Menalar Hadis Ketaatan dan “Amir” Dalam Literatur Sunni (1)
Dalam kitab-kitab Sunni yang menjadi sumber primer di kalangan mereka seperti Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Musnad Ahmad, Musnad al-Bazzar dan Syu‘ab al-Iman li al-Baihaqi, terdapat hadis shahih berikut ini:
من أطاعني فقد أطاع الله، ومن يعصني فقد عصى الله، ومن يطع الأمير فقد أطاعني، ومن يعص الأمير فقد عصاني
Siapa yang mentaatiku, maka ia telah mentaati Allah. Siapa yang membangkang padaku, maka ia telah membangkang pada Allah. Siapa yang mentaati amir (pemimpin), maka ia telah mentaatiku. Siapa yang membangkang pada amir, maka ia telah membangkang padaku
Menarik. Hadis tersebut mengafirmasi adanya sosok amir (pemimpin) yang mana ketaatan dan pembangkangan kepadanya disandingkan nilai/bobotnya dengan ketaatan dan pembangkangan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya SAW. Siapakah amir yang memiliki kedudukan seperti ini? Selain itu, apakah masuk akal kalau amir yang dimaksud itu tidak ma’shum (yakni tidak terjaga dari segala macam dosa dan kesalahan), padahal ketaatan dan pembangkangan kepadanya disandingkan dengan ketaatan dan pembangkangan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya? Bukankah ini menunjukkan kedudukan sang amir yang dimaksud memang sangat istimewa, teramat tinggi dan mulia?
Ternyata di kitab Sunni ada hadis lain yang redaksinya mirip, dan memperjelas siapa sosok amir yang dimaksud. Dalam kitab al-Mustadrak ‘ala al-Shahihain karya al-Hakim jilid 3, halaman 334, tercatat hadis dengan sanad (jalur periwayatan) yang sampai kepada Abu Dzar bahwa Rasulullah Muhammad SAW bersabda:
من أطاعني فقد أطاع الله، ومن عصاني فقد عصى الله، ومن أطاع عليا فقد أطاعني، ومن عصى عليا فقد عصاني
Siapa yang mentaatiku, maka ia telah mentaati Allah. Siapa yang membangkang padaku, maka ia telah membangkang pada Allah. Siapa yang mentaati ‘Ali, maka ia telah mentaatiku. Siapa yang membangkang pada ‘Ali, maka ia telah membangkang padaku
Hadis ini statusnya shahih.
Bersambung...

