Hume: simpati yang menyatukan hati lintas zaman
Mengapa kisah ini mampu membuat manusia di mana pun meneteskan air mata? David Hume menjawabnya dengan satu kata, yaitu simpati. Bagi Hume, moralitas tidak lahir dari penalaran dingin, sebab akal seharusnya menjadi pelayan bagi rasa, dan ada mekanisme dalam jiwa yang membuat perasaan menular dari satu hati ke hati lain. Ketika kita melihat penderitaan yang tak bersalah dan keteguhan yang mulia, simpati menyala dengan sendirinya. Karbala seakan dirancang oleh sejarah untuk menyalakan simpati itu sampai puncaknya. Itulah sebabnya majelis duka Muharram bekerja begitu kuat, dan itulah sebabnya tokoh di luar Islam pun terguncang oleh kisah ini. Simpati Humean tidak mengenal batas iman. Ia hanya mengenal hati manusia.

