Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Kelahiran Imam Husain, Sejarah yang Dimulai dengan Air Mata Nabi

0 Pendapat 00.0 / 5

Sejarah Imam Al-Husain a.s. tidak dimulai di Karbala. Ia dimulai jauh sebelumnya—di Madinah, di rumah kenabian, pada hari kelahirannya. Sejak detik pertama kehidupannya, Islam telah “membacakan” masa depan Al-Husain, bukan sebagai sekadar cucu Nabi, tetapi sebagai poros tragedi dan kebangkitan umat.

Pada tanggal 3 Sya‘ban tahun keempat Hijriah, Rasulullah Saw menerima kabar kelahiran cucu keduanya, setahun setelah kelahiran Imam Al-Hasan a.s. Beliau segera menuju rumah Ali bin Abi Thalib a.s. dan Sayyidah Fathimah az-Zahra a.s. Asma’ binti ‘Umais meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw meminta agar bayi itu dibawakan kepadanya. Bayi yang masih terbungkus kain putih itu kemudian didekap erat oleh Nabi Saw.

Sebagaimana diriwayatkan dalam I‘lam al-Wara bi A‘lam al-Huda karya al-Thabrisi dan sumber-sumber sejarah Ahlul Bait lainnya, Rasulullah Saw membacakan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri bayi itu. Seakan-akan Islam ingin menegaskan: hidup Al-Husain dimulai dengan tauhid dan akan berakhir demi tauhid.

Namun, kegembiraan Rasulullah Saw tiba-tiba berubah menjadi tangisan yang memilukan. Asma’ binti ‘Umais bertanya dengan heran, “Demi ayah dan ibuku, siapa yang Engkau tangisi, wahai Rasulullah?” Nabi menjawab, “Anakku ini.” Ketika Asma’ mencoba menghibur dengan mengatakan bahwa bayi ini masih kecil, Rasulullah Saw menjelaskan dengan nada penuh kepedihan: “Wahai Asma’, dia akan dibunuh oleh sekelompok pembangkang setelah wafatku. Syafaatku tidak akan sampai kepada mereka.” (I‘lam al-Wara).

Tangisan ini bukan ekspresi emosional semata. Ia adalah pengetahuan kenabian. Islam sejak awal telah mengetahui bahwa darah Al-Husain akan menjadi harga yang harus dibayar demi kelangsungan risalah.