Muara yang Sunyi
Akhirnya, doa ini tidak ditutup dengan jawaban teoretis, melainkan dengan keheningan dan kehancuran batin yang khusyuk.
Menurut riwayat, setelah bait-bait doa itu purna, Imam Husain tidak lagi mampu merangkai kata-kata. Lisan mulianya hanya mampu mengulang satu seruan yang bergetar: “Ya Rabb, ya Rabb…”—Ya Tuhan, ya Tuhan. Dan mereka yang hadir di sekelilingnya pun tak lagi kuasa memikirkan doa untuk diri mereka sendiri. Mereka hanya bersimpuh, mendengarkan, dan mengaminkan, hingga suara tangis massal mereka membumbung tinggi beriringan dengan terbenamnya matahari.
Maka, seluruh esai tentang fenomenologi dan anatomi kesadaran ini pada akhirnya bermuara pada satu fragmen yang bersahaja namun magis: seorang manusia yang telah habis kata-katanya, yang hanya bisa menyebut nama Tuhannya berulang-ulang, sementara matahari Arafah perlahan tenggelam di ufuk barat.
Dan kelak, tidak lama setelah senja di hari itu, darahnya sendiri akan tumpah dan tenggelam di padang Karbala—sebagai sebuah jawaban paling sunyi, paling berdarah, atas doa yang paling dalam.

