Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Khamenei: ishlah, basirah, dan hukum Asyura yang berulang

0 Pendapat 00.0 / 5

Lima belas lensa di atas menyoroti reduksi manusia pada bidang individu. Khamenei menambahkan bidang yang lain, yaitu bidang masyarakat dan sejarah. Ia membaca Asyura bukan sebagai ratapan, melainkan sebagai kerja analitis, dan membedakan dua lapis pembacaan. Pelajaran (durus) mengajarkan apa yang harus dilakukan, sedangkan moral (ibar) menjelaskan bagaimana sebuah masyarakat bisa runtuh. Lapis kedua ia nilai lebih utama.

Kutipan (Khamenei):
“Moral Asyura lebih penting daripada pelajaran Asyura.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 112.

Pertanyaan pokoknya menggugah. Bagaimana masyarakat yang dibangun Nabi bisa membunuh cucu Nabi hanya lima puluh tahun kemudian? Jawabannya tidak terletak pada satu tiran, melainkan pada perilaku elite dan kelengahan massa. Khamenei membedakan keduanya dengan tegas.

Kutipan (Khamenei):
“Ada perbedaan antara elite dan massa. Jika elite menyimpang, mereka termasuk golongan yang dimurkai Allah; sedangkan jika massa menyimpang, mereka termasuk golongan yang tersesat.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 88.

Tipologi ini bukan tipologi kelas. Elite dan massa ditentukan oleh kesadaran, bukan oleh gelar atau kekayaan. Karena itu setiap orang berpeluang menjadi elite, dan tanggung jawab bersifat universal.

Kutipan (Khamenei):
“Seorang sopir truk justru termasuk golongan elite, sementara ulama terhormat dan imam salat itu termasuk golongan massa. Meski hanya seorang sopir, ia mengetahui hakikat berbagai hal, sedangkan sang ulama justru lengah.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 115.

Faktor penentunya adalah basirah. Tanpa basirah, kesalehan tidak menjamin kebenaran, sebab sebagian pendukung kebatilan justru tampak saleh dan zuhud.

Kutipan (Khamenei):
“Basirah, yaitu pandangan batin, adalah hal terpenting saat membela agama. Mereka yang tidak memiliki basirah cepat tertipu dan terpikat ke pihak kebatilan tanpa menyadarinya.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 67.

Penyakit elite adalah cinta dunia, yang merupakan lawan langsung dari penguasaan diri Imam Husain. Puncaknya tampak pada Umar bin Sa’d, yang menukar Imam Husain dengan kekuasaan atas Rayy.

Kutipan (Khamenei):
“Syarat untuk mengangkat Umar bin Sa’d menjadi gubernur adalah ia memerangi Imam al-Husain. Seandainya seluruh dunia ditawarkan kepada seseorang, ia tidak boleh sampai bermuka masam terhadap Imam al-Husain.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 97.

Karena pola itu berulang, Karbala tidak terkurung ruang dan waktu. Di sinilah rumusan setiap tanah adalah Karbala memperoleh dasarnya.

Kutipan (Khamenei):
“Karbala membentang sepanjang keabadian. Ia tidak terbatas pada ruang geografis seluas beberapa ratus meter. Sejarah sedang berulang hari ini, ketika satu dunia kezaliman dan arogansi berdiri menghadang Republik Islam.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 33.

Pembacaan ini melengkapi telaah lima belas pemikir di atas, bukan menggantikannya. Jika para filsuf menyoroti reduksi manusia menjadi objek pada bidang individu, Khamenei menyoroti reduksi yang sama pada bidang kolektif, yaitu pengosongan masyarakat dari nilai dan hilangnya basirah. Ishlah adalah penolakan atas reduksi itu pada tingkat umat, dan basirah adalah daya yang melihat kebenaran yang tak boleh direduksi. Dengan begitu benang merah yang sama, yaitu manusia yang menolak direduksi, terbukti bekerja sekaligus pada diri individu dan pada tubuh masyarakat.