Jeritan Keadilan di Dunia yang Timpang
Hari ini, seruan tentang keadilan terdengar hampir di seluruh penjuru bumi. Dari podium politik, forum internasional, hingga gerakan sosial, kata “keadilan” dikumandangkan dengan berbagai wajah dan slogan. Namun kenyataannya, dunia justru semakin jauh dari keadilan itu sendiri. Ketimpangan ekonomi melebar, peperangan terus berkobar, lingkungan dirusak tanpa tanggung jawab, dan nilai-nilai kemanusiaan dikorbankan demi kepentingan segelintir elite global.
Fenomena ini tidak muncul dari ruang hampa. Ia adalah hasil akumulasi panjang dari penyelewengan terhadap hak dan kewajiban manusia. Sebagai khalifah Allah di bumi, manusia seharusnya menjaga keseimbangan: antara individu dan masyarakat, antara pembangunan dan kelestarian alam, antara kekuasaan dan tanggung jawab. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Sebagian besar manusia menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi bukan sebagai sarana pemakmuran, melainkan sebagai alat dominasi dan penghancuran.
Hipotesis ilmiah yang belum tentu benar dijadikan legitimasi kebijakan, rekayasa pemikiran berbasis akal semata diangkat sebagai kebenaran mutlak, lalu semua itu dibungkus dalam jargon kebijaksanaan global. Ironisnya, arah kebijakan tersebut kerap berpihak pada kepentingan ideologis lama yang berakar pada pemikiran zionisme dan orientalisme, sementara negeri-negeri Muslim dijadikan sasaran tekanan, eksploitasi, dan intervensi.

