Tanda Iman (1)
Cinta selalu menjadi inti dari setiap pencarian spiritual manusia. Ia bukan hanya emosi, tetapi keadaan batin yang menghubungkan manusia dengan sumber makna yang lebih tinggi. Dalam Islam, cinta tidak sekadar perasaan yang lahir dari afeksi, melainkan bagian dari struktur iman. Cinta kepada Allah, kepada Rasul, dan kepada orang-orang yang telah menjadi perwujudan nilai-nilai ilahiah merupakan poros bagi seluruh amal dan keyakinan. Di antara tokoh yang menjadi pusat dimensi cinta tersebut, Imam ʿAlī ibn Abī Ṭālib menempati posisi yang tak tergantikan. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa mencintai Imam ʿAlī adalah tanda iman, dan membencinya adalah tanda kemunafikan. Hadis ini bukan sekadar penilaian emosional, melainkan pernyataan metafisik tentang hubungan antara pengetahuan, kebenaran, dan cinta. Imam ʿAlī menjadi simbol iman yang hidup karena dalam dirinya tercermin keseimbangan antara ilmu, amal, dan kasih.
Makna cinta kepada Imam ʿAlī sebagai tanda iman dapat dibaca dalam dua lapis makna: yang pertama bersifat eksoteris, yaitu kecintaan sebagai bentuk kesetiaan kepada kebenaran yang dibawa oleh Nabi; dan yang kedua bersifat esoteris, yakni cinta sebagai penyatuan batin dengan nur kenabian. Dalam dimensi pertama, mencintai beliau berarti berpegang pada prinsip-prinsip keadilan, keberanian, dan keikhlasan. Dalam dimensi kedua, mencintai beliau berarti menyelaraskan hati dengan sumber hikmah yang menjadi warisan Nabi. Dengan demikian, cinta kepada Imam ʿAlī tidak berhenti pada bentuk penghormatan personal, melainkan berkembang menjadi orientasi eksistensial yang menuntun manusia menuju iman yang sejati.
Hadis yang menyebut “lā yuḥibbu ʿAlīyan illā muʾmin, wa lā yubghiḍuhu illā munāfiq” tidak hanya menggambarkan cinta sebagai ukuran iman, tetapi juga mengungkapkan keterkaitan antara batin yang beriman dan kemampuan untuk mencintai kebenaran. Dalam diri Imam ʿAlī, kebenaran itu bukan ide abstrak, tetapi kenyataan hidup. Ia menjadi manifestasi nilai-nilai ilahiah dalam kehidupan manusia. Karena itu, mencintainya berarti mencintai kebenaran yang hidup, dan membencinya berarti menolak cerminan nilai-nilai Tuhan dalam dunia. Hadis tersebut menunjukkan bahwa cinta sejati tidak lahir dari kedekatan lahiriah, tetapi dari kesesuaian batin dengan hakikat kebenaran.
Iman dalam Islam selalu bersifat dinamis. Ia bukan sekadar pernyataan lisan, tetapi proses kesadaran yang berkembang melalui pengetahuan, pengalaman, dan kasih. Cinta kepada Imam ʿAlī menjadi ukuran karena ia menguji kedalaman iman seseorang terhadap nilai-nilai moral yang diajarkan oleh Rasulullah. Imam ʿAlī adalah cermin keadilan, keberanian, dan kebijaksanaan. Siapa yang mencintainya berarti mencintai keadilan, keberanian, dan kebijaksanaan itu sendiri. Maka cinta kepada beliau bukan bentuk kultus personal, melainkan manifestasi cinta kepada prinsip-prinsip yang diembannya. Dengan kata lain, cinta kepada Imam ʿAlī adalah cinta kepada kebenaran yang terwujud dalam sosok manusia yang sempurna.
Bersambung...

