Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Mulla Sadra: kematian sebagai puncak keberadaan

0 Pendapat 00.0 / 5

Husain memandang kematian sebagai kebahagiaan. Bagaimana mungkin? Mulla Sadra, dengan hikmah muta’aliyahnya, mengajarkan keutamaan wujud, bahwa yang sungguh nyata adalah eksistensi yang bertingkat-tingkat dalam intensitasnya, serta gerak substansial, bahwa jiwa terus bergerak dan menguat. Dalam kerangka ini, kematian bukan pemadaman, melainkan perpindahan ke derajat wujud yang lebih pekat. Bagi Sadra, jiwa Husain telah begitu menguat oleh cinta dan makrifat sehingga kematian tubuh baginya adalah pendakian. Dunia memblokade air bagi Husain, tetapi jiwanya telah sampai pada mata air wujud yang tak pernah kering. Tempat para pencinta yang syahid itu bahkan telah disebut jauh sebelumnya oleh Amirul Mukminin Ali ketika melewati Karbala.

(1) Teks Arab (sesuai sumber)

ومصارع عشّاق شهداء، لا يسبقهم من كان قبلهم، ولا يلحقهم من بعدهم

(2) Teks Arab berharakat

وَمَصَارِعُ عُشَّاقٍ شُهَدَاءَ، لَا يَسْبِقُهُمْ مَنْ كَانَ قَبْلَهُمْ، وَلَا يَلْحَقُهُمْ مَنْ بَعْدَهُمْ

(3) Terjemahan

Dan inilah tempat-tempat gugurnya para pencinta yang syahid, tiada yang mendahului keutamaan mereka dari orang-orang sebelum mereka, dan tiada pula yang menyusulnya dari orang-orang sesudah mereka.

(4) Sumber

المجلسيّ: بحار الأنوار، ج 41، ص 295.

Transliterasi: al-Majlisi, Bihar al-Anwar, jilid 41, halaman 295.