Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Menelusuri Akar Kekerasan terhadap Perempuan dalam Pemikiran Imam Khamenei (2)

0 Pendapat 00.0 / 5

Dominasi, Komodifikasi, dan Kekerasan

Industri mode, kecantikan, periklanan, dan pornografi telah menjadikan perempuan sebagai instrumen penghasil keuntungan. Tubuh perempuan diperas, dikemas, dan dijual atas nama kebebasan. Padahal, kenyataannya, perempuan direduksi menjadi alat objektifikasi seksual.

Dalam budaya kapitalisme, hubungan sakral antara laki-laki dan perempuan—yang seyogianya dibangun atas komitmen, kasih sayang, dan tanggung jawab—berubah menjadi komoditas. Nilai perempuan dinilai dari seberapa besar ia dapat dijual, dilihat, atau menguntungkan. Standar pasar menentukan apa yang harus ia pakai, bagaimana ia tampil, dan bagaimana ia dipandang.

Perempuan akhirnya mengejar standar kecantikan yang tidak manusiawi, berupaya menyesuaikan diri dengan tuntutan pasar yang tak pernah selesai. Martabat kemanusiaannya direduksi menjadi tampilan, bentuk tubuh, dan kegunaan ekonomis.

Yang lebih menyakitkan, kekerasan semacam ini dibungkus dengan istilah “kebebasan perempuan.” Perempuan didorong untuk percaya bahwa tunduk pada standar pasar adalah pilihan sadar mereka. Padahal, ketika media, industri kecantikan, dan jejaring sosial selama bertahun-tahun mengajarkan bahwa nilai seorang perempuan terletak pada produktivitas ekonomi dan lisensi seksual, kebebasan menjadi kata yang kehilangan makna.

Akibatnya, struktur keluarga melemah. Kehidupan individualistik menggerus fondasi rumah tangga yang seharusnya menawarkan kehangatan dan stabilitas. Angka kesendirian meningkat, hubungan emosional runtuh, keluarga monoparental bertambah, dan keadaan sosial dipenuhi kegelisahan.

Perempuan pun sering diberi pesan bahwa menjadi istri atau ibu adalah hambatan bagi ambisi pribadi. Banyak yang akhirnya menekan naluri keibuan mereka demi mengejar standar hidup konsumtif, sementara sebagian lainnya kehilangan keamanan keluarga demi gaya hidup individualistis.

Bersambung...