Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Dosa dan Istighfar

0 Pendapat 00.0 / 5

Diriwayatkan dalam kitab al-Jafariyyat dengan sanad dari Amirulmukminin as bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya dosa akan mengkhianati dan membakar pelakunya, dan tidak ada yang dapat memadamkannya kecuali istighfar.”

Rasulullah saw juga bersabda:

“Siapa yang pada dirinya ada empat perkara berikut niscaya dia masuk surga: orang yang penjagaannya adalah kesaksian bahwa tidak ada tuhan selain Allah; orang yang jika diberi satu nikmat mengucapkan alhamdulillah; orang yang jika melakukan dosa dengan segera mengucapkan astaghfirullah; dan orang yang jika ditimpa musibah mengucapkan inna lillahi wa inna ilayhi raji‘un.”

Dalam riwayat kitab Lubb al-Lubab, Nabi saw bersabda:

“Maukah kalian aku beritahu obat penyakit kalian? Penyakit kalian adalah dosa dan obatnya adalah istighfar.”

Beliau juga bersabda:

“Cepatlah beristighfar setelah melakukan dosa lebih cepat dari kedipan mata. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan berinfak. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan menahan amarah. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan memaafkan orang lain. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan berbuat baik kepada orang lain. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan tidak terus-menerus melakukan dosa. Jika kalian tidak melakukannya maka gantilah dengan harapan. Karena itu, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.”

Banyak sekali hadis-hadis yang mendorong manusia untuk beristighfar dan berbicara tentang keutamaannya.

Penutup

Rangkaian sabda Rasulullah saw ini menggambarkan dengan jelas bahwa keselamatan hati dan keselamatan akhirat bertumpu pada pengendalian diri, penjagaan kehormatan, pengelolaan niat, serta kesadaran untuk segera kembali kepada Allah melalui istighfar. Hati dapat rusak oleh pergaulan yang salah dan kecenderungan yang tak terkontrol. Namun hati juga dapat diselamatkan oleh niat yang tulus, kebaikan yang disegerakan, dan taubat yang tidak ditunda.

Dalam ajaran Ahlulbait as, rahmat Allah selalu didahulukan atas murka-Nya. Bahkan setelah dosa dilakukan, pintu ampunan masih terbuka. Tujuh jam penangguhan adalah simbol keluasan rahmat Ilahi dan kesempatan yang diberikan kepada manusia untuk kembali.

Karena itu, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Penyakit kita adalah dosa, dan obatnya adalah istighfar. Siapa yang menjaga lisannya dengan syahadat, mensyukuri nikmat dengan alhamdulillah, menyucikan dosa dengan astaghfirullah, dan menerima musibah dengan inna lillahi wa inna ilayhi raji‘un, maka baginya janji surga sebagaimana sabda Rasulullah saw.

Semoga hati kita diselamatkan dari empat perkara yang merusaknya dan dihiasi dengan empat perkara yang mengantarkannya menuju surga.