Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Perjuangan Imam Musa al-Kazhim as dan Hari-hari Terakhirnya (2)

0 Pendapat 00.0 / 5

Di balik jeruji besi, Imam Musa al-Kazhim as menampilkan wajah lain dari jihad: jihad melawan keputusasaan dan ketakutan. Doa-doa beliau yang diriwayatkan dalam kitab-kitab hadis menunjukkan kedalaman tauhid dan kepasrahan total kepada Allah. Penjara tidak melemahkan ruh perjuangan Imam, justru memurnikannya. Dalam kesunyian sel, Imam mendidik umat dengan teladan hidup, menunjukkan bahwa kebebasan sejati tidak dapat dirampas oleh kekuasaan mana pun. (Al-Majlisi, Bihar al-Anwar).

Hari-hari terakhir kehidupan Imam Musa al-Kazhim as berlangsung di penjara Baghdad, pusat kekuasaan Abbasiyah yang kala itu menjadi simbol kemegahan sekaligus kekejaman negara. Di kota Baghdad inilah penguasa akhirnya memilih jalan senyap untuk menghentikan pengaruh Imam. Berbagai literatur secara konsisten menyebutkan bahwa beliau diracun atas perintah kekhalifahan. Kesyahidan Imam Musa al-Kazhim as terjadi pada 25 Rajab tahun 183 Hijriah, sebuah tanggal yang kemudian dikenang sebagai hari duka dan peringatan kezaliman negara terhadap Ahlulbait.

Dalam kondisi fisik yang semakin melemah akibat racun, Imam Musa al-Kazhim as tetap menjaga ketenangan dan kejernihan spiritual. Riwayat menyebutkan bahwa beliau menghabiskan saat-saat terakhirnya dengan doa, dzikir, dan sujud panjang. Tidak ada kemarahan, tidak ada keluhan terhadap takdir. Yang tampak hanyalah kepasrahan seorang hamba yang telah menunaikan amanah ilahi. Wasiat-wasiat moralnya kepada para sahabatnya menekankan kesabaran, ketakwaan, dan kesinambungan kepemimpinan Imamah setelahnya. (Al-Saduq, Al-Amali).

Setelah wafatnya Imam Musa al-Kazhim as, penguasa Abbasiyah berusaha menutupi kejahatan mereka dengan mengumumkan bahwa Imam meninggal secara alami. Bahkan, jenazah beliau diletakkan di sebuah jembatan di Baghdad agar masyarakat menyaksikan dan menerima narasi resmi negara. Namun tindakan ini justru menjadi kesalahan fatal. Banyak orang melihat tanda-tanda kezaliman dan menyadari bahwa seorang wali Allah telah disingkirkan oleh kekuasaan yang takut pada kebenaran. Simpati publik pun mengalir deras kepada Ahlulbait. (Al-Tabarsi, I’lam al-Wara bi A’lam al-Huda).

Jenazah Imam Musa al-Kazhim as kemudian dimakamkan di kawasan Maqabir Quraisy, sebuah pemakaman di pinggiran Baghdad yang kelak berkembang menjadi kota Kadhimiyah. Makam beliau hingga hari ini menjadi pusat ziarah dan simbol perlawanan spiritual terhadap tirani. Kesyahidan Imam Musa al-Kazhim as pada 25 Rajab 183 H di Baghdad menegaskan satu pesan sejarah: kekuasaan mungkin mampu mengalahkan tubuh para wali Allah, tetapi tidak pernah mampu memadamkan cahaya kebenaran yang mereka wariskan. (Al-Majlisi, Bihar al-Anwar).

Warisan Imam Musa al-Kazhim as bukan hanya kisah penderitaan, tetapi juga paradigma perjuangan. Ia mengajarkan bahwa menjaga kesadaran umat di bawah tekanan adalah bentuk jihad yang paling berat sekaligus paling menentukan. Dari balik penjara Abbasiyah, Imam menanam benih ketahanan spiritual yang memungkinkan komunitas Syiah bertahan melewati berabad-abad penindasan. Inilah kemenangan sejati: kemenangan nilai atas kekuasaan, dan kemenangan iman atas ketakutan. (Al-Kulaini, Al-Kafi).