Halal Bi Halal Dengan Para Syahid Agung 1
I. Panggilan dari Kedalaman
Wahai Sayyid — engkau yang telah memilih bintang di atas segala mahkota dunia, yang telah melepas selendang kenyamanan dan mengenakan jubah darah sebagai pakaian paling agung yang pernah dipakai manusia —
Kami datang dengan tangan kosong. Bukan dengan pedang. Bukan dengan syair kemenangan. Hanya dengan dada yang retak dan dahi yang tertunduk di hadapan wajahmu yang bercahaya meski telah berpulang ke haribaan-Nya.
II. Hutang yang Tak Terbayar
Kau tangisi Imad Mughniyah — yang merintis jalan dalam kegelapan, dua puluh enam tahun membangun benteng hingga malam Damaskus menelannya — dan engkau tahu: perjuangan tak boleh berhenti hanya karena satu bintang padam.
Kau tangisi Qasim Soleimani — di tepi fajar Jumada al-Ula yang membeku, bersamanya Abu Mahdi Al-Muhandis — dua sayap yang ditembak sekaligus di langit Baghdad, airmatamu adalah sungai yang mengalir menuju Karbala, menyatu dengan darah Husain yang tak pernah kering di bumi.
Kau tangisi Razi Mousavi — yang gugur diam-diam di bumi Syam, penjaga jalur yang tak pernah meminta namanya disebut di mimbar-mimbar — namun Engkau, ya Rabb, menyebutnya di hadapan para malaikat.
Kau tangisi Fuad Syukr — tiang Hezbollah yang kokoh, yang jatuh di Beirut sebelum sempat melihat fajar yang diperjuangkannya tiba.
Kau tangisi Hasan Nasrallah — sahabat karib yang paling setia, tiga puluh tahun berdiri bersamamu di garis yang paling berbahaya — suaranya menggemakan langit Selatan Lubnan, kemudian sunyi — sunyi yang lebih keras dari segala pidato — karena ia telah berpindah mimbar ke tempat yang lebih agung.
Bersamanya Ibrahim Aqil gugur, bersamanya Hasyim Safieddine lenyap — satu rombongan syahid yang berangkat hampir bersama-sama, seolah surga memesan mereka dalam satu kafilah.
Kau tangisi Ismail Haniyeh — di fajar Teheran yang seharusnya aman, di tanah yang ia percaya sebagai rumah kedua — namun bahkan di sana tangan-tangan kegelapan menjangkaunya — dan ia pergi dalam senyum yang hanya dimiliki mereka yang sudah lama bersiap.
Kau tangisi Muhammad Deif — arsitek perlawanan yang tak pernah tertangkap, hingga akhirnya langit Gaza menjadi tempat peristirahatan terakhirnya — setelah puluhan tahun menjadi mimpi buruk musuh.
Kau tangisi Yahya Sinwar — yang memilih tinggal bersama rakyatnya hingga peluru terakhir, yang tidak lari ketika semua jalan pelarian terbuka — karena ia tahu bahwa pemimpin sejati adalah yang terakhir meninggalkan medan.
Satu demi satu mereka gugur — dalam puluhan tahun yang panjang, nama demi nama yang kau hafal bukan dari dokumen — melainkan dari persahabatan yang nyata, dari pertemuan yang hangat, dari rencana-rencana yang dibangun bersama di atas meja yang sama —
Dan engkau — dengan dada penuh luka — tetap menjadi benteng bagi mereka yang masih berdiri.
Sedang kami? Kami bahkan tak mampu berdiri tegak di hadapan cermin diri kami sendiri.

