Menalar Hadis Ketaatan dan “Amir” Dalam Literatur Sunni (3)
Dalam al-Mu’jam al-Kabir karya al-Thabrani jilid 2, halaman 253:
عن جابر بن سمرة قال: كنت مع أبي ورسول الله (صلى الله عليه وآله وسلم) يخطب فقال: لا تبرحون بخير ما قام عليكم اثنا عشر أميرا
Dari Jabir bin Samurah yang berkata: aku pernah bersama ayahku di mana saat itu Rasulullah SAW sedang berkhutbah, beliau bersabda: Kalian (yaitu umat ini) tidak akan pernah berpisah dengan kebaikan selama 12 amir masih tegak atas kalian
Perhatikan dalam hadis-hadis ini juga digunakan kata “amir” sebagaimana hadis pertama yang dikutip dalam tulisan ini. Berdasarkan hadis-hadis tersebut jelaslah bahwa 12 sosok amir ini yang menjadi perantara sehingga eksistensi dan kebenaran agama ini senantiasa berada dalam keselamatan. Berkat mereka pula umat ini senantiasa dalam kebaikan. Merekalah penjaga dan yang paling mengetahui amr Tuhan. Merekalah ulil amri yang sebenarnya. Rasulullah Muhammad SAW menyebut 12 sosok ini sebagai “amir” (pemimpin) tentu bukan tanpa makna, bukan tanpa maksud dan tujuan.
Bagaimana mungkin Rasululllah SAW mengucapkan kata-kata yang tidak berfaedah (dalam konteks ini kata “amir”)? Untuk apa 12 sosok ini disebut sebagai “amir” kalau bukan untuk ditaati? Dan mungkinkah diisyaratkan untuk ditaati kalau mereka sendiri tidak senantiasa berada dalam kebenaran? Untuk apa dalam hadis-hadis itu mereka disebut “amir” dan dikaitkan dengan urusan agama dan umat kalau bukan untuk menunjukkan dan menegaskan kedudukan mereka yang sangat teramat utama, penting, tinggi dan mulia. Belum lagi jika ditambah dan dikaitkan dengan hadis-hadis kuat lainnya yang menjelaskan kedudukan dan peran mereka secara eksplisit dan implisit.
Bagi kami, justru dengan adanya hierarki ketaatan itulah—yang mencakup wilayah-imamah 12 amir itu—keakuan atau ego intelektual dan spiritual manusia akan diuji. Diuji dengan sebenar-sebenarnya. Hierarki ketaatan itu hadir untuk meluruhkan keakuan atau ego manusia dalam berpengetahuan, berkesadaran dan dalam menghamba kepada-Nya. Penghambaan yang dituntut bukan pengambaan menurut yang “aku” inginkan, tetapi penghambaan sesuai yang “Dia” inginkan.
Yang dituntut dari manusia bagaimana agar dapat taslim dan ridha pada amr Tuhan. Tingkatan taslim dan ridha pada amr Tuhan itu ditentukan dengan seperti apa manusia terhadap amirnya. Sebab ada gradasi/tingkatan dalam berpengetahuan, berkesadaran dan penghambaan. Ketaatan pada 12 sosok amir itu membantu manusia menembus gradasi/tingkatan itu. Kehadiran mereka adalah karunia agung tak terkira agar manusia dapat menyempurna setinggi-tingginya.
Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan diluaskan berkahnya senantiasa. Shalawat dan mohon doanya.

