Abu Thalib adalah Mukmin Sejati Dari Quraisy Di Yaumul Mab’ats
Ketika diasingkan di Lembah Syi’b, Abu Thalib selalu melindungai Kanjeng Nabi Saw dan selalu terjaga untuk mengawasinya.
Ketika malam menyelimuti mereka dengan gelapnya kelam dan tiba saat mereka untuk tidur, Abu Thalib menghamparkan dan membentangkan tikar untuk Rasulullah Saw disaksikan oleh mereka semuanya.
Ketika malam telah larut dan mereka telah tertidur pulas, sementara ia masih terjaga, ia sendiri bangkit, lalu menukarkan tempat tidur putranya, Ali as , dengan Rasulullah Saw.
Ia memindahkan putranya ke tempat tidur Rasulullah as dan memindahkan Rasulullah Saw ke tempat tidur Ali as.
Sehingga jika ada orang , – dan mungkin juga infiltran-, yang berniat buruk maka kejahatan itu akan menimpa putranya sendiri, sementara Rasulullah Saw selamat.
Ia menjadikan putranya sebagai tebusan sehingga kejahatan tidak menimpa Rasulullah Saw.
Sungguh itu merupakan ta’ziir yang tak terkata. Sungguh Abu Thalib menolong Rasulullah Saw dan sembari mengagungkannya serta mengutamakannya bahkan ketimbang anaknya sendiri.
Kisah yang kita kutip di atas tentang strategi perlindungan di malam hari menunjukkan kesiapan Abu Thalib untuk mengorbankan segalanya demi Rasulullah Saw.
“Selama dalam pengepungan di Syi’b, dalam menghadapi berbagai penderitaan dan bencana Abu Thalib as menggubah syair yang berapi-api.
Sampaikan berita dariku kepada para pemuka di antara mereka
Terutama para pemuka dari Bani Ka’b
Tidakkah kaliahan tahu bahwa kami temukan Muhammad
Seorang Nabi seperti Musa, tertulis dalam kitab-litab suci dahulu
Ia cintai para hamba semuanya
Tak bersikap lalim pada orang yang mendapat cinta khusus dari Allah
Orang yang kalian baca dalam kitab-kitab kalian
Suatu hari menjadi seperti unta lapar bagi kalian
Sadarlah, sadarlah, sebelum kuburan digali
Dan orang yang tak berdosa menjadi seperti pendosa
Jangan ikuti perintah kesesatan dan penuhi
Janji kami disertai cinta dan kedekatan
Demi Baitullah, kami tak akan serahkan Ahmad
Agar ia selamat dari bencana dan kesusahan
Ketika pendahulu berlalu dari kami dan kalian
Dan tangan-tangan memotong dengan pedang yang tajam
Barangkali syair di bawah inilah yang dibacakannya di Syi’b.

