Frankl: kebebasan terakhir dan makna dalam derita
Hurr bin Yazid al-Riyahi adalah panglima pasukan terdepan yang semula menghadang jalan Husain. Tetapi pada pagi Asyura, sesuatu bergetar dalam dirinya. Ia memilih antara surga dan neraka, lalu memacu kudanya menyeberang dari barisan penindas ke barisan yang tertindas, dan Husain menyambutnya dengan menegaskan bahwa ia memang merdeka sebagaimana ibunya menamainya. Viktor Frankl, yang menyusun logoterapi dari pengalamannya di kamp maut, menulis bahwa segala sesuatu dapat dirampas dari manusia kecuali satu, yaitu kebebasan terakhir untuk memilih sikap dalam keadaan apa pun, dan bahwa derita yang dipikul demi makna berhenti menjadi derita. Seluruh kemah Husain memilih makna kematian di atas keselamatan. Pilihan itu telah ditegaskan sejak surat ringkas yang beliau tulis kepada Bani Hasyim.
(1) Teks Arab (sesuai sumber)
بسم الله الرحمن الرحيم، من الحسين بن عليّ إلى بني هاشم، أمّا بعد، فإنّه من لحق بي استشهد، ومن تخلّف عنّي لم يبلغ الفتح والسلام
(2) Teks Arab berharakat
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنَ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ إِلَى بَنِي هَاشِمٍ، أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّهُ مَنْ لَحِقَ بِي اسْتُشْهِدَ، وَمَنْ تَخَلَّفَ عَنِّي لَمْ يَبْلُغِ الْفَتْحَ، وَالسَّلَامُ
(3) Terjemahan
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dari Husain bin Ali kepada Bani Hasyim. Amma ba’du: sesungguhnya siapa yang menyusulku akan gugur sebagai syahid, dan siapa yang tertinggal dariku tidak akan mencapai kemenangan. Wassalam.
(4) Sumber
الطبريّ ابن رستم: دلائل الإمامة، ص 188.
Transliterasi: al-Thabari Ibn Rustam, Dala’il al-Imamah, halaman 188.

