Ujian Zaman dan Tanggung Jawab Umat
Kita hidup di zaman ketika dusta sering dipoles sebagai kecerdasan, riya’ dianggap prestasi, dan kesombongan disamarkan sebagai kharisma. Dalam situasi seperti ini, umat mudah tergesa-gesa mengkultuskan figur, menilai kesalehan dari simbol lahiriah, dan mencampuradukkan agama dengan kepentingan politik sekuler.
Imam Mahdi as tidak lahir dari panggung propaganda, tidak tumbuh dari pasar popularitas, dan tidak muncul dari rekayasa manusia. Ia adalah pilihan Allah, dan hanya hati yang bersih, akal yang jujur, serta iman yang tunduk pada wahyu yang mampu mengenalnya.
Pertanyaan terakhir bukan lagi “siapa Imam Mahdi?”, melainkan:
apakah kita siap mengenalnya—atau justru sibuk menciptakan Mahdi versi hawa nafsu kita sendiri?

