Musibah Diri dan Kebutuhan Akan ‘Afiyah (1)
Imam ‘Ali bin Abi Thalib as menasihatkan agar kita selalu memohon ‘afiyah kepada Allah, khususnya ketika menghadapi tekanan dan beratnya ujian. Beliau berkata bahwa tekanan dan beratnya ujian-ujian kehidupan itu bisa menghilangkan agama seseorang—yakni melemahkan iman dan meruntuhkan ketakwaannya—(Al-Khishal, jilid 3, halaman 177)
Dalam hadis tersebut Imam ‘Ali as mengaitkan kebutuhan akan ‘afiyah dengan realitas kehidupan. Sebab ‘afiyah bukan hanya soal kesehatan fisik, melainkan kesehatan yang utuh dan paripurna yang mencakup seluruh dimensi batin manusia: jiwa, hati, dan akal. Ketika salah satu dari hal ini rapuh, kesehatan dan kebahagiaan hakiki seseorang pun menjadi terganggu.
Sebagian ulama menjelaskan bahwa ‘afiyah juga bermakna kesejahteraan, keamanan, dan keselamatan baik pada sisi lahir maupun batin. Ia mencakup seluruh urusan manusia: agama, dunia, dan akhirat. Pemahaman tentang kata ‘afiyah ini dapat ditemukan dalam kitab Riyadh al-Salikin fi Syarh Shahifah Sayyid al-Sajidin as karya ‘Allamah Sayyid ‘Ali Khan al-Husaini al-Syirazi, jilid 4, halaman 9.
Apa yang disampaikan Imam ‘Ali as terbukti nyata dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit orang, karena tekanan hidup yang berat, kesulitan demi kesulitan atau ujian yang berlarut-larut, ditambah lagi faktor internal yakni lemahnya asupan rohani dan daya tahan batin, akhirnya mengambil keputusan yang bertentangan dengan nilai dan ajaran agamanya. Ada pula yang secara bertahap menjauh, bahkan melepaskan diri dari agamanya.
Dalam kondisi seperti itu, agama dan hal-hal yang terkait dengannya sangat rentan dijadikan sasaran pelampiasan negatif: kemarahan, kekecewaan, stres, kekacauan mental, keguncangan batin, kebingungan, atau rasa tak berdaya. Kalaupun tidak sampai meninggalkan agama, semangat dan kecintaannya pada agama tidak lagi seperti sebelumnya. Na‘udzu billahi min kulli syarr wa min kulli su’.
Karena itulah, dalam beberapa hadis dan doa yang diajarkan oleh manusia-manusia suci as, yang intinya kita sangat dianjurkan untuk memohon ‘afiyah, kebaikan ‘afiyah, kesempurnaan ‘afiyah, dan kesinambungan ‘afiyah dalam seluruh keadaan dan urusan. Dengan harapan, agar pengaruh dari segala ujian dan kondisi yang telah, sedang, dan akan dijalani itu tidak sedikit pun melemahkan iman, menghancurkan takwa, dan membelokkan arah hidup kita menuju jalan yang tidak diridhai-Nya.
Dengan bekal ‘afiyah, kita berharap—meminjam ungkapan Allah yarham K.H. Jalaluddin Rakhmat—bahwa yang membekas dari ujian-ujian hidup hanyalah yang baik-baiknya saja. Sebab ‘afiyah berfungsi sebagai pelindung dari kegelapan, kekacauan, serta keguncangan jiwa, hati, dan akal dalam memahami dan memaknai peristiwa kehidupan. Ia menjadi kendali batin yang menuntun kita dalam bersikap dan menentukan pilihan.
K.H. Miftah F. Rakhmat dalam sebuah webinar bertopik Bincang Bencana yang diselenggarakan STAI Sadra, menyampaikan sebuah penegasan penting: “Betapa pun rentetan ujian dan beratnya musibah yang terjadi di luar diri manusia, yang lebih besar dari itu tetap saja musibah yang terjadi di dalam diri. Karena musibah diri dan rapuhnya dimensi batin inilah, seseorang tidak mampu mengubah “derita ujian” menjadi “nikmat ujian”. Maka jangan biarkan guncangan di luar diri mengguncang kebenaran dan keselamatan yang ada di dalam diri. Jangan biarkan keburukan apa pun mengambil alih jiwa kita. Mintalah ‘afiyah, agar kita tidak dikuasai oleh hal-hal yang keliru.
Imam ‘Ali as bahkan menegaskan dalam khutbahnya pada hari ketujuh setelah syahadah Rasulullah Muhammad SAW:
ولا لباس أجمل من العافية
Tidak ada pakaian yang lebih indah daripada ‘afiyah (Al-Tauhid karya Syaikh al-Shaduq, halaman 74, no. 27)
Bersambung...

