Abu Fadhl Penjaga Kebenaran di Malam Asyura
Pada malam Asyura, saat para sahabat Imam Husain a.s. menghidupkan malam dengan ibadah, Abbas berkeliling perkemahan dengan pedang terhunus. Ia menjaga keluarga Rasulullah saw. dari ancaman musuh. Malam itu, Abbas menunjukkan bahwa ibadah tidak selalu berupa rukuk dan sujud, tetapi juga kesiapsiagaan menjaga kebenaran.
Ketika Imam Husain a.s. memberi izin kepada para sahabat untuk meninggalkan Karbala demi keselamatan diri, Abbas adalah orang pertama yang menolak. Baginya, hidup tanpa imam adalah kehinaan, dan keselamatan tanpa kebenaran adalah kebatilan.
Tawaran perlindungan dari Syimmir bin Dzil Jausyan pun ditolak. Meskipun satu kabilah, Abbas memilih darah dan syahadah daripada hidup dalam perlindungan rezim zalim.
Puncak pengorbanan Abbas terjadi pada hari Asyura. Atas izin Imam Husain a.s., ia pergi mencari air bagi anak-anak yang kehausan. Dengan keberanian luar biasa, ia menerobos pasukan musuh hingga mencapai Sungai Efrat.
Ketika air berada di genggamannya, ia teringat Imam Husain a.s. dan anak-anak yang kehausan. Ia menahan diri untuk tidak minum. Ia mengisi qirbah dan kembali menuju perkemahan.
Di tengah perjalanan, tangan kanannya terputus, lalu tangan kirinya. Ia tetap maju, menggigit qirbah agar air tidak jatuh. Namun lembing musuh merobek qirbah itu. Air tumpah di tanah Karbala—dan tak lama kemudian, sebuah lembing menembus dadanya.
Abbas gugur sambil memanggil Imam Husain a.s. Ketika saudaranya tiba, Imam Husain menangis dan berkata, “Sekarang patahlah punggungku.”

