Asyura dan Jantung Kemanusiaan
Karbala tidak berakhir di padang itu. Ia dibawa keluar oleh seorang saksi. Zainab binti Ali, saudari Husain, selamat dari pembunuhan dan ditawan. Di Kufah dan di istana Damaskus, di hadapan para penguasa, ia berdiri dan berbicara. Ketika Ibnu Ziyad bermaksud merendahkannya dengan mengungkit nasib keluarganya, ia menjawab dengan kalimat yang mengubah kekalahan menjadi kemenangan abadi, ma ra’aytu illa jamila, aku tidak melihat apa pun kecuali keindahan.
Inilah saksi dalam pengertian Paul Ricoeur, yang membawa peristiwa menjadi kisah, dan kisah menjadi identitas yang terus hidup. Zainab mengangkut Karbala dari medan ke ruang bicara, dari darah ke makna, dari satu subuh ke setiap Muharram sepanjang sejarah. Para filsuf dengan susah payah menjelaskan dengan istilah-istilah mereka apa yang Zainab lihat dengan jernih dalam satu pandangan, yaitu keindahan kemanusiaan yang menolak direduksi. Zainab adalah pemilik basirah yang sesungguhnya. Ia melihat keindahan di tengah reruntuhan, lalu meneruskan ishlah itu dengan kesaksiannya, sehingga pekerjaan Karbala tidak berhenti pada kematian.
Maka membaca Asyura bersama para filsuf akhirnya membawa kita kembali ke hati yang paling sederhana, bukan untuk mengagumi sebuah peristiwa jauh, tetapi untuk ditanyai olehnya. Di hadapan siapa kita berbaiat. Air mana yang kita tahan dari sesama. Wajah siapa yang kita biarkan terluka. Apakah kita memandang dengan basirah, atau kita larut sebagai massa yang lengah. Karbala memandang kita, dan menunggu jawaban kita.

