Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Halal Bi Halal Dengan Para Syahid Agung 3

0 Pendapat 00.0 / 5

V. Wasiat yang Kami Permalukan 

Kau wasiatkan: Jaga lisanmu — karena satu kata yang salah dapat meruntuhkan apa yang dibangun seratus tahun perjuangan. 

Dan kami — kami yang mengangkat namamu sebagai panji — masih saling melukai dengan kata, masih saling memotong dengan hujah, masih berlomba membuktikan siapa yang paling benar sambil membiarkan ukhuwwah tergeletak berdarah di jalanan. 

Kau wasiatkan akhlak — dan kami hanya mencatat wasiat itu lalu melipatnya rapi di sudut lemari kenangan. 

VI. Halal Bi Halal 

Maka hari ini, Sayyid — di hari Fitri yang semestinya membebaskan — kami datang bukan untuk merayakan, melainkan untuk meminta: 

Halalkan — semua kelalaian kami yang tak terhitung, semua janji yang kami ucap di bibir lalu kami telan kembali dalam kemalasan, semua tangis yang kami tumpahkan untuk mu namun tak mengubah satu pun cara kami hidup keesokan harinya. 

Halalkan — karena kami tahu engkau telah memaafkan bahkan sebelum kami meminta, sebagaimana guru yang agung selalu memaafkan muridnya yang lambat belajar. 

Halalkan — agar kami punya keberanian untuk tidak sekadar menangisi syahadahmu, melainkan untuk mulai hidup sedikit lebih menyerupai akhlakmu — 

Dimulai dari cangkir teh itu. Dimulai dari kata yang kita tahan. Dimulai dari satu langkah kecil menuju manusia yang layak menyebut namamu. 

VII. Doa Penutup 

Ya Allah — sampaikan salam kami kepada mereka yang telah mendahului: 

Kepada Imad Mughniyah, kepada Qasim Soleimani dan Abu Mahdi Al-Muhandis, kepada Razi Mousavi, kepada Fuad Syukr dan Ibrahim Aqil, kepada Hasyim Safieddine, kepada Hasan Nasrallah, kepada Ismail Haniyeh, kepada Muhammad Deif, kepada Yahya Sinwar — 

Kepada istri beliau, kepada keluarga beliau, kepada seluruh kafilah syahid yang namanya hanya diketahui oleh-Mu dan oleh bumi yang menyimpan darah mereka — 

Dan kepada beliau — Sayyid Asy-Syahid kami — 

Katakan bahwa kami masih di sini, mencoba — dengan segala kelemahan kami — untuk tidak mempermalukan darah yang telah ditumpahkan. 

Katakan bahwa cangkir teh itu mulai kami ingat. 

Katakan bahwa lisan kami mulai kami jaga — meski belum sempurna — meski masih sering gagal. 

Katakan — bahwa kami rindu. 

Ya Husain — Ya Sayyid — Ya Syahid — 

Labbayk. 

Mazar KH Jalaluddin Rakhmat asy Syarif, 12 April 2026, 23 Syawal 1447H