Kritik atas asumsi usia imam Jawad sebagai prasyarat otoritas
Otoritas sering kali disandarkan pada usia. Dalam imajinasi sosial yang mapan, kematangan biologis dianggap sebagai prasyarat bagi kematangan intelektual dan legitimasi moral. Asumsi ini tampak wajar—bahkan hampir universal—tetapi ia tidak kokoh ketika diuji oleh data historis, baik dalam tradisi keilmuan Islam maupun dalam sejarah akademik modern.
Hubungan antara usia dan otoritas bukanlah hukum alam, melainkan konstruksi sosial yang diperkuat oleh pengulangan. Masyarakat cenderung menormalisasi korelasi antara pengalaman hidup dengan kebijaksanaan, antara durasi temporal dengan akumulasi pengetahuan. Namun korelasi ini bersifat statistik, bukan esensial. Ia menggambarkan kecenderungan umum, bukan keniscayaan individual.
Ketika korelasi ini diabsolutkan menjadi prinsip, ia berubah menjadi bias epistemik: pengetahuan yang datang dari individu muda diragukan validitasnya sebelum diuji substansinya. Keraguan semacam ini bukanlah kehati-hatian metodologis, melainkan prasangka kronologis—sebuah bentuk diskriminasi intelektual yang jarang disadari karena tersembunyi di balik legitimasi konvensi.

