Muhammad al-Jawād: otoritas yang diakui lintas batas mazhab melampaui persepsi sektarian
Muhammad bin ’Ali al-Jawād (195-220 H/811-835 M) kerap dipersepsikan secara sempit sebagai figur internal tradisi Syiah Imamiyah. Dalam narasi populer, ia dikenal sebagai Imam Kesembilan dalam silsilah Dua Belas Imam, yang memikul kepemimpinan spiritual pada usia tujuh atau delapan tahun setelah wafatnya ayahnya, Ali al-Ridā.
Persepsi ini tidak sepenuhnya keliru, tetapi ia sangat tidak lengkap. Ketika literatur Sunni klasik dibaca dengan cermat dan metodis, gambaran yang muncul jauh lebih kompleks. Muhammad al-Jawād tidak hadir semata sebagai simbol polemik mazhab atau sebagai figur yang diklaim secara eksklusif oleh satu tradisi teologis. Sebaliknya, ia muncul sebagai pribadi dari Ahlul Bait yang diakui integritas keilmuan, keluhuran akhlak, dan kedudukannya dalam sejarah Islam—meskipun, atau justru sambil, memikul otoritas pada usia yang sangat muda.

