Nama Husein dari Langit, Bukan dari Tradisi
Penamaan bayi ini pun tidak diserahkan kepada kebiasaan Arab atau kehendak keluarga. Ketika Rasulullah Saw bertanya kepada Ali a.s. tentang nama sang bayi, Ali menjawab, “Aku tidak akan mendahului engkau, wahai Rasulullah.” Sikap ini mencerminkan keyakinan bahwa anak ini bukan milik keluarga semata, melainkan milik Islam.
Allah kemudian menurunkan wahyu kepada Rasulullah Saw dengan menetapkan nama Husain, sebagaimana sebelumnya nama Hasan juga datang dari sisi Allah. Al-Thabrisi mencatat bahwa penamaan ini menunjukkan hubungan langsung antara Al-Husain dan kehendak ilahi, bukan sekadar afiliasi biologis.
Pada hari ketujuh, Rasulullah Saw. melaksanakan seluruh sunnah kelahiran: menyembelih aqiqah, mencukur rambut, bersedekah perak seberat timbangan rambutnya, serta memerintahkan khitan. Semua ini dilakukan persis sebagaimana terhadap Imam Al-Hasan a.s. (Asy‘at min Hayat al-Imam al-Hasan bin ‘Ali). Sejak awal, Islam memperlakukan Al-Husain sebagai figur istimewa yang berada dalam jalur kepemimpinan spiritual umat.

