Ketakwaan Sayyidah Zainab as
Setelah peristiwa Karbala, rombongan tawanan dari keluarga Nabi saw digiring dari Kufah menuju Syam. Dalam perjalanan itu, mereka menempuh jarak jauh dengan penderitaan yang berat, haus, lapar, kelelahan, dan kesedihan yang mendalam. Imam Ali as-Sajjad as menceritakan:
إنَّ عمّتي زينبَ بنت عليّ عليها السلام، مع تلك المصائبِ والمحنِ التي نزلتْ بها في طريقِنا إلى الشام، ما تركتْ نوافلَها الليلية
“Bibiku Zainab binti Ali as, kendati berbagai musibah dan cobaan yang menimpanya dalam perjalanan menuju Syam, Ia tidak pernah meninggalkan sholat sunnah malamnya”
Di perjalanan yang gelap dan menyakitkan itu, dalam keadaan ditawan, dengan luka dan air mata. Ketika orang-orang yang beliau cintai telah tiada, Zainab as tetap berdiri di hadapan Allah , menjaga ibadah malamnya, sebagaimana ia melakukannya sebelum musibah.
Ibadahnya tidak terputus oleh rantai besi yang mengikatnya, keimanannya tidak terguncang oleh cacian dan pukulan, beliau tetap menjaga pengabdiannya kepada Allah SWT.
Itulah Zainab, perempuan jenius Bani Hasyim, yang memiliki disiplin ilmu baik kasbi atau wahbi karena ketakwaannya. Beliau mengajarkan kepada kita bahwa ibadah sejatinya tidak bergantung pada keadaan dan bahwa kedekatan kepada Allah adalah sumber kekuatan bahkan di tengah penghinaan dan penderitaan sekalipun.

