Wanita Jenius Bani Hasyim, Sayyidah Zainab
Ilmu adalah Sumber Kebaikan
Ilmu adalah akar dari seluruh kebaikan. Manusia yang paling berharga adalah mereka yang memiliki pengetahuan paling banyak dan manusia yang paling rendah nilainya adalah mereka yang paling sedikit ilmunya.
Imam Ali as berkata:“Orang bodoh itu mati, walaupun ia hidup.”
Karena valuenya seseorang itu ilmu dan apa yang ia kuasai dengan baik.
Ilmu adalah medan perlombaan dan arena persaingan di antara anak-anak manusia. Siapa yang memperoleh bagian lebih banyak darinya, maka dialah yang lebih maju.
Tidak hanya laki-laki tapi perempuan juga terlibat dalam perlombaan di medan ilmu. Perempuan memiliki kehadiran di sana dan nilainya sama dengan laki-laki, sebagaimana sabda Rasulullah saw:
“Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap laki-laki dan perempuan Muslim. Sungguh, Allah mencintai orang-orang yang menuntut ilmu.”
Jika kita melihat kebodohan masih bersemayam di banyak kalangan kita, maka itu adalah bukti keterbelakangan dan penyimpangan kita dari petunjuk risalah Rasul saw.
Macam-Macam Ilmu
Secara umum, ilmu terbagi menjadi dua:
1. Ilmu Kasbi (Ilmu yang Diperoleh)
Ilmu yang didapat melalui proses belajar, membaca, pengalaman dan pengamatan. Ilmu ini penting dan bernilai, namun belum tentu menjamin orang menjadi bijak dan memahami kedalaman spiritualnya.
2. Ilmu Wahbi (Ilmu Pemberian Ilahi atau Ladunni)
Ilmu ini bukan hanya hasil usaha belajar saja, tapi hasil tazkiytun nafs, penyucian jiwa dengan takwa kepada Allah SWT dan selalu memprioritaskan-Nya, sehingga pertimbangan segala sesuatunya adalah menomor satukan Allah.
Dengan demikian akan mendapatkan anugerah dari Allah berupa ilmu Ladunni (lmu langsung dari Allah tanpa perantara). Sebagaimana Allah berfirman dialam surat al-Baqarah ayat 282:
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Bertakwalah kepada Allah, niscaya Allah mengajarkan ilmu kepadamu. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu.”
Orang yang menguasai ilmu keduanya, ia akan lebih bijak, penuh pertimbangan, cermat dan selalu hati-hati dalam bertindak sehingga setiap langkahnya penuh makna dan bermanfaat.
Ilmu sejati tidak hanya diperoleh melalui proses belajar dan kemampuan intelektual, tetapi juga melalui ketakwaan yang menjadikan hati terbuka untuk menerima cahaya pengetahuan dari Allah.
Ketika tokoh besar seperti Ibnu Abbas ra, meriwayatkan hadis dari Sayyidah Zainab as dengan penuh kebanggaan seraya berkata, “Telah menceritakan kepadaku Sang jenius kita Zainab binti Ali,” maka hal itu cukup menjadi bukti kedudukan tinggi dan keutamaannya dalam bidang ilmu kasbi serta ilmu wahbi.

