Halal Bi Halal Dengan Para Syahid Agung 2
III. Syahadah di Bulan Tersuci
Betapa agung cara-Mu memanggil kekasih-Mu, ya Rabb —
Di bulan yang paling Engkau cintai, di hari Syahadah Ummul Mukminin, saat bibirnya masih basah dengan ayat-Mu, saat lambungnya masih kosong karena cinta-Mu —
Engkau panggil ia pulang bukan dengan kehinaan bukan dengan kelalaian melainkan dalam wudhu yang sempurna, dalam sujud yang belum sempat selesai —
Sungguh sebaik-baik pamitan adalah pamitan para kekasih Tuhan.
Iqbal pernah berkata: Bangkit dan nyalakan dirimu — karena nyala itulah satu-satunya bekal yang diterima di hadapan Sang Maha Nyala.
Engkau telah menyala, Sayyid — hingga habis — hingga tak tersisa abu pun yang tidak berbau kasturi Karbala.
IV. Akhlak yang Mempermalukan Kami
Enam puluh tahun — enam puluh tahun, Sayyid — tak sekalipun kau perintahkan istrimu, tangan yang paling kau sayangi untuk menuang teh bagimu.
Bukan karena engkau tak suka teh. Bukan karena engkau tak membutuhkan kehangatan.
Melainkan karena engkau tahu bahwa cinta sejati adalah pelayanan — bukan tuan yang memerintah, melainkan hamba yang mendahulukan.
Demikianlah engkau mengajarkan apa yang tak mampu diajarkan seribu buku tentang akhlak — dengan sebuah cangkir teh yang tidak pernah kau minta.
Dan kami — kami yang mengaku mencintaimu, mencintai Nabimu, mencintai Husainmu — masih sibuk menghitung apa yang berhak kami terima, dan lupa menghitung apa yang belum kami berikan.
Maafkan kami, Sayyid. Maafkan kami — beribu maaf yang datang terlambat seperti hujan yang turun setelah ladang terbakar.

