Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Titik Balik Kehidupan Manusia dalam Pengutusan Nabi Muhammad Saw (2)

0 Pendapat 00.0 / 5

2. Pembebasan dari kegelapan

Dalam Khutbah 89 Nahj al-Balagha, Imam Ali as, penerus Nabi Muhammad Saw, menyajikan gambaran akurat tentang kondisi sosial dan intelektual sebelum misi Nabi, “Allah mengutus Muhammad pada saat tidak ada nabi yang diutus, manusia tertidur lelap, fitnah semakin meningkat, keadaan kacau, api peperangan berkobar, dunia menjadi gelap dan penuh tipu daya, daun pohon kehidupan telah menguning, dan tidak ada harapan akan berbuah.”

Menurutnya, itu adalah masa ketika belum ada nabi yang diutus, fitnah menyebar, peperangan berkobar, dan manusia tertidur lelap. Dalam lingkungan seperti itu, misi Nabi Muhammad Saw bagaikan cahaya yang menembus kegelapan kebodohan, kekerasan, dan ketidakadilan serta membuka jalan baru bagi umat manusia.

3. Membangkitkan kebijaksanaan dan pemikiran

Salah satu tujuan dasar para nabi adalah membangkitkan kekuatan pemikiran dalam diri manusia.

Dalam Nahj Al-Balagha, Imam Ali as menekankan bahwa para nabi datang untuk mengaktifkan “harta karun kebijaksanaan” dalam diri manusia. Oleh karena itu, misi Nabi Muhammad Saw, yang menekankan pada membaca dan menerima hikmah serta menyucikan diri untuk mengembangkan pengetahuan, dianggap sebagai titik awal kebangkitan intelektual ini.

4. Mewujudkan perdamaian dan ketenangan

Keamanan dan ketenangan adalah kebutuhan mendasar setiap masyarakat manusia, dan pada dasarnya, pertumbuhan tidak dapat dicapai tanpa ketenangan. Nabi Muhammad Saw menunjukkan jalan perdamaian kepada umat Islam dengan menghadirkan model rahmat dan toleransi.

Contoh historis dari pendekatan ini adalah perilaku Nabi pada hari penaklukan Mekah. Hari ketika sebagian sahabat meneriakkan slogan “Hari ini adalah hari pembalasan”, tetapi Nabi Muhammad Saw dengan tegas menyatakan, “Hari ini adalah hari pengampunan.”

Sementara penduduk Mekah mengharapkan pembalasan, Nabi tidak hanya memaafkan mereka, tetapi juga menyebut hari itu sebagai hari rahmat. Sebuah pendekatan yang meletakkan dasar bagi kecenderungan luas penduduk Mekah terhadap Islam.