Camus: pemberontak yang berkata tidak, dan dengan itu berkata kita
Albert Camus menulis bahwa pemberontak adalah manusia yang berkata tidak, tetapi dalam penolakannya ia sekaligus menegaskan sebuah ya, yaitu nilai yang ia anggap lebih berharga daripada nyawanya. Pemberontak Camus tidak bangkit demi merebut kuasa, melainkan karena ada garis yang tidak boleh dilanggar atas martabat manusia. Begitu ia berkata tidak demi dirinya, ia menemukan bahwa ia berkata tidak demi semua orang. Husain berkata tidak. Ia bahkan sampai akhir tidak menyerang lebih dahulu. Penolakannya atas penghinaan terhadap martabat manusia ia rumuskan dalam kalimat yang lintas abad.
(1) Teks Arab (sesuai sumber)
ألا إنّ الدعيّ ابن الدعيّ قد ركز بين اثنتين بين السلّة والذلّة وهيهات منّا الذلّة يأبى الله ذلك لنا ورسوله والمؤمنون
(2) Teks Arab berharakat
أَلَا إِنَّ الدَّعِيَّ ابْنَ الدَّعِيِّ قَدْ رَكَزَ بَيْنَ اثْنَتَيْنِ بَيْنَ السَّلَّةِ وَالذِّلَّةِ، وَهَيْهَاتَ مِنَّا الذِّلَّةُ، يَأْبَى اللهُ ذَلِكَ لَنَا وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ
(3) Terjemahan
Ketahuilah, sesungguhnya si anak tak sah keturunan dari yang tak sah itu telah memaksaku memilih di antara dua hal, antara menghunus pedang (kematian) dan kehinaan. Sungguh jauh, kehinaan itu dari kami. Allah enggan menimpakannya atas kami, demikian pula Rasul-Nya dan kaum mukmin.
(4) Sumber
الأمين السيّد محسن: لواعج الأشجان، ص 131.
Transliterasi: al-Amin al-Sayyid Muhsin, Lawa’ij al-Ashjan, halaman 131.
Karbala adalah pemberontakan dalam pengertian Camus, sebuah ya yang diucapkan melalui tidak, sebuah solidaritas yang melampaui satu rombongan kecil dan merangkul siapa saja yang pernah ditindas. Ketika kita menangisi Husain, kita sebenarnya merasakan kita ada yang dimaksud Camus.

