Situs Al Imamain Al Hasanain Pusat Kajian Pemikiran dan Budaya Islam

Temuan: Benang Merah Manusia yang Menolak Direduksi

0 Pendapat 00.0 / 5

Lima belas pemikir memandang Karbala dari sudut yang berbeda, tetapi satu kesaksian terus berulang. Foucault melihat keberanian mengatakan yang benar. Al-Farabi melihat kota utama melawan kota penindas. Habermas melihat kata yang menolak dipaksa. Fanon melihat martabat yang direbut kembali. Arendt melihat kekuasaan sejati pada yang sedikit. Levinas melihat wajah yang memerintah jangan membunuh. Weil melihat jiwa yang menolak menjadi benda. Buber melihat dunia Aku-Engkau. Heidegger melihat keberadaan yang otentik. Frankl melihat kebebasan terakhir dan makna dalam derita. Camus melihat pemberontakan yang melahirkan solidaritas. Hume melihat simpati yang menyatukan hati. Gadamer melihat percakapan yang tak selesai. Derrida melihat keadilan yang melampaui hukum. Mulla Sadra melihat kematian sebagai puncak keberadaan.

Tariklah benang dari semua titik itu, dan ujungnya bertemu pada satu kalimat. Manusia tidak boleh direduksi menjadi objek. Ia bukan Itu, bukan benda, bukan instrumen, bukan angka. Ia membawa wajah yang memerintah, kebebasan yang tak bisa dipaksa, makna yang tak bisa dipadamkan derita, dan keberadaan yang oleh maut justru dipekatkan, bukan dihapuskan. Inilah hipotesis kedua yang terbukti melalui konvergensi lintas tradisi. Dan karena konvergensi itu lintas budaya dan lintas zaman, hipotesis ketiga pun memperoleh dukungan, yaitu bahwa benang merah ini berpijak pada kenyataan, bukan pada selera satu kelompok.

Asyura menyentuh jantung kemanusiaan karena di Karbala kebenaran ini didramakan sampai batas paling ekstrem. Sebuah imperium mengerahkan kekuatan total, yaitu pasukan, air, takhta, hukum, dan legitimasi resmi. Sebuah rombongan kecil menjawab dengan martabat total, sampai-sampai air pun ditolak bagi seorang bayi. Lalu sejarah memutuskan. Yazid memiliki segalanya dan kehilangan hati manusia selamanya. Husain kehilangan segalanya dan memenangkan hati manusia untuk selamanya. Pembalikan itulah yang menyentuh kita, sebab ia membuktikan bahwa pada akhirnya kekuatan kalah oleh makna, dan benda kalah oleh wajah.

Benang merah ini bekerja pada dua bidang sekaligus. Pada bidang individu, lima belas pemikir menunjukkan manusia yang menolak diubah menjadi objek. Pada bidang kolektif, pembacaan Khamenei menunjukkan masyarakat yang menolak dikosongkan dari nilai. Jembatan keduanya adalah basirah, yaitu daya yang melihat manusia dan kebenaran yang tak boleh direduksi, sedangkan tujuannya adalah ishlah, yaitu memulihkan apa yang hendak direduksi. Inilah isi hipotesis keempat dan kelima, dan keduanya tidak menarik diri dari hipotesis kedua, melainkan memperluasnya. Karena pola ini berulang lintas zaman, maka setiap tanah adalah Karbala, dan yang dipertaruhkan bukan satu golongan.

Kutipan (Khamenei):
“Pertempuran al-Taff tidak menyelamatkan satu umat atau satu golongan; ia menyelamatkan seluruh kemanusiaan.”
— Khamenei, ‘Ashura’ in the Thought of Imam Khamenei, hlm. 150.

Maka kemenangan sejati di Karbala bukanlah kemenangan sesaat, melainkan kemenangan pemikiran dan jalan yang menguat seiring waktu. Itulah sebabnya, baik pada diri manusia maupun pada nasib masyarakat, Asyura terus membaca setiap zaman dan menuntut jawabannya.