Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Ketika Kapitalisme Memisahkan Bayi dari Ibunya: Perspektif Ajaran Islam (2)

1 Pendapat 05.0 / 5

Dalam kerangka ini, kapitalisme berhasil mengonstruksi relasi ibu-anak sebagai variabel yang harus disesuaikan dengan kebutuhan produksi. Ibu “ideal” menurut logika industri adalah yang cepat kembali bekerja, tidak terlalu larut dalam pengasuhan, dan mampu memisahkan diri secara emosional. Keintiman antara ibu dan bayi direduksi menjadi hambatan produktivitas. Relasi yang seharusnya menjadi ruang pemulihan emosional dan pembentukan identitas awal manusia justru menjadi objek intervensi efisiensi ekonomi. Kehadiran teknokrasi parenting modern, dengan berbagai manual, instruksi, dan standar perilaku bayi, semakin menormalisasi jarak tersebut. Di titik ini, bayi berfungsi seperti komponen yang harus disesuaikan ritmenya demi stabilitas sistem, bukan makhluk hidup yang dibimbing oleh fitrah perkembangan.

Menariknya, ajaran Islam sejak awal menempatkan hubungan ibu dan bayi sebagai aspek yang bukan hanya biologis, tetapi juga spiritual dan psikologis. Al-Qur’an menegaskan bahwa masa menyusui selama dua tahun merupakan bagian dari hikmah keseimbangan keluarga (QS. al-Baqarah: 233), menunjukkan betapa pentingnya kedekatan jangka panjang antara ibu dan anak. Hadis-hadis Ahlul Bayt bahkan lebih eksplisit dalam menekankan pentingnya kontak fisik dan respons emosional terhadap bayi. Imam Ja‘far al-Ṣādiq meriwayatkan: “Gendonglah bayimu, karena setiap kali kamu menggendongnya, Allah menetapkan satu derajat untukmu.” (al-Kāfī, 6/43). Riwayat ini bukan sekadar anjuran etis, tetapi mengandung pengakuan terhadap kebutuhan neurobiologis bayi untuk merasakan kehadiran fisik pengasuh utama. Demikian pula riwayat dari Imam Ali Zainal Abidin yang menyatakan bahwa bayi harus ditempelkan kepada ibunya karena hal itu lebih menenangkannya (Man La Yahdhuruhu al-Faqih, 3/483). Kedua hadis ini berkorespondensi langsung dengan penelitian modern tentang co-regulation, yaitu proses di mana tubuh bayi menstabilkan fungsi fisiologis melalui sentuhan dan kehangatan ibu.

Nabi Muhammad SAW juga menunjukkan kepekaan terhadap kebutuhan emosional bayi, sebagaimana sabdanya: “Janganlah kalian terburu-buru menyuruh bayi berhenti menangis, karena tangisannya adalah rahmat.” (Mustadrak al-Wasā’il, 15/169). Pandangan ini secara substantif menolak paradigma cry-it-out yang membiarkan bayi menangis sendirian. Islam memposisikan tangisan sebagai bentuk komunikasi yang valid, bukan gangguan yang harus dipadamkan demi kenyamanan orang dewasa. Lebih jauh, Islam tidak mengenal konsep pemisahan kamar tidur bagi bayi. Pemisahan baru dianjurkan ketika anak mencapai usia mumayyiz, sekitar tujuh tahun, ketika kemampuan kognitif dan psikososialnya mulai stabil. Ketentuan ini sejalan dengan temuan Bowlby bahwa kelekatan aman (secure attachment) di tahun-tahun pertama kehidupan menentukan kualitas hubungan interpersonal sepanjang hayat.

Dari perspektif akademik, terlihat adanya pertentangan ontologis antara kapitalisme dan ajaran Islam dalam memaknai hubungan ibu dan bayi. Kapitalisme memandang kedekatan sebagai potensi gangguan terhadap produktivitas, sedangkan Islam memandangnya sebagai dasar pembangunan kesejahteraan psikologis. Kapitalisme mendorong pemisahan dini demi efisiensi, sementara Islam menekankan kedekatan sebagai fitrah penciptaan dan sumber rahmah. Ketika kedua paradigma ini bertemu dalam ruang praktik, yang sering terjadi adalah benturan nilai, ibu merasa bersalah jika terlalu dekat dengan bayinya, tetapi juga merasa hampa jika dipaksa jauh. Pergeseran ini menunjukkan bagaimana ideologi ekonomi dapat membentuk psikologi individu dan mempengaruhi relasi paling dasar manusia.

Kesimpulannya, pemisahan bayi dari ibunya bukanlah fenomena alamiah atau ilmiah, melainkan konstruksi sosial-ekonomi yang berakar pada kebutuhan kapitalisme terhadap tenaga kerja yang tidak terganggu peran domestik. Penelitian neurosains, teori kelekatan, dan hadis-hadis Islam justru mengonfirmasi pentingnya kedekatan intens di tahun-tahun awal kehidupan. Dengan demikian, kritik terhadap kapitalisme bukan sekadar kritik moral, tetapi upaya memulihkan kembali fitrah relasi manusia yang telah direduksi oleh logika produksi. Dalam ajaran Islam, rahim bukanlah metafora yang kosong; ia adalah pusat kasih sayang yang menjadi lawan langsung dari mekanisme ekonomi yang menuntut pemutusan hubungan demi efisiensi. Mempertahankan kedekatan ibu dan bayi, oleh karena itu, menjadi bentuk resistensi intelektual, spiritual, dan sosial terhadap reduksi manusia menjadi bagian dari mesin produksi.