bin Al-Jahm: Aku berkata kepada Imam Ridha a.s,:

“Sesungguhnya Amirul Mukminin telah mengetahui siapa pembunuhnya dan juga mengetahui malam serta tempat di mana beliau akan dibunuh. Ketika beliau mendengar suara gaduh bebek-bebek di rumahnya, beliau berkata sendiri: _‘Ini adalah suara wanita-wanita yang meratap, yang diikuti oleh para peratap.’

Ketika Ummu Kultsum (Putri Imam Ali) berkata kepadanya, ‘Seandainya engkau shalat di rumah malam ini dan mengutus orang lain untuk memimpin shalat berjamaah,’ beliau tidak menerima usulan tersebut. Pada malam itu, beliau tetap keluar dan berlalu tanpa membawa senjata, padahal beliau mengetahui bahwa Ibnu Muljam—semoga Allah melaknatnya—akan membunuhnya dengan pedang, sementara melakukan tindakan semacam itu (tidak berjaga-jaga) tidaklah dibenarkan.’

Maka Imam Ridha menjawab: ‘Apa yang engkau katakan memang benar, tetapi beliau sendiri yang memilih agar pada malam itu ketetapan Allah Azza wa Jalla terlaksana.[]