Ketika Kapitalisme Memisahkan Bayi dari Ibunya: Perspektif Ajaran Islam (1)
Fenomena pemisahan bayi dari ibunya pada usia sangat dini, baik melalui kebijakan sosial, budaya parenting modern, maupun tekanan struktural dunia kerja, bukan sekadar pilihan gaya hidup, melainkan manifestasi dari ideologi kapitalisme yang secara historis membentuk relasi manusia melalui logika produktivitas dan efisiensi. Dalam sistem ekonomi yang menempatkan waktu sebagai komoditas, kelekatan emosional antara ibu dan bayi sering dianggap tidak efisien karena tidak menghasilkan nilai ekonomi yang dapat diukur. Akibatnya, berbagai teori dan praktik pengasuhan yang mendorong “kemandirian dini” menjadi populer, bukan karena didukung oleh perkembangan biologis bayi, tetapi karena sesuai dengan kebutuhan ekonomi makro yang memerlukan tenaga kerja perempuan kembali ke pasar secepat mungkin.
Perkembangan teori sleep training, misalnya, tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial-ekonomi masyarakat industri abad ke-20. Richard Ferber, tokoh sentral metode graduated extinction, memperkenalkan konsep bahwa bayi harus belajar menenangkan diri tanpa kehadiran fisik ibu, sehingga orang tua dapat mempertahankan ritme kerja yang stabil. Akar teoritis pendekatan ini bahkan lebih tua, yaitu behaviorisme ala John Watson dan B.F. Skinner, yang memandang perilaku manusia sebagai respons mekanis terhadap penguatan dan hukuman. Watson secara ekstrem mengkritik kontak fisik yang intens antara ibu dan bayi, karena dianggap melemahkan karakter. Sekalipun pendekatan behavioristik ini kini dipandang reduktif dalam psikologi perkembangan, warisannya bertahan dalam bentuk praktik parenting modern yang menekankan pemisahan ruang tidur, pengaturan jadwal ketat, serta gagasan bahwa bayi perlu belajar mandiri sejak dini. Penekanan pada kemandirian tersebut tidak lahir dari studi neurosains atau teori kelekatan (attachment theory) Melaini Bowlby, melainkan dari kebutuhan sistem ekonomi untuk meminimalkan ketergantungan domestik yang dianggap menghambat produktivitas tenaga kerja perempuan.
Padahal, penelitian neurosains menunjukkan bahwa bayi dilahirkan dalam kondisi neurofisiologis yang sangat dependensial. Regulasi emosi, kestabilan detak jantung, perkembangan korteks prefrontal, hingga penurunan hormon stres bergantung pada kedekatan fisik dengan ibu. Middlemiss (2012), dalam penelitiannya tentang metode cry-it-out, menemukan bahwa meskipun bayi berhenti menangis, kadar kortisol tetap tinggi menunjukkan bahwa bayi tidak tenang, tetapi hanya kehilangan strategi lain untuk mendapat respons. Fenomena ini sering disalahartikan sebagai “kemandirian”, padahal secara neurologis merupakan bentuk learned helplessness yang muncul ketika respons lingkungan tidak konsisten atau absen. Dengan demikian, “kemandirian bayi” yang diagungkan oleh masyarakat modern sebenarnya merupakan konstruksi sosial yang didorong oleh tekanan kapitalistik, bukan refleksi kesiapan biologis bayi.

