Mukmin Sejati Dari Quraisy Di Yaumul Mab’ats 1
Dalam suatu riwayat, dijelaskan bahwa :
سَمِعْتُ أَمِيْرَ الْمُؤْمِنِيْنَ عَلَيْهِ السَّلَامُ يَقُوْلُ: وَاللهِ مَا عَبَدَ أَبِي وَلاَ جَدِّي عَبْدُ الْمُطَّلِبِ وَلاَ هَاشِمٌ وَلاَ عَبْدُ مَنَافٍ صَنَمًا قَطُّ، قِيْلَ: فَمَا كَانُوْا يَعْبُدُوْنَ؟ قَالَ: كَانُوْا يُصَلُّوْنَ إِلَى الْبَيْتِ عَلَى دِيْنِ إِبْرَاهِيْمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ مُتَمَسِّكِيْنَ بِهِ.
Aku mendengar Amirul Mukminin (semoga keselamatan atasnya) bersabda: “Demi Allah, ayahku, kakekku Abdul Muthalib, Hasyim, dan Abdul Manaf tidak pernah menyembah berhala sama sekali.” Ditanyakan (kepadanya): “Lalu apa yang mereka sembah?” Beliau bersabda: “Mereka melaksanakan shalat menghadap ke Baitullah (Ka’bah) di atas agama Ibrahim (semoga keselamatan atasnya), berpegang teguh padanya.” (Bihar al Anwar , juz 35 hal 81)
Ini sangat signifikan karena menunjukkan bahwa Abu Thalib memiliki fondasi tauhid yang kuat bahkan sebelum bi’tsah Nabi ﷺ.
وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ – Mereka Memuliakannya dan Mereka Menolongnya
Ta’zir, sebagaimana dijelaskan Raghib Isfahani, adalah **”an-nushrah ma’a at-ta’zhim” (النُّصْرَةُ مَعَ التَّعْظِيمِ)** – pertolongan yang disertai dengan pengagungan dan penghormatan.
Nashr adalah pertolongan aktif dalam misi kenabian. Abu Thalib menunjukkan nash-r dalam berbagai bentuk.

