Tanda Iman (2)
Dalam pandangan teologis, cinta memiliki akar yang dalam dalam struktur iman. Ia adalah bentuk tertinggi dari pengetahuan karena mengandung kesatuan antara mengetahui dan mengalami. Cinta kepada Imam ʿAlī adalah bentuk maʿrifah yang aktif, sebab ia menuntut pemahaman terhadap nilai-nilai ilahiah yang diwujudkan dalam kehidupan beliau. Cinta ini tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan yang meniru akhlak dan sikapnya. Seorang yang mencintai Imam ʿAlī dituntut untuk berani dalam kebenaran, sabar dalam penderitaan, dan teguh dalam prinsip. Dengan demikian, cinta menjadi sarana pembentukan moral dan spiritual yang menghidupkan iman.
Imam ʿAlī memandang cinta sebagai kekuatan yang menyatukan seluruh aspek keberadaan manusia. Ia berkata, “al-ḥubb ʿaqdun bayna al-arwāḥ qabla al-ajsād,” bahwa cinta adalah ikatan antara ruh sebelum jasad diciptakan. Kalimat ini menunjukkan bahwa cinta sejati memiliki akar kosmik, bukan sekadar hasil interaksi sosial. Maka ketika hadis menegaskan bahwa mencintai Imam ʿAlī adalah tanda iman, ia mengacu pada kesesuaian ruhani antara manusia dan sumber kebenaran. Ruh yang bersih akan mencintai cahaya, dan hati yang beriman akan mencintai keadilan. Karena itu, cinta kepada Imam ʿAlī adalah cerminan kondisi spiritual seseorang: ia menunjukkan apakah hati itu dekat dengan cahaya atau terperangkap dalam kegelapan.
Dalam konteks sejarah, cinta kepada Imam ʿAlī juga menjadi ujian kesetiaan terhadap risalah Nabi. Setelah wafatnya Rasulullah, umat Islam menghadapi berbagai ujian politik dan moral. Di tengah pertentangan itu, kecintaan kepada Imam ʿAlī menjadi pembeda antara mereka yang berpegang pada nilai kebenaran dan mereka yang terjebak dalam ambisi duniawi. Banyak sahabat besar yang memuliakan beliau bukan karena hubungan darah, tetapi karena menyadari bahwa kebijaksanaan dan keadilan yang ia miliki adalah warisan langsung dari Nabi. Mereka memahami bahwa mencintai Imam ʿAlī adalah bagian dari mencintai Rasulullah, sebab beliau adalah penjaga risalah itu dalam bentuk yang paling murni.
Dalam tradisi tasawuf, cinta kepada Imam ʿAlī menjadi simbol dari cinta kepada kebenaran batin. Para sufi melihat beliau sebagai teladan insan kamil, manusia yang telah mencapai kesempurnaan moral dan spiritual. Melalui dirinya, cinta menjadi jalan menuju Tuhan. Mereka menganggap bahwa mencintai Imam ʿAlī berarti membuka diri terhadap hikmah dan maʿrifah. Karena itu, dalam banyak tarekat, silsilah spiritual berawal dari beliau. Ini menunjukkan bahwa cinta kepada Imam ʿAlī bukan sekadar ekspresi emosional, tetapi jalan intelektual dan spiritual yang menuntun manusia kepada penyatuan dengan sumber segala cinta.
Dari sisi filsafat moral, cinta kepada Imam ʿAlī dapat dipahami sebagai ekspresi dari virtue ethics, etika kebajikan yang menekankan pembentukan karakter melalui teladan. Dalam etika seperti ini, seseorang tidak menjadi baik karena mengikuti aturan, tetapi karena mencintai kebaikan itu sendiri. Imam ʿAlī menjadi teladan bagi kebajikan yang hidup, bukan karena teori, tetapi karena kesempurnaan praksis. Maka mencintainya berarti meniru kebajikannya, bukan mengaguminya dari kejauhan. Cinta seperti ini adalah cinta yang transformatif, yang mengubah manusia menjadi lebih bijak, lebih adil, dan lebih rendah hati.
Bersambung...

