Ketika Kekuasaan Membungkam Para Pembawa Nurani
Rumi tidak hanya mengkritik penguasa, tetapi juga menunjukkan siapa yang pertama kali menjadi korban sistem yang rusak: mereka yang jujur, arif, dan membawa nurani.
«چون كه حكم اندر كف رندان بود
لاجرم ذو النون در زندان بود…
چون قلم در دست غدّارى بود
بى گمان منصور بردارى بود
چون سفيهان راست اين كار وكيا
لازم آمد يقتلون الانبيا…
يوسفان از مكر اخوان در چه اند
كز حسد يوسف به گركان مى دهند»
Ketika kekuasaan berada di tangan orang-orang licik,
tak heran jika Dzu al-Nun pun harus mendekam dalam penjara.
Saat pena dipegang oleh para pengkhianat,
jangan heran bila Mansur berakhir di tiang gantungan.
Ketika urusan dan kuasa jatuh ke tangan orang-orang bodoh,
maka pembunuhan para nabi pun dianggap wajar.
Banyak Yusuf terperosok dalam sumur karena tipu daya saudara-saudara yang iri,
yang menyerahkan Yusuf kepada para serigala karena dengki.
(Rumi, Masnawi, jilid 2, bait: 1393, 1398, 1399, 1406)
Di sini Rumi membongkar mekanisme sosial kekuasaan zalim: kebenaran dibungkam, kebijaksanaan dipenjara, dan kesucian disingkirkan. Sebelum lubang kezaliman menelan sang penguasa, ia lebih dulu menelan Yusuf-Yusuf, yang seharusnya menjadi cahaya bagi masyarakat.

