Ketika Algoritma Menjadi Geopolitik: AI, Kedaulatan dan Etika Peradaban 2
Di sinilah Magnifica Humanitas menjadi penting. Ia tidak sekadar berbicara tentang mesin pintar, tetapi tentang manusia yang mulai kehilangan ukuran tentang dirinya sendiri. AI memang dapat mempercepat kerja, memperluas pengetahuan, membantu pendidikan, memperbaiki layanan kesehatan, mengoptimalkan industri, bahkan membuka cara baru dalam memahami kompleksitas dunia. Tetapi bila AI tumbuh dalam logika akumulasi modal, monopoli korporasi, perang, pengawasan, dan kompetisi geopolitik yang brutal, ia tidak lagi hanya menjadi alat bantu. Ia berubah menjadi sistem yang mengatur manusia dari luar dan dari dalam: mengatur perhatian, pilihan, konsumsi, kerja, bahkan cara seseorang membayangkan dirinya.
Kegelisahan ini sebenarnya memiliki akar panjang dalam sejarah ajaran sosial Gereja Katolik. Pada masa Revolusi Industri, Paus Leo XIII menerbitkan Rerum Novarum, atau Tentang Hal-Hal Baru. Ensiklik itu lahir ketika mesin industri, kapitalisme pabrik, urbanisasi, dan gerakan buruh mengubah wajah masyarakat Eropa. Mesin menjanjikan kemajuan, tetapi di baliknya muncul penderitaan pekerja, upah murah, jam kerja panjang, kondisi kerja yang tidak manusiawi, dan eksploitasi perempuan serta anak-anak. Saat itu, pertanyaan moralnya bukan apakah mesin berguna, melainkan apakah sistem industri yang dibangun di sekitar mesin masih menghormati manusia.
Garis hubungan antara Rerum Novarum dan Magnifica Humanitas menjadi sangat jelas. Yang satu berbicara kepada zaman mesin industri; yang lain berbicara kepada zaman mesin algoritmik. Yang satu menghadapi pabrik, buruh, kapitalisme awal, dan eksploitasi tenaga kerja; yang lain menghadapi data, AI, platform digital, pusat komputasi, dan kapitalisme prediktif. Tetapi keduanya berangkat dari luka yang sama: ketika sistem menjadi terlalu besar, manusia mudah mengecil di hadapannya. Dahulu pekerja direduksi menjadi tenaga produksi. Kini manusia dapat direduksi menjadi data produksi. Dahulu tubuh manusia diperas oleh mesin pabrik. Kini perhatian, perilaku, wajah, suara, emosi, dan jejak digital manusia diekstraksi oleh mesin komputasi.
Karena itu, perdebatan tentang AI tidak boleh berhenti pada kekaguman teknis. AI sering dibayangkan seolah-olah hidup di awan, bersih, ringan, tanpa tubuh, tanpa bumi. Padahal kecerdasan buatan berdiri di atas infrastruktur yang sangat material: tambang mineral, logam tanah jarang, listrik, air, pusat data, kabel bawah laut, tenaga kerja pelabel data, moderator konten, peneliti, programmer, investor, dan jaringan logistik global. Di balik jawaban cepat sebuah mesin, ada bumi yang digali, energi yang dibakar, pekerja yang disembunyikan, dan data manusia yang dikumpulkan dalam skala raksasa. AI bukan hanya kecerdasan; ia adalah peta kekuasaan yang membentang dari tambang hingga ruang rapat korporasi teknologi.
Di titik ini, kritik terhadap AI harus lebih jujur. Kita sering terlalu mudah menyebutnya “kecerdasan”, seolah-olah ia hanya perkara kemampuan berpikir. Padahal AI juga merupakan sistem ekstraksi. Ia mengambil dari bumi, dari tubuh pekerja, dari perilaku pengguna, dari arsip budaya manusia, dari percakapan, gambar, tulisan, suara, dan kebiasaan sehari-hari. Ia mengubah kehidupan menjadi bahan baku. Bahkan emosi manusia dapat diklasifikasi, diprediksi, dan dimonetisasi. Apa yang tampak sebagai kemajuan digital ternyata tidak pernah benar-benar terlepas dari pertanyaan klasik tentang siapa yang bekerja, siapa yang memiliki, siapa yang menikmati keuntungan, dan siapa yang menanggung biaya tersembunyi.
Inilah sebabnya AI harus dibaca sebagai persoalan geopolitik. Ia bukan sekadar aplikasi yang membantu menulis, menggambar, menerjemahkan, atau menganalisis. Ia adalah struktur kuasa global. Siapa yang memiliki data, menguasai chip, membangun pusat data, mengendalikan cloud, memiliki model dasar, menentukan standar keamanan, mengatur pasar, dan membentuk regulasi, ia akan memiliki posisi strategis dalam abad ke-21. Jika dahulu dominasi global dibangun melalui laut, minyak, koloni, dan jalur perdagangan, kini dominasi juga dibangun melalui infrastruktur digital. Kolonialisme masa depan mungkin tidak lagi selalu menanam bendera di tanah orang lain; ia cukup menanam ketergantungan dalam sistem operasi, platform, algoritma, dan pusat data.
Pertarungan ini tampak dalam tiga model kekuasaan digital besar. Ada model pasar Amerika Serikat, yang memberi ruang luas kepada inovasi korporasi dan modal ventura, tetapi sering melahirkan konsentrasi kekuasaan pada segelintir perusahaan teknologi. Ada model negara China, yang menempatkan teknologi dalam kerangka kekuasaan negara, keamanan, industrialisasi, dan kontrol sosial. Ada pula model Uni Eropa, yang mencoba membangun tata kelola berbasis hak, privasi, dan regulasi. Tiga model ini bukan sekadar pilihan teknis. Ia adalah tiga visi tentang manusia, pasar, negara, kebebasan, dan kontrol. Negara-negara di luar pusat kekuasaan digital dunia akhirnya berhadapan dengan pertanyaan keras: apakah mereka akan menjadi subjek berdaulat, atau hanya menjadi pasar, pengguna, sumber data, dan wilayah eksperimen?

