Perjuangan Imam Musa al-Kazhim as dan Hari-hari Terakhirnya (1)
Sejarah Ahlulbait as tidak hanya ditulis dengan darah para syuhada di medan perang, tetapi juga dengan air mata, kesabaran, dan penderitaan panjang di balik tembok-tembok penjara. Di antara figur yang paling merepresentasikan bentuk perjuangan sunyi ini adalah Imam Musa al-Kazhim as. Ia bukan hanya Imam ketujuh dalam silsilah Imamah, tetapi juga simbol keteguhan spiritual yang menghadapi tirani dengan kesabaran sadar dan perlawanan bermartabat. Kehidupan dan kesyahidannya merupakan potret tajam tentang bagaimana kekuasaan politik berhadapan dengan legitimasi ilahi.
Imam Musa al-Kazhim as lahir dan tumbuh dalam situasi politik yang penuh kecurigaan terhadap Ahlulbait Nabi saw. Setelah wafatnya Imam Ja‘far al-Shadiq as, kekhalifahan Abbasiyah semakin menguat dan mulai memandang para Imam sebagai ancaman langsung terhadap stabilitas kekuasaan. Abbasiyah memahami bahwa meskipun para Imam tidak mengangkat senjata, mereka memimpin hati dan kesadaran umat. Pengaruh semacam ini jauh lebih berbahaya dibandingkan pemberontakan bersenjata, karena ia menggerogoti legitimasi negara dari akarnya. (Al-Tabarsi, I’lam al-Wara bi A’lam al-Huda).
Sejak awal masa imamahnya, Imam Musa al-Kazhim as berada di bawah pengawasan ketat aparat kekhalifahan. Setiap pergerakannya dicurigai, setiap relasinya diawasi. Namun, Imam tidak menempuh jalan konfrontasi terbuka. Ia memilih strategi yang khas Ahlulbait pada masa represif: membina umat melalui pendidikan, akhlak, dan penguatan spiritual. Melalui sistem wakalah—para perwakilan Imam di berbagai wilayah—ajaran Islam Ahlulbait tetap hidup dan mengalir, bahkan ketika Imam berada dalam tekanan dan isolasi. (Al-Kulaini, Al-Kafi).
Gelarnya al-Kazhim—orang yang menahan amarah—lahir dari pengalaman konkret menghadapi penghinaan dan provokasi. Riwayat-riwayat menyebutkan bagaimana Imam menahan diri dari pembalasan pribadi, bukan karena kelemahan, tetapi karena visi perjuangan yang lebih luas. Ia memahami bahwa satu tindakan emosional dapat berujung pada pembantaian massal terhadap para pengikutnya. Kesabaran Imam adalah kesabaran strategis, yang berpijak pada tanggung jawab sejarah dan perlindungan umat. (Al-Majlisi, Bihar al-Anwar).
Puncak ketegangan antara Imam Musa al-Kazhim as dan penguasa Abbasiyah terjadi pada masa khalifah Harun al-Rashid. Dalam satu peristiwa yang masyhur dalam literatur Syiah, Harun berziarah ke makam Rasulullah saw dan menyebut dirinya sebagai “kerabat Nabi”. Imam Musa al-Kazhim as dengan tenang namun tegas menegaskan bahwa Ahlulbait memiliki kedekatan nasab dan spiritual yang tak dapat disandingkan. Dialog ini menyingkap pertarungan mendasar antara legitimasi kekuasaan politik dan legitimasi ilahi. Sejak itu, Harun memutuskan bahwa keberadaan Imam harus disingkirkan dari ruang publik. (Al-Mufid, Al-Irsyad).
Penangkapan demi penangkapan pun terjadi. Imam Musa al-Kazhim as dipindahkan dari satu penjara ke penjara lain—dari Madinah, Basrah, hingga Baghdad—dalam upaya memutus hubungan beliau dengan umat. Namun penjara justru menjadi ruang transformasi spiritual. Para sipir dan tahanan menyaksikan ketekunan ibadah Imam, sujud panjangnya di tengah malam, serta ketenangan batinnya menghadapi penderitaan. Banyak riwayat menyebutkan bahwa sebagian penjaga penjara berubah sikap, bahkan menaruh hormat dan kecintaan kepada Imam. (Al-Saduq, Uyun Akhbar al-Ridha).

